Sapi. DOK Medcom
Sapi. DOK Medcom

Tembus Rp11 Triliun, Pakar IPB Ungkap Penyebab Indonesia Ketergantungan Impor Sapi Australia

Renatha Swasty • 30 April 2026 10:32
Ringkasnya gini..
  • faktor utama ketergantungan Indonesia pada sapi dari Australia karena masih terbatasnya produksi daging domestik.
  • Populasi sapi potong di dalam negeri belum cukup memenuhi kebutuhan daging nasional, khususnya di kota-kota besar.
  • Ronny menyarankan pengembangan feedlot dan diversifikasi untuk mengurangi sapi impor Australia.
Jakarta: MV Al Kuwait, kapal ekspor ternak hidup terbesar di dunia, telah berlayar dari Pelabuhan Darwin membawa lebih dari 17.000 sapi ke Indonesia. Awalnya, kapal ini direncanakan mengekspor domba ke Timur Tengah, namun perdagangan domba hidup berhenti karena perang di Iran. 
 
Bagi Australia, Indonesia telah lama menjadi mitra utama karena merupakan pasar terbesar ekspor ternak hidupnya. Data tahun 2025, Indonesia membeli sekitar 583.418 ekor sapi seharga USD4,00 per kilogram bobot hidup. 
 
Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Ronny Rachman Noor, mengungkapkan faktor utama ketergantungan Indonesia pada sapi dari Australia karena masih terbatasnya produksi daging domestik. Populasi sapi potong di dalam negeri belum cukup memenuhi kebutuhan daging nasional, khususnya di kota-kota besar. 

"Ini terkait dengan produktivitas sapi lokal yang relatif rendah dibandingkan dengan sapi Brahman Cross dari Australia,” beber Ronny, Kamis, 30 April 2026.
 
Sapi Bali misalnya, tumbuh lebih lambat ketimbang sapi impor. Hal ini lantaran keterbatasan pakan dan lahan serta sistem peternakan rakyat yang masih tradisional dan belum efisien. 
 
Akibatnya, distribusi tidak merata. Produksi terkonsentrasi di daerah tertentu seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi, dan Jawa Tengah, sementara permintaan tinggi di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan.
 
Apabila dilihat dari sisi konsumsi, permintaan daging sapi di Indonesia terus meningkat seiring pertumbuhan kelas menengah dan jumlah penduduk. Industri makanan, restoran, hotel, dan katering membutuhkan pasokan daging sapi yang stabil. 
 
Daging sapi juga memiliki nilai budaya tinggi, terutama saat momen keagamaan seperti Iduladha. Ketidakseimbangan antara permintaan dan produksi ini mengakibatkan defisit pasokan. Pemerintah memilih impor sapi hidup dari Australia untuk menutupi kekurangan.
 
“Dari segi logistik dan infrastruktur, Australia memiliki sistem ekspor ternak hidup yang terintegrasi, termasuk pelabuhan Darwin, Kimberley, dan Queensland. Didukung kapal-kapal besar seperti MV Al Kuwait yang mampu mengangkut puluhan ribu ekor sekaligus dengan harga yang relatif kompetitif,” tutur Ronny.
 

Manfaat dan risiko kerugian

Ronny mengatakan impor sapi dari Australia menawarkan sejumlah manfaat, termasuk pasokan yang stabil untuk memastikan ketersediaan daging sapi di pasar lokal. Selain itu, harga sapi impor relatif bersaing, memberikan pilihan lain bagi industri. 
 
Dari segi kualitas, sapi Australia (Brahman Cross) lebih cepat tumbuh dan lebih cocok untuk feedlot. Semua faktor ini turut memperkuat hubungan perdagangan bilateral antara Indonesia dan Australia.
 
Namun, ketergantungan ini menimbulkan risiko. Ketergantungan dan nilai impor yang tinggi membuat Indonesia rentan terhadap gangguan geopolitik, fluktuasi harga global, serta risiko logistik dan kesehatan hewan. 
 
Sebagai gambaran, bila bobot sapi per ekor 300 kg, maka estimasi nilai impor tahun 2025 (583.418 ekor) mencapai USD700 juta, setara Rp11 triliun.

Upaya mengurangi ketergantungan sapi impor

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian telah berupaya mengurangi ketergantungan pada sapi hidup dan daging impor. Namun, kurangnya strategi jangka panjang dan permintaan yang terus meningkat, dampaknya belum terasa signifikan. 
 
“Upaya pengurangan ketergantungan ini memerlukan perencanaan jangka panjang, bukan tindakan instan. Strateginya meliputi penguatan pembibitan sapi lokal seperti sapi Bali dan PO (peranakan Ongole), serta mendukung riset genetik untuk meningkatkan produktivitas,” saran dia.
 
Ronny juga menyarankan pengembangan feedlot berbasis pakan lokal seperti jagung, singkong, dan limbah pertanian untuk mengurangi biaya pakan impor. Selain itu, diversifikasi sumber impor seperti kerja sama dengan Brasil, India, dan negara-negara Asia Tenggara sebaiknya dilanjutkan untuk mengurangi ketergantungan pada Australia.
 
“Fokus ke swasembada protein hewani melalui peningkatan konsumsi ayam, kambing, dan ikan, serta inovasi protein alternatif. Dari segi kebijakan dan insentif, subsidi bagi peternak lokal juga harus ditingkatkan, termasuk pengaturan kuota impor agar tidak menekan harga sapi domestik,” ujar dia.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan