Mendikbud, Nadiem Makarim. Foto: YouTube
Mendikbud, Nadiem Makarim. Foto: YouTube

Klarifikasi Nadiem Soal Penghapusan Mata Pelajaran Sejarah

Pendidikan Kurikulum Pendidikan Nadiem Makarim Penyederhanaan kurikulum
Citra Larasati • 20 September 2020 16:54
Jakarta: Beredarnya informasi yang menyebutkan mata pelajaran Sejarah akan dihapuskan dari kurikulum nasional belakangan ini memicu polemik di tengah masyarakat. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim mengaku terkejut dengan isu tersebut, kemudian memberi klarifikasi untuk meluruskan hal tersebut.
 
Nadiem mengaku sangat terkejut mendapati begitu cepatnya informasi yang tidak benar menyebar tentang mata pelajaran Sejarah di tengah masyarakat. "Tidak ada sama sekali kebijakan, regulasi atau perencanaan penghapusan mata pelajaran Sejarah di kurikulum nasional," tegas Nadiem dalam video klarifikasinya, Minggu, 20 September 2020.
 
Isu ini muncul, kata Nadiem, berawal dari adanya salah satu presentasi internal yang keluar ke masyarakat dengan salah satu permutasi penyederahanaan kurikulum. Padahal kata Nadiem, Kemendikbud memiliki puluhan versi berbeda yang saat ini sedang melalui proses pembahasan di Forum Discussion Group (FGD) dan uji publik.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Semuanya belum tentu permutasi tersebut yang menjadi final. Inilah yang namanya pengkajian yang benar, di mana berbagai opsi diperdebatkan secara terbuka," tegas Nadiem.
 
Baca juga:KPAI: Kurikulum Sejarah Didominasi Perang, Kekerasan, dan Jawa Sentris
 
Mantan Bos Gojek ini juga menegaskan, bahwa penyederhanaan kurikulum tidak akan dilakukan hingga 2022. "Di kurikulum 2021 kami baru akan melakukan berbagai prototyping di beberapa sekolah penggerak yang terpilih, dan bukan diterapkan dalam skala nasional. Jadi sekali lagi, tidak ada kebijakan apapun yang keluar di 2021 dalam skala kurikulum nasional, apalagi penghapusan mata pelajaran sejarah," tandas Nadiem.
 
Nadiem juga menyampaikan hal yang menurutnya tak kalah mengejutkan tentang dirinya yang dipertanyakan komitmennya terhadap sejarah kebangsaan Indonesia. Padahal menurutnya, yang terjadi adalah ia ingin memajukan pendidikan sejarah agar kembali relevan dan kembali menarik untuk anak-anak generasi bangsa.
 
"Kakek Saya adalah salah satu toko pejuang dalam kemerdekaan di 1945. Ayah dan Ibu saya adalah aktivis nasional untuk membela hak asasi rakyat indonesia dan berjuang melawan koruspi. Anak-anak Saya tidak akan tahu bagaimana melangkah ke masa depan atau mengetahui dari mana mereka datang, misi Saya sebagai menteri malah kebalikan dari isu yang berkembang," beber Nadiem.
 
Baca juga:Masyarakat Sejarawan Indonesia Tanggapi Isu Penghapusan Mapel Sejarah
 
Ia justru ingin menjadikan sejarah menjadi suatu hal yang relevan bagi generasi muda dengan penggunaaan media belajar yang menarik dan relevan. "Agar bisa menginspirasi mereka," ucapnya.

 
Menurut Nadiem, identitas generasi baru yang nasionalis hanya bisa terbentuk dari suatu kolektif memori yang membanggakan dan menginspirasi. "Sekali lagi, jangan biarkan informasi yang tidak benar menjadi liar. Saya berharap klarifikasi ini dapat menenangkan masyarakat. Sejarah adalah tulang punggung dari identitas nasional kita. Tidak mungkin kami hilangkan," tegas Nadiem.
 
Sebelumnya, ramai diperbincangkan Kemendikbud akan menempatkan mata pelajaran sejarah sebagai mata pelajaran pilihan di SMA, bahkan menghilangkannya di SMK.
 
Rencana perubahan pendidikan sejarah di SMA/SMK tersebut tertuang dalam draf sosialisasi Penyederhanaan Kurikulum dan Asesmen Nasional tertanggal 25 Agustus 2020. Draf ini beredar di kalangan akademisi dan para guru, ini yang kemudian menjadi polemik di masyarakat.
 
(CEU)
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif