Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menyoroti praktik di lapangan. Ia pun curiga mapel matematika di SD memang memiliki kompleksitas tinggi.
“Jangan-jangan kelas 2 SD itu sudah dimulai pembagian yang kompleks, bahkan TK pun sudah diajari,” ujar Mu’ti dalam Pencanangan Kolaborasi Multipihak untuk Peningkatan Literasi dan Numerasi Nasional bersama UNICEF, Tanoto Foundation, dan Gates Foundation di Jakarta, Kamis 9 April 2026.
Ia menilai pendekatan tersebut tidak tepat untuk tahap awal. Anak seharusnya fokus pada logika, bukan rumus. “Padahal masa awal itu yang penting ditekankan adalah logiknya,” kata dia.
Mu’ti membandingkan dengan praktik di negara lain. Di sana, pembelajaran matematika lebih menekankan eksplorasi dan bermain. “Matematika di negara lain lebih banyak bermain karena logika yang ditekankan,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan yang salah akan berdampak panjang. Kesulitan di awal akan terbawa hingga jenjang lebih tinggi.
“Kalau sudah kesulitan di awal, akan terdampak terus dalam jenjang berikutnya,” kata dia.
Ia juga menyinggung stigma negatif terhadap matematika. Banyak siswa menganggap pelajaran tersebut menakutkan.
“Matematika itu jadi identik dengan ‘mati-matian’,” ujarnya.
Karena itu, pemerintah mendorong perubahan pendekatan. Pembelajaran pun harus lebih menyenangkan dan kontekstual.
“Kita perlu menanamkan bahwa matematika itu soal logika, bukan sekadar angka,” kata dia.
| Baca juga: 3 Tahun Pasca Pandemi Covid-19, Kemampuan Literasi-Numerasi Anak Indonesia Belum Pulih |
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News