Ilustrasi hujan. Medcom.id
Ilustrasi hujan. Medcom.id

Peneliti Iklim UGM Ungkap Faktor yang Memengaruhi Tingginya Curah Hujan

Pendidikan hujan cuaca ekstrem perubahan iklim UGM Curah hujan ekstrem
Renatha Swasty • 20 April 2022 21:07
Jakarta: Tren peningkatan frekuensi dan intensitas curah hujan ekstrem di Indonesia telah terjadi dalam beberapa dekade terakhir seiring peningkatan suhu. Kondisi ini menuntut masyarakat dan banyak pihak beradaptasi dengan perubahan tersebut agar bisa mengurangi risiko bencana.
 
Peneliti sekaligus pengamat iklim dan lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM) Emilya Nurjani mengatakan setahun terakhir Indonesia memang mengalami La Nina sehingga curah hujan di wilayah sebagian Indonesia cenderung lebih basah sepanjang 2021. Selain itu, di awal 2022 Indonesia juga mengalami monsoon Asia dan ITCZ yang meningkatkan curah hujan.
 
“Beberapa waktu lalu ada siklon di perairan Australia yang juga berpengaruh terhadap curah hujan di wilayah Indonesia bagian selatan," ujar Emilya dikutip dari laman ugm.ac.id, Rabu, 20 April 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Emilya menjelaskan untuk mengukur kondisi tersebut apakah masih dalam kategori normal, perlu membandingkan data curah hujan bulanan pada 1980-2010 sebagai tahun baku iklim menurut WMO. Berdasarkan pembandingan tersebut di sebagian wilayah Jawa mengalami pertambahan sebesar 40-120 mm dalam 20 tahun.
 
Bahkan, lebih jauh untuk pulau Jawa dengan mempergunakan analisis persentil memperlihatkan banyaknya wilayah yang mengalami peningkatan curah hujan harian. Metode ini tentunya berbeda dengan penentuan hujan ekstrem BMKG (fixed threshold).
 
“Hasil analisis memperlihatkan perkotaan di pulau Jawa mengalami lebih banyak frekuensi hujan ekstrem dibandingkan dengan daerah perdesaan," papar dia.
 
Emilya menjelaskan curah hujan di suatu wilayah secara geografis dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti elevasi atau ketinggian tempat/wilayah, jarak dari sumber air, barisan pegunungan, serta luasan daratan dan perairan (secara lokal). Ada juga faktor regional, seperti Monsoon, ENSO, DMI,  Jullian-Madden Oscillation, juga Inter Trade Convergen Zone (ITCZ), dan Siklom Tropis.
 
Faktor regional ini sering menimbulkan hujan tinggi/lebat bahkan hujan ekstrem di Indonesia. Beberapa kejadian hujan ekstrem di Indonesia berhubungan dengan siklon tropis (Dahlia, Cempaka, Seroja) meningkatkan hujan hingga 340 mm/hari. Emilya menuturkan curah hujan sebesar itu biasanya turun dalam 1 bulan.
 
Dia juga menjelaskan fenomena regional yang berpengaruh terhadap hujan mempunyai periode ulang yang semakin sering. Hal ini diperlihatkan dengan durasi waktu yang lebih pendek dibandingkan dengan 20 tahun yang lalu.
 
“Seperti ENSO, dulu periode kejadian sekitar 5, 7, 9 tahunan, sekarang lebih singkat 3, 5 tahunan. Hal ini ditengarai oleh perubahan iklim yang di sebabkan oleh pemanasan global yang melanda seluruh dunia," tutur dia.
 
Emilya mengungkapkan secara lokal suhu udara tinggi akan menyebabkan peningkatan evaporasi/evapotranspirasi dan lingkungan atmosfer yang sesuai akan meningkatkan pembentukan awan-awan vertikal yang berpotensi menghasilkan hujan yang cukup tinggi dalam waktu yang singkat. Curah hujan ekstrem yang berlangsung lama biasanya akan menimbulkan genangan kemudian banjir di daerah dataran rendah atau cekungan, dan di daerah sekitar perbukitan atau pergunungan berpotensi menimbulkan longsor.
 
