Ilustrasi. Foto: MI/Adam Dwi
Ilustrasi. Foto: MI/Adam Dwi

ITS Pernah Kecolongan Jurnal Ilmiah Bodong

Pendidikan Pendidikan Tinggi Publikasi Ilmiah
Ilham Pratama Putra • 03 Februari 2020 14:45
Jakarta:Meski telah mengawasi secara ketat, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengaku pernah kecolongan jurnal predator, bodong,atau abal-abal. Menurutnya hal itu terjadi akibat modus yang digunakan selalu berubah-ubah.
 
"Selalu ada, penipuan itu terkesannya begitu natural, di alam itu tidak ada yang ideal 100 persen. Yang mencari celah ada, yang mengawasi pun ada lengahnya. Itu wajar saja, asalkan bukan masif," kata Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Mochamad Ashari kepada Medcom.id, Senin, 3 Februari 2020.
 
Menurutnya, yang terjadi di ITS masih dalam angka yang wajar. Dari 1.321 jurnal internasional yang diterbitkan pada 2019, pihaknya hanya kecolongan dua persen.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"kalau 2 atau 1 persen ya wajar, jangan dilihat yang jelek. Tapi lihat sistem yang bagus bagaimana kita mengawasi dan berhasil meluncurkan jurnal internasional," ungkap Ashari.
 
Dia menganggap kejadian tersebut sebagai bagian dari risiko perguruan tinggi. Untuk itu beberapa Standar Operasional Prosedur telah dia tetapkan.
 
"Kita di ITS ada beberapa filter, pertama menyaring dari plagiasi, filter berikutnya untuk melihat itu tidak bodong atau abal-abal, kita cek dari komunikasinya, itu semua harus di-record. Mulai submit tanggal berapa, atau ada respons apa, atau langsung diterima," jelas Ashari.
 
Sebelumnya, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Plt. Dirjen Dikti) Kemendikbud, Nizam, mengatakan jurnal predator kerap menawarkan jasa penerbitan jurnal internasional. Nizam mengaku telah mengumpulkan sejumlah nama di balik jurnal predator tersebut.
 
"Ini ratusan jurnal yang abal-abal. Nah, kita membuat list. List jurnal-jurnal mana yang termasuk dalam kelompok jurnal predator," kata Nizam di Hotel Bidakara, Jakarta, Jumat 31 Januari 2020.
 
Untuk meluncurkan jurnal internasional yang resmi, tak ada biaya yang dipungut dari dosen. Selain itu, prosesnya berlangsung lebih lama.
 
"Bisa berbulan-bulan. Soalnya ada tahap verifikasi, review, dan lain-lain dulu kan," kata Nizam.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif