Ketua Senat Akademik IPB, Tridoyo Kusumastanto mengatakan, kebijakan baru pengembangan akademik 4.0 tersebut, akan mengacu pada tridarma perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.
Menurutnya, dengan perubahan yang begitu cepat saat ini, teknologi internet, digital, kecerdasan buatan, dan sebagainya, menuntut PTN-BH mengakselerasikan diri, mempercepat interaksi dengan perubahan yang ada.
"Upaya akselerasi tersebut terkait pengembangan akademik, pengembangan program studi baru, perubahan teknologi digital, perubahan dari lapangan pekerjaan, dan tantangan pembangunan di Indonesia," sebut Tridoyo, dalam Sidang Paripurna III, Majelis Senat Akademik (MSA) PTN-BH, di Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat, 24 Agustus 2018.
Dalam Sidang Paripurna MSA PTN-BH itu juga telah dibahas beberapa agenda yang penting disikapi. Baik sisi kebijakan akademik, maupun tantangan dalam berbagai perubahan yang mengarah pada peningkatan kualitas akademik 11 PTN-BH.
Baca: Habibie Usulkan BPPT Masuk Kabinet
Adapun ke-11 PTN-BH itu adalah IPB (Institut Pertanian Bogor), UI (Universitas Indonesia), ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember), Undip (Universitas Diponegoro), Unpad (Universitas Padjajaran), Unhas (Universitas Hasanuddin), Unair (Universitas Airlangga), USU (Universitas Sumatera Utara), UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), ITB (Institut Teknologi Bandung), dan UGM (Universitas Gadjah Mada).
Sementara itu, Ketua Majelis Senat Akademik (MSA) PTN-BH, Prio Suprobo menambahkan, revolusi industri 4.0 memiliki dampak luar biasa dalam hal bagaimana cara mendidik anak, mengajarkan pada mahasiswa, melakukan riset dengan budaya milenial.
Sehingga mau tidak mau, perguruan tinggi harus cepat menyesuaikan diri dengan era tersebut. "Pendidikan dengan budaya milenial ini tidak mudah, tapi tantangan terberat adalah di dalam pembentukan karakter mahasiswa," kata Dosen Teknik Sipil Institut Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini.
Menurut dia, PTN-BH harus membuat pengawalan agar revolusi industri 4.0 tidak menggerus
pembentukan karakter bangsa. "Kita boleh menyesuaikan diri dengan revolusi industri 4.0, tetapi
nilai-nilai luhur bangsa Indonesia jangan sampai luntur," kata Probo seperti dikutip dari Antara.
Dikatakannya, PTN-BH boleh menyesuaikan diri dengan revolusi industri 4.0, tetapi harus tetap memiliki jati diri Indonesia. Ia mencontohkan revolusi industri 4.0 memungkinan pendidikan di perguruan tinggi dilakukan secara online, atau melalui kelas jauh, dengan internet, istilahnya education for all.
Revolusi industri 4.0 juga memungkinkan pemangkasan jam perkuliahan, dari 16 minggu menjadi delapan minggu. Sementara dalam ilmu teknik ada istilah yang disebut dengan etika insinyur. Namun di sisi lain, untuk mengajarkan nilai-nilai budaya atau sopan santun tidak
mungkin dilakukan melalui internet, melainkan harus ada interaksi, atau tatap muka.
"Penanaman nilai-nilai budaya, tidak bisa dengan digital saja karena pendidikan karakter harus ada contohnya. Tidak bisa mengandalkan internet," kata Probo.
Probo menambahkan, secanggih apapun teknologi yang akan digunakan dalam pendidikan tinggi, harus tetap memberikan sentuhan pendidikan Indonesia. "Pendidikan Indonesia berbudaya ketimuran," tegasnya.
MSA PTN-BH menggelar Sidang Paripuna III dalam rangka memilih kepengurusan baru, serta membahas tantangan, peluang, masa depan perguruan tinggi, dan revolusi industri 4.0. Probo mengatakan, pendidikan 4.0 merupakan konsekuensi dari berkembangnya revolusi industri generasi keempat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News