Sejumlah siswa membaca buku di kereta perpustakaan (Rail Library) di Stasiun Sempolan, Silo, Jember, Jawa Timur, ANT/Seno.
Sejumlah siswa membaca buku di kereta perpustakaan (Rail Library) di Stasiun Sempolan, Silo, Jember, Jawa Timur, ANT/Seno.

Siswa Mudah 'Kedodoran' Baca Soal Bernarasi Panjang

Pendidikan kemampuan literasi
Intan Yunelia • 17 Mei 2019 17:03
Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menilai, rendahnya aktivitas membaca menjadi salah satu penyebab siswa kewalahan mengerjakan soal-soal tes seperti Programme for International Students Assessment (PISA) dan Ujian Nasional (UN). Terlebih lagi mata pelajaran yang lebih banyak berisi narasi-narasi seperti Bahasa Indonesia.
 
“Bicara sedikit ke belakang, membedah kenapa skornya kok sekitar 60 persen. Artinya, kompetensi dasar bahasanya sendiri yang menjawab benar hanya 60 persen dari pertanyaan untuk Bahasa Indonesia,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Totok Suprayitno saat Diskusi dan Peluncuran Indeks Alibaca Tingkat Provinsi di Perpustakan Kemendikbud, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat, 17 Mei 2019.
 
Minat baca siswa perlu ditingkatkan, karena untuk jenis soal narasi banyak disajikan dalam Programme for International Students Assessment (PISA) dan Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI). Tentu minat baca yang rendah akan membuat siswa tak mampu mengerjakan jenis soal seperti itu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Apalagi kalau ditanyakan PISA, AKSI jenis pertanyaannya yang lebih complicated dengan wacana atau teks yang agak panjang lebih "kedodoran". Ini menunjukkan kemampuan bahasa dan memahami bahasanya kurang,” terang Totok.
 
Baca:Remaja Jarang Gunakan Gawai untuk Urusan Pendidikan
 
Ia mengakui bahwa kemampuan berbahasa dan memahami Bahasa Indonesia yang baik dan benar siswa masih kurang sekali. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh beberapa faktor.
 
Di antaranya dimensi akses, dimensi kecakapan, dimensi alternatif, dan dimensi budaya. “Jadi yang kurang bukan hanya skor nilainya saja, tapi juga aktivitas yang terdiri dari empat dimensi tersebut,” pungkasnya.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif