Rektor UMN Optimis Beasiswa OSC Cetak Pemimpin Masa Depan
Penandatanganan MoU, antara Medcom.id dan 17 PTS pemberi beasiswa OSC 2018, Medcom.id/Citra Larasati.
Jakarta: Rektor Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Ninok Leksono, mengaku semakin bersemangat bergabung dalam program beasiswa online scholarship competition (OSC) 2018. Ia optimis, mahasiswa penerima program ini kelak dapat menjadi sosok pemimpin.

“Saya mewakili UMN, kami sudah empat kali mengikuti OSC.  Dari tahun ke tahun kami tidak surut semangat, malah bertambah semangat untuk mengikuti program ini. Saya yakin penerima beasiswa dari program OSC ini akan menjadi pemimpin dalam 15 atau 20 tahun lagi.  Di situlah letak pentingnya program ini,” kata Ninok saat memberikan kata sambutan di Studi Grand Metro TV, Jakarta Barat, Rabu, 8 Agustus 2018.


Terlebih lagi, kata Ninok, visi dan