Seluruh perkembangan tersebut diperkuat oleh kerangka kebijakan nasional yang berkelanjutan, antara lain Making Indonesia 4.0 dan Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial 2020–2045, yang semakin menegaskan posisi Indonesia sebagai pasar ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.
Namun demikian, pesatnya pertumbuhan ekonomi digital belum sepenuhnya diimbangi oleh kualitas ekosistem pendukung, khususnya dalam pengembangan talenta digital. Dibandingkan negara seperti Singapura, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam hal kapabilitas digital skills dan mindset technopreneurship.
Menjawab tantangan tersebut, Fakultas STEM Universitas Prasetiya Mulya dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada secara resmi menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) di Kampus UGM, Yogyakarta, pada 11 Desember 2025. Penandatanganan ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat kolaborasi akademik kedua institusi dalam pengembangan pendidikan berbasis STEM.
Melalui kerja sama ini, STEM Prasmul dan FMIPA UGM mengembangkan program joint degree serta penelitian bersama yang berfokus pada penguatan kompetensi matematika, sains, dan teknologi yang terintegrasi dengan pendekatan technopreneurship. Kolaborasi ini diharapkan dapat menghasilkan talenta digital unggul yang tidak hanya memiliki keahlian teknis yang kuat, tetapi juga pola pikir kewirausahaan teknologi yang relevan dengan kebutuhan industri dan masa depan ekonomi digital Indonesia.
Dekan Fakultas STEM Universitas Prasetiya Mulya, Permata Nur, menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan langkah strategis untuk menyinergikan keunggulan masing-masing institusi. School of STEM Universitas Prasetiya Mulya mengedepankan kekuatan stempreneurship (bisnis yang digerakkan oleh STEM), yang dibuktikan dengan sejarah panjang Prasetiya Mulya di mana 28% lulusannya tercatat telah berhasil membangun usaha, baik berupa STEM-driven business maupun traditional business.
"Maka kerjasama ini kami rancang untuk mencetak lulusan dengan DNA bisnis yang kuat, sekaligus memiliki penguasaan sains dan teknologi yang relevan dengan kebutuhan industri. Kolaborasi dengan FMIPA UGM memperkuat kedalamam proses pembelajaran sains dan teknologi dalam ekosistem pembelajaran kami,” ujarnya.
Pada tahap awal implementasi, kerja sama difokuskan pada dua program studi strategis, yaitu Matematika serta Rekayasa Perangkat Lunak (Digital Business Technology). Kedua bidang ini dipilih karena perannya yang krusial dalam mendukung transformasi digital lintas sektor industri, mulai dari pengolahan data, kecerdasan artifisial, hingga pengembangan solusi teknologi berbasis bisnis.
Sejalan dengan itu, Dekan FMIPA UGM, Kuwat Triyana, menegaskan bahwa kekuatan FMIPA UGM terletak pada kualitas akademik yang tinggi dan ekosistem riset yang matang. “FMIPA UGM didukung oleh fasilitas riset yang lengkap, kurikulum yang relevan dengan perkembangan sains dan teknologi, serta reputasi UGM sebagai universitas terkemuka. Melalui kolaborasi ini, kami ingin membuka prospek karier yang lebih luas bagi mahasiswa, baik sebagai dosen, peneliti, maupun profesional di industri berbasis sains dan teknologi,” jelasnya.
Sinergi antara kekuatan School of STEM Universitas Prasetiya Mulya yang berorientasi pada integrasi bisnis dan teknologi, dengan keunggulan FMIPA UGM dalam penguasaan fundamental sains, riset, dan pengembangan akademik, diharapkan mampu menciptakan talenta STEM yang unggul secara komprehensif. Lulusan tidak hanya dibekali kemampuan analitis dan teknis yang kuat, tetapi juga perspektif kewirausahaan, inovasi, dan kesiapan menghadapi dinamika industri global.
Melalui kerja sama strategis ini, kedua institusi menegaskan komitmennya untuk membangun ekosistem pendidikan tinggi berbasis riset dan inovasi yang berkelanjutan, sekaligus menjawab kebutuhan dunia usaha dan industri terhadap sumber daya manusia STEM yang kompeten, adaptif, dan berdaya saing internasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News