Sementara itu, di daerah perbukitan atau pegunungan yang rusak terkadang dapat menimbulkan banjir bandang. Dampak yang ditimbulkan tentu merugikan masyarakat baik harta benda bahkan jiwa serta menimbulkan gangguan kesehatan.
 
“Karenanya masyarakat perlu diedukasi tentang pola hujan yang mulai mengalami perubahan. Karena perubahan ini tidak hanya dirasakan masyarakat tertentu tetapi juga semua masyarakat, misal di bidang pertanian dapat menimbulkan kerusakan padi sehingga tidak jadi panen, petani kopi yang akan turun hasil produksinya atau petani tembakau jika hujan ekstrem terjadi di musim kemarau," tutur dia.
 
Emilya mengakui daerah perkotaan mempunyai frekuensi kejadian hujan ekstrem lebih sering karena suhu udara yang lebih tinggi di kota menyebabkan potensi pembentukan hujan konvektif dengan awan-awan konvektif yang mengandung uap air yang banyak (Cumulonimbus). Kondisi seperti ini tentu tidak hanya dialami di Indonesia, tetapi hampir di semua belahan dunia.
 
Beberapa catatan peristiwa yang bisa diambil antara lain curah hujan ekstrem di China yang menimbulkan banjir, hail (hujan es batu) di negara-negara Eropa, musim dingin yang lebih ekstrem, banjir di New South Wales Australia akibat hujan yang terus menerus, banjir di negara-negara Eropa. Meskipun semua itu bukan sepenuhnya akibat perubahan Iklim.
 
Emilya menegaskan penting memahami iklim di masa depan. Pemahaman dengan menggunakan analisis proyeksi perubahan iklim berupa analisis terhadap data observasi (historis) dan baseline data lingkungan (pendekatan bottom up) dan keduanya menggunakan hasil data simulasi GCM (global climate model) yang terkait dengan skenario perubahan kondisi lingkungan (top  down).
 
“Dari model global yang ada, hingga tahun 2100 terjadi kecenderungan peningkatan suhu akibat pemanasan global. Adapun proyeksi hujan tidak memperlihatkan adanya tren linier, lebih menunjukkan adanya pola osilasi," tutur dia.
 
Emilya menuturkan dari analisis yang pernah dilakukan memperlihatkan periode 2030 dan 2080 untuk tahun normal dan tahun kering memperlihatkan fluktuasi yang ekstrem. Karenanya yang perlu mendapat perhatian adalah adanya kecenderungan semakin terkonsentrasi curah hujan di bulan-bulan Desember dan Januari.
 
“Artinya musim-musim basah dan kemarau di Indonesia akan sering terjadi berfluktuasi, ada beberapa kejadian ekstrem dengan suhu yang terus meningkat," paparnya.
 
Ia menandaskan perubahan iklim akan memengaruhi banyak sektor kehidupan masyarakat, baik langsung maupun  tidak langsung. Karenanya perlu melakukan mitigasi dan adaptasi.
 
COP 21 di Perancis atau yang dikenal sebagai Paris Agreement telah memberikan dasar-dasar bagi seluruh negara untuk secara ketat mengurangi emisi karbon dengan cepat untuk menjaga ambang batas kenaikan suhu bumi di bawah 2 derajat celcius dan berupaya menekan hingga 1,5 derajat celcius. Sementara itu, pemerintah Indonesia mempunyai target penurunan karbon sebesar 29 persen (as usual bussiness) dan 41 persen jika mendapat dukungan internasional di 2030.
 
“Memang perlu langkah nyata, dan pemerintah RI sudah meratifikasi Paris Agreement pada 24 Oktober 2016 dan menuangkannya bentuk implementasi dalam Nationally Determined Contribution untuk mewujudkan pembangunan rendah karbon. Karenanya kita sebagai warga negara sangat diharapkan mendukung upaya pemerintah dalam penurunan emisi karbon dengan tindak dan perilaku nyata sehari-hari yang bisa kita lakukan," ujar dia.
 
Baca: BMKG Peringatkan Pemerintah Tekan Laju Perubahan Iklim
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif