Ilustrasi: MI/Andri Widiyanto
Ilustrasi: MI/Andri Widiyanto

Bank Penyalur Siap Jemput Bola ke Sekolah, Percepat Aktivasi dan Penarikan Dana PIP

Citra Larasati • 01 Desember 2022 13:16
Jakarta:  Bank Negara Indonesia (BNI), sebagai salah satu bank penyalur Program Indonesia Pintar (PIP) siap melakukan kunjungan ke sekolah yang jauh dari akses layanan BNI.  Sejumlah sekolah tersebut jauh dari akses layanan karena letak geografis, terkendala waktu, dan biaya sehingga kesulitan melakukan aktivasi dan penarikan dana PIP.
 
Tahun sebelumnya, karena ada pandemi covid-19 kolektif dipebolehkan, bahkan diharuskan, namun pada tahun 2022, ada kebijakan baru, yakni kolektif baru bisa dilakukan dalam kondisi khusus.  Salah satunya mengacu pada Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 160/P/2021 tentang Daerah Khusus Berdasarkan Kondisi Geografis.
 
“Kalau ada daerah di luar daerah khusus yang ditetapkan Kepmen tersebut, namun juga mengalami kesulitan yang sama, dapat diperlakukan sama dengan dilakukan penetapan sebagai daerah khusus oleh pemerintah daerah,“ kata Bonny Famedian, Relation Manager BNI Pusat, dalam Rapat Koordinasi Pelaksanaan PIP, dilansir dari laman Puslapdik, Kamis, 1 Desember 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebelumnya, Koordinator Pokja PIP Dikdasmen Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik), Sofianan Nurjanah mengatakan, Puslapdik sedang merencanakan menyusun kesepakatan dengan bank-bank penyalur PIP.  Kesepakatan itu terkait kemungkinan bank penyalur membuka cabang atau kantor kas pembantu di wilayah-wilayah yang banyak siswa penerima PIP namun jauh dari akses transportasi atau membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sepadan.
 
“Tentu tidak semua daerah, kita sedang identifikasi daerah-daerah tertentu, seperti daerah yang banyak pulau-pulau atau kondisi khusus lainnya,“ kata Sofiana.

Sejumlah Persoalan

Pernyataan Bonny dan Sofiana tersebut menjawab beberapa pertanyaan sejenis dari peserta Rakor.  Haryono dari salah satu dinas Pendidikan di Sumatera Barat mengakui sangat sulit siswa-siswa di daerahnya melakukan aktivasi secara langsung karena sulitnya akses transportasi
 
Hal senada juga dikatakan Sugiono dari Kepulauan Riau. Ia mengatakan, untuk dapat melakukan aktivasi dan penarikan dana di bank di daratan Sumetra, para siswa harus menyeberang pulau dengan biaya yang tidak sepadan dengan dana PIP yang diterimanya.
 
“Saya usulkan bank datang langsung ke sekolah yang jauh dari layanan perbankan,“ katanya.
 
Dalam rakor tersebut, selain soal aktivasi dan penarikan dana, juga terungkap beberapa kendala lain, seperti kuota  penerima PIP yang dibatasi, persyaratan bank penyalur yang berbeda-beda, soal siswa kelas 12 yang menerima SK Pemberian namun saat pencairan dananya, anaknya sudah lulus dan sudah kerja sehingga sulit dihubungi.
 
Persoalan lain adalah khusus di Aceh mengenai transisi atau perpindahan dari bank konvensional ke Bank Syariah Indonesia.
 
Beberapa penyelesaian atas persoalan itu, yakni, pihak bank yang dalam hal ini BNI, dan BRI akan bersama-sama menyosialisasikan persyaratan aktivasi dan penarikan dana PIP ke semua cabang-cabang di daerah.
 
“Kalaupun nanti ada cabang yang meminta tambahan persyaratan, biasanya terkait kondisi-kondisi khusus tertentu,“ kata Bonny.
 
Terkait siswa kelas 12 yang sudah lulus dan susah dihubungi, Sofiana Nurjanah menjelaskan, asal siswanya sebelum lulus sudah melakukan aktivasi, maka penarikan dananya tidak masalah.
 
“Siswa bisa narik dana di mana saja dan kapan saja, asal sudah aktivasi,“ katanya.
 
Dalam persoalan mengenai siswa yang hanya menerima buku tabungan tanpa kartu ATM, Bonny menjelaskan, BNI saat ini sudah mencetak sekitar 2 juta kartu yang tinggal diisi nomor rekening dan dananya.
 
“Tahun 2022, semua cabang bisa menerbitkan kartu debit, sistemnya,  cabang order ke kami dan kami segera kirimkan kartunya,“ imbuh Bonny.
 
Mengenai transisi dari bank konvensional ke Bank Syariah Indonesia di Provinsi Aceh, Rakean Sundaya, Subkoordinator PIP Dikdasmen jenjang SD mengatakan, proses transisi itu butuh waktu dan proses yang tidak sederhana, sebab harus terlebih dahulu ke Otoritas Jasa keuangan (OJK) dahulu sebelum dipindahkan ke sistem Bank Syariah Indonesia.
Baca juga: Dinas Pendidikan Didorong Percepat Aktivasi Rekening Penerima PIP dan Lakukan Pengawasan

 
(CEU)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif