Mahasiswa UMM bantu tangani psikososial pengungi banjir dan longsor di Nganjuk. Dok Antara/HO
Mahasiswa UMM bantu tangani psikososial pengungi banjir dan longsor di Nganjuk. Dok Antara/HO

Mahasiswa UMM Bantu Tangani Psikososial Pengungsi Bencana di Nganjuk

Antara • 26 Februari 2021 15:15
Malang: Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membentuk dua tim memberikan dukungan psikososial para pengungsi banjir dan tanah longsor di Kabupaten Nganjuk. Setiap tim terdiri dari lima mahasiswa lintas fakultas.
 
"Fokus mereka pada kegiatan psikososial baik untuk orang dewasa maupun anak-anak," kata Ketua Maharesigana UMM Rindya Fery Indrawan yang dihubungi di Malang, Jumat, 26 Februari 2021.
 
Banjir dan tanah longsor yang terjadi di Dusun Selopuro, Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk 14 Februari lalu, tidak hanya membawa kerugian materi bagi para korban. Secara psikologi, baik anak-anak maupun orang dewasa juga mengalami dampak dari bencana tersebut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Koordinator Tim Psikososial Kelompok I, Ahmad Hendra Purwanto mengungkapkan, setelah melakukan asesmen selama tiga hari di tempat pengungsian, ditemukan para pengungsi menyampaikan banyak keluhan, baik secara fisik maupun kondisi psikologi. Mulai dari ketakutan, rasa khawatir, gelisah, bahkan rasa bersalah yang sangat dalam.
 
"Ada seorang nenek yang terus menyesali keputusannya membiarkan cucunya pulang ke rumah orang tuanya. Si nenek bilang, seandainya saja ia menahan si cucu, mungkin hingga kini cucunya masih hidup. Tidak terkubur longsor bersama ayah ibunya," cerita Hendra.
 
Baca: Kisah Eli, Anak Petani yang Selangkah Lagi Menjadi Dokter
 
Kondisi seperti ini yang menjadi fokus tim untuk melakukan Psychological First Aid (PFA) atau tindakan humanis dan memberikan dukungan serta membantu seseorang yang menderita dan membutuhkan bantuan akibat bencana alam. Tujuannya menghindari kondisi psikologis yang lebih buruk lagi. 
 
"Jadi menenangkan, memberikan rasa aman dan nyaman. Kalau kebutuhan fisik sudah tercukupi dari pemerintah daerah yang sangat tanggap," tambah Hendra.
 
 

Tidak hanya bagi orang dewasa, tim Maharesigana UMM juga fokus pada anak-anak yang juga mengalami tantangan tersendiri. Mereka didera rasa bosan dan juga keinginan yang kuat untuk dapat beraktivitas seperti biasa, padahal, keadaan masih belum memungkinkan.
 
"Layanan dukungan psikososial untuk anak-anak kami berikan dengan membuat jadwal bagi mereka agar tidak jenuh," jelasnya.
 
Hendra memaparkan, penjadwalan dilakukan meliputi kegiatan senam di pagi hari, asesmen, istirahat, dan mengaji. Ragam kegiatan ini penting agar anak-anak tidak merasa jenuh.
 
Baca: Keren! Empat Mahasiswa Magister UNAIR Lulus dalam 3 Semester
 
Pembina Maharesigana UMM, Zakarija Achmat berharap keberadaan para relawan Maharesigana dapat meringankan beban para korban banjir dan tanah longsor. Utamanya dalam sisi psikologis, baik untuk anak-anak maupun orang dewasa.
 
Ia berharap kehadiran relawan Maharesigana UMM dapat meringankan beban psikologis para penyintas, apalagi relawan juga melakukan pendekatan psikososial. Misalnya, karena para orang dewasa fokus untuk mengembalikan keadaan pada situasi normal, anak-anak menjadi tidak terlalu terperhatikan termasuk dalam pendidikan.
 
"Teman-teman relawan akan membantu proses pendidikan ini tetap berjalan. Bukan berati menggantikan guru, tapi lebih secara umum. Contohnya seperti story telling," ungkapnya.
 
(AGA)
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif