Hari kelulusan para siswa ini menjadi pembuktian dari pendidikan berasrama di tiga tahun pertama. Wisuda ini terasa emosional karena seluruh siswa yang lulus merupakan anak dari keluarga miskin se-Kabupaten Kediri.
Dulu, jangankan untuk bisa lulus sekolah, 126 siswa yang diwisuda itu tak pernah bermimpi bisa mengenyam pendidikan SMA. Namun, hal itu akhirnya terwujud berkat program Pendidikan Berasrama Gratis yang diberikan SMA Dharma Wanita 1 Pare.
Yang lebih mencuri perhatian, siswa yang dulunya tak memiliki harapan itu kini malah membuka jalan ke perguruan tinggi. Di angkatan pertama ini, sebanyak 101 dari 126 siswa atau sekitar 80,16 persen telah dinyatakan diterima di perguruan tinggi negeri (PTN).
Capaian ini menjadikan SMA Dharma Wanita 1 Pare sebagai sekolah dengan tingkat penerimaan PTN tertinggi di Kabupaten Kediri. Angka itu terasa luar biasa ketika disandingkan dengan kondisi sekolah sebelum bertransformasi menjadi sekolah berasrama.
Sebelum sekolah ini bertransformasi, hanya satu siswa yang berhasil menembus PTN setiap tahunnya. Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana, menyebut capaian tersebut menjadi bukti bahwa latar belakang ekonomi bukan penentu masa depan seseorang.
"Ini membuktikan bahwa anak yang ada di desil satu punya hak yang sama. Persoalannya hanya mereka pada saat masuk tidak punya mimpi untuk lanjut," ujar Dhito dalam Acara Wisuda SMA Dharma Wanita 1 Pare, Kediri, Minggu, 15 Juni 2026.
Setelah ditempa selama tiga tahun, hasilnya mulai terlihat. Para lulusan kini diterima di berbagai PTN bergengsi, mulai dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, Universitas Sebelas Maret, Universitas Negeri Surabaya, hingga Universitas Jember.
Kini masih ada 25 siswa lainnya yang menunggu hasil seleksi perguruan tinggi maupun sekolah kedinasan. Dhito menitipkan pesan kepada para lulusan yang belum berhasil pada tahap ini.
"Keberhasilan bukan milik mereka yang tidak pernah gagal. Keberhasilan adalah milik mereka yang selalu punya keberanian untuk mencoba kembali," tutur dia.
| Baca juga: Ingin Masuk Sekolah Semimiliter? SMAP 2 Tanjung Lesung Bisa Jadi Pilihan |
Perjalanan mencapai hasil tersebut tidak dikerjakan dalam semalam. Capaian ini bermula dari kolaborasi Pemerintah Kabupaten Kediri dengan Putera Sampoerna Foundation (PSF) yang digulirkan pada Mei 2023 melalui Program Lighthouse School Program (LSP).
Head of Program & GuruBinar Putera Sampoerna Foundation (PSF), Juliana, mengungkapkan tantangan terbesar pada awal program bukan soal kurikulum atau fasilitas. Tantangan terbesarnya justru terletak pada perubahan pola pikir siswa hingga para guru.
"Mereka datang ke sekolah cuma berniat makan gratis, tidur gratis, tidak ada mimpi sama sekali," kata dia.
Bahkan, keluarga para siswa juga menjadi tantangan tersendiri. Menurut Juliana, tidak sedikit orang tua yang masih berharap anak-anak mereka kembali ke rumah untuk bekerja membantu perekonomian keluarga.
"Siswanya sudah ingin berubah, tapi orang tuanya masih ingin anaknya kembali ke rumah untuk bekerja," ungkap Juliana.
PSF kemudian merancang intervensi yang menyentuh setiap lapisan ekosistem sekolah. Bukan sekadar memberikan beasiswa atau bantuan pendidikan, melainkan melakukan transformasi menyeluruh terhadap tata kelola sekolah, kepemimpinan, hingga budaya belajar di lingkungan asrama.
"Untuk memutus rantai kemiskinan itu kita harus mengupayakan solusi yang terstruktur supaya tidak kembali lagi. Kalau kita hanya memberikan beasiswa-beasiswa saja, kemiskinan itu akan tetap ada," tegas Juliana.
Di tingkat sekolah, transformasi itu terasa nyata sejak hari pertama. Kepala SMA Dharma Wanita 1 Pare, Ahmad Riziq Mubarok, menceritakan bagaimana PSF mendampingi sekolah membangun sistem dari nol, mulai dari penyusunan standar operasional prosedur (SOP), pengembangan kurikulum, hingga pelatihan guru yang digelar dua hingga tiga kali setiap minggu.
| Baca juga: Kemensos Buka Rekrutmen Besar-besaran 3.000 Guru dan 5.000 Tenaga Kependidikan Sekolah Rakyat 2026 |
"Guru pun ada supervisinya, supervisi akademik, supervisi klinis. Putera Sampoerna benar-benar mendampingi harus by data," kata Riziq.
Pendekatan kepada siswa juga dirancang dengan penuh empati. Di asrama, PSF memperkenalkan sistem pendekatan berbasis keluarga. Para siswa makan bersama pengasuh asrama, mengikuti malam keakraban, dan perlahan belajar untuk berani menunjukkan potensi diri mereka.
Di balik semua itu, terdapat komitmen anggaran yang tidak kecil dari pemerintah daerah. Sekretaris Daerah Kabupaten Kediri, Mohamad Solikin, menyebut program ini membutuhkan anggaran sekitar Rp6 miliar per tahun.
Hal itu menjadi tantangan tersendiri mengingat kewenangan pengelolaan SMA secara formal berada di bawah pemerintah provinsi, bukan pemerintah kabupaten. Untuk menjalankan program tersebut, pemerintah kabupaten menggunakan skema beasiswa khusus bagi warga Kediri yang dikombinasikan dengan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Bantuan Operasional Pendidikan (BOP), serta dukungan dari sektor swasta.
"Kami juga berkolaborasi dengan swasta, misalnya untuk bantuan laptop dari beberapa perusahaan untuk kelas 12," jelas Solikin.
Namun, yang lebih penting dari skema pembiayaan tersebut adalah komitmen untuk tetap menjaga tujuan awal program.
"Sekolah ini tidak boleh menjadi sekolah komersial. Hanya khusus anak desil satu sampai desil empat," tegas dia.
Keberhasilan angkatan pertama ini kini membuka harapan lebih luas. Pemerintah Kabupaten Kediri menyebut SMA Dharma Wanita 1 Pare telah menjadi referensi bagi sekolah lain di sekitarnya, termasuk Sekolah Rakyat yang tengah dirintis.
PSF optimistis sistem yang telah ditanamkan akan terus berjalan meski suatu saat tidak lagi terlibat secara langsung dalam pendampingan sekolah tersebut.
"Ketika kami sudah tidak ada di sini, kapalnya sudah ada, dayungnya sudah ada, mesinnya sudah siap," kata Juliana.
| Baca juga: Prabowo: MBG dan Sekolah Rakyat Bukan Teori, Ini Jawaban Nyata untuk Rakyat |
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda