Ilustrasi Kekeringan. DOK Medcom
Ilustrasi Kekeringan. DOK Medcom

Daftar 10 Wilayah Diprediksi Alami Puncak Musim Kemarau September 2026

Bramcov Stivens Situmeang • 27 Agustus 2026 19:02
Ringkasnya gini..
  • BMKG memprediksi puncak musim kemarau bertahap mencapai 169 Zona Musim (25,41% wilayah Indonesia) pada September 2026.
  • El Nino berkategori moderat hingga kuat diperkirakan bertahan sampai awal 2027 dan memperparah kekeringan hingga Oktober.
  • BMKG mengimbau penyesuaian jadwal tanam, efisiensi air bendungan, serta antisipasi karhutla dan infeksi saluran pernapasan.
Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia akan terjadi bertahap hingga September 2026. Pada periode tersebut, sebanyak 169 Zona Musim atau ZOM yang setara 25,41 persen luas daratan diperkirakan mengalami puncak kemarau.
 
Kondisi ini merupakan bagian dari pola kemarau yang berlangsung sejak Juli dan terus meluas hingga Agustus sebelum akhirnya kembali menyempit pada September. Karena itu, masyarakat di berbagai wilayah diminta mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak yang ditimbulkan.
 
Seiring dengan hal tersebut, BMKG juga merinci perkembangan puncak musim kemarau sepanjang tahun ini. Simak selengkapnya dikutip dari laman bmkg.go.id dan metrotvnews.com

Perkembangan Puncak Kemarau 2026

Pada Juli 2026, puncak kemarau tercatat terjadi di 83 ZOM atau sekitar 12,26 persen luas daratan Indonesia. Kemudian, memasuki Agustus 2026, cakupannya meningkat cukup signifikan menjadi 369 ZOM atau 48,84 persen wilayah.

Selanjutnya, pada September 2026, jumlah wilayah yang mengalami puncak kemarau diperkirakan mencapai 169 ZOM atau sekitar 25,41 persen. Dengan pola ini, terlihat bahwa puncak kemarau terjadi secara bertahap dengan distribusi wilayah yang berbeda setiap bulan.
 
Setelah mengetahui pola pergerakan musim kemarau. Penting untuk kamu dalam memahami wilayah mana saja yang terdampak pada periode September.

10 Wilayah yang Diprediksi Alami Puncak Kemarau September 2026

Berdasarkan pemantauan BMKG, berikut wilayah yang diperkirakan mengalami puncak kemarau pada September 2026:
  1. Kepulauan Bangka Belitung
  2. Sebagian besar Sumatra Selatan
  3. Lampung
  4. Sebagian kecil Pulau Jawa
  5. Sebagian besar Nusa Tenggara Timur
  6. Kalimantan bagian selatan
  7. Sebagian besar Pulau Sulawesi
  8. Sebagian besar Maluku Utara
  9. Sebagian Maluku
  10. Papua Pegunungan bagian tengah
Selain memetakan wilayah terdampak. BMKG mengingatkan adanya faktor lain yang dapat memperparah kondisi kemarau.

Dampak El Nino Perlu Diwaspadai

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan musim kemarau tahun ini berpotensi lebih kering dan berlangsung lebih panjang dari kondisi normal. Hal ini berkaitan dengan fenomena El Nino yang diprediksi masih bertahan hingga awal 2027.
 
"BMKG memprediksi fenomena El Nino akan terus bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen, namun demikian dampaknya untuk wilayah Indonesia ketika bertemu periode Musim Kemarau hingga pertengahan bulan Oktober," ujar Ardhasena dikutip dari laman bmkg.go.id, Kamis, 27 Agustus 2026.
 
Dampak fenomena ini diprediksi akan semakin terasa saat memasuki periode puncak kemarau hingga pertengahan Oktober mendatang. Karena itu, berbagai sektor diimbau segera menyiapkan langkah antisipasi agar dampak yang ditimbulkan dapat diminimalkan.

Imbauan untuk Berbagai Sektor

Dalam sektor pangan, BMKG menyarankan penyesuaian jadwal tanam serta pemilihan varietas yang lebih tahan kekeringan dan hemat air. Selain itu, tanaman dengan siklus tanam lebih singkat juga dinilai lebih adaptif terhadap kondisi kemarau.
 
Sementara itu, sektor sumber daya air diminta meningkatkan pengelolaan waduk serta memperbaiki jaringan distribusi agar kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi. Di sisi lain, sektor energi juga perlu menjaga ketersediaan air bendungan guna mendukung operasional pembangkit listrik tenaga air.
 
Tidak hanya itu, pemerintah daerah juga diimbau menyiapkan respons cepat terhadap penurunan kualitas udara yang berpotensi memicu infeksi saluran pernapasan akut. Kondisi kering juga meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan, sehingga langkah pencegahan terus diperkuat termasuk melalui Operasi Modifikasi Cuaca.

Imbauan untuk Masyarakat

Sebagai langkah lanjutan, masyarakat dapat memperoleh informasi yang lebih spesifik sesuai wilayah masing-masing dengan menghubungi kantor BMKG terdekat. Selain itu, BMKG juga mengingatkan agar selalu merujuk pada kanal resmi untuk mendapatkan informasi cuaca, iklim, dan gempa bumi.
 
Dengan begitu, masyarakat diharapkan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi dan dapat mengambil langkah antisipasi secara tepat.
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan