Hasilnya menunjukkan, tak hanya dari aspek sosiologis, Program MBG juga mampu meringankan beban orang tua secara ekonomi, khususnya dari kalangan menengah ke bawah. Sekitar 72 persen orang tua melaporkan anak mereka menjadi lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi, sementara 55 persen menyatakan anak lebih mudah menerima variasi jenis makanan yang sebelumnya jarang dikonsumsi.
"Temuan paling menggembirakan dari riset ini adalah tingginya penerimaan masyarakat, dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Para orang tua siswa yang ditemui di lapangan umumnya memberikan penilaian yang sangat positif terhadap program ini," jelas Ketua LabSosio-LPPSP FISIP UI, Hari Nugroho.
Sejumlah hasil riset dan kajian sosiologi yang dilakukan pakar juga menunjukkan Program MBG mampu memperkuat solidaritas dan semangat belajar siswa di sekolah. Hasil kajian ini juga memperkuat kajian Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang menegaskan MBG sebagai fondasi baru pendidikan bermutu di Indonesia.
Sosiolog Musni Umar menyatakan, MBG tidak hanya membantu memastikan siswa mendapatkan asupan gizi yang cukup namun juga berperan dalam membangun interaksi sosial serta meningkatkan semangat belajar di lingkungan sekolah. Program ini memiliki manfaat luas, baik dari sisi kesehatan maupun perkembangan sosial siswa.
Ketersediaan makanan bergizi yang teratur dapat membantu siswa mengikuti proses belajar dengan lebih fokus dan nyaman.“MBG di sekolah bisa menciptakan kesetaraan, kebersamaan, dan kedekatan satu sama lain. Selain itu, siswa bisa mengikuti pelajaran dengan baik dan nyaman karena tidak dalam lapar,” jelas dia dikutip dalam siaran persnya, Rabu, 11 Maret 2026.
Musni mengakui, pandangan tersebut tak lepas dari pengalaman pribadinya saat masih kecil di Kendari, Sulawesi Tenggara. Saat itu ia terbiasa berangkat sekolah tanpa sarapan, sehingga kondisi tubuhnya cenderung kurus dan sering sakit.
Kondisi ini berubah saat ini menjadi mahasiswa dan tinggal di asrama dengan jadwal makan bersama yang teratur. “Secara sosiologis, di masa depan akan tumbuh tunas-tunas bangsa yang sehat, cerdas dan memiliki solidaritas tinggi terhadap sesama karena kedekatan satu sama lain sewaktu makan bersama,” jelas Musni.
Perbaikan Penting
Namun, ia pun mendorong pemerintah untuk memperbaiki berbagai persoalan yang selama ini mendera program ini.Pernyataan Musni sejalan dengan Kepala Badan Standar, Kurikulum , dan Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen Toni Toharudin. Menurut Toni, Program MBG yang digagas pemerintah menjadi fondasi baru dalam menciptakan pendidikan bermutu di Indonesia.
Toni menjelaskan, MBG tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada budaya sekolah. Praktik makan bersama menciptakan ruang interaksi sosial yang lebih inklusif dan memperkuat kebersamaan diantara siswa.
“Kegiatan makan bersama menjadi sarana pembelajaran karakter yang alami. Siswa belajar disiplin, menjaga kebersihan, dan menghargai makanan. Ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak selalu harus melalui pendekatan formal, tetapi dapat tumbuh melalui pengalaman keseharian yang dirancang secara bermakna,” tegas Toni.
Pengalaman sosial ini menjadi penting untuk membangun empati, kolaborasi, dan tanggung jawab sosial. MBG membuka peluang bagi sekolah untuk membangun budaya belajar yang sehat dan positif.
MBG juga berpotensi membentuk ulang relasi pedagogis di sekolah. Aktivitas makan bersama menciptakan momen non-formal yang mempertemukan siswa dan guru dalam suasana yang lebih setara dan humanis.
Interaksi semacam ini memperkuat rasa aman psikologis (psychological safety) yang menjadi fondasi penting bagi pembelajaran mendalam. “Ketika siswa merasa dihargai dan terhubung secara sosial, mereka cenderung lebih berani bertanya, bereksplorasi, dan terlibat aktif dalam proses belajar,” kata Toni.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News