Ilustrasi egg freezing. Pexels.com
Ilustrasi egg freezing. Pexels.com

Memahami Tujuan Egg Freezing dari Sisi Medis

Renatha Swasty • 21 Maret 2022 10:20
Jakarta: Teknologi kesehatan terus berkembang. Selain aplikasi kesehatan, berbagai teknologi di bidang kesehatan juga lahir untuk mempermudah pasien.
 
Salah satunya pada bidang obstetri dan gynecology (OBGYN). Baru-baru ini, aktris Luna Maya menjadi sorotan karena mengaku telah melakukan pembekuan sel telur (egg freezing) atau dalam istilah medis dikenal dengan mature oocyte cryopreservation.
 
Staf pengajar Divisi Fertilitas Endokrinologi Reproduksi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Jimmy Yanuar Annas menjelaskan egg freezing ialah proses pembekuan sel telur. Dalam metode ini, sel telur wanita diambil dari ovarium, selanjutnya dibekukan saat tidak dibuahi dan disimpan untuk digunakan ketika wanita tersebut telah siap memiliki anak.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia memyebut ketika telah siap, proses akan dilanjutkan dengan fertilisasi in vitro atau bayi tabung. Sel telur dibuahi dan kemudian ditanamkan pada rahim wanita tersebut.
 
“Sebenarnya tujuan dari egg freezing ini bermacam-macam. Utamanya dibagi menjadi dua yaitu dari indikasi medis dan indikasi sosial,” ujar Jimmy dikutip dari laman unair.ac.id, Senin, 21 Maret 2022.
 
Jimmy menuturkan dari indikasi medis dapat berupa adanya keganasan (kanker) pada sel di bagian organ reproduksi wanita, utamanya pada ovarium. “Pada stadium tertentu masih dapat dilakukan kriopreservasi kesuburan,” tutur dia.
 
Dia mengatakan kriopreservasi saat program egg freezing oleh wanita bukan tanpa risiko. Beberapa terapi kanker, seperti kemoterapi dan radiografi dapat memicu menopause.
 
“Selain kanker ganas, penanganan yang dapat menurunkan jumlah sel telur juga menjadi pilihan untuk egg freezing adalah wanita yang mengidap endometriosis,” jelas Jimmy.  
 
Kemudian, indikasi medis lainnya ialah kelainan bawaan atau kongenital. Namun hal tersebut juga masih menjadi kontroversi di dunia medis.
 
Sebab, masih ada indikasi kelainan kromosom. Angka keberhasilan untuk hamil sangat rendah bila tetap dilakukan kriopreservasi sel telur.
 
“Untuk indikasi sosial bisa dari kesibukan wanita yang sangat padat, sehingga belum sempat menikah di usia produktif. Namun, masih tetap ingin memiliki keturunan nantinya,” tutur Jimmy.
 
Selain itu, proses egg freezing ideal sebelum usia 40 tahun atau bahkan sebelum 35 tahun. Alasannya, pada rentang usia tersebut sel telur masih sehat.
 
Jimmy berharap masyarakat lebih kritis menyikapi masalah kesehatan, utamanya soal egg freezing. “Masyarakat yang ingin melakukan egg freezing harus memikirkan secara matang dan harus rutin berkonsultasi dengan dokter,” tutur dia.
 
Baca: Mengenal Teknologi Egg Freezing, Begini Prosesnya
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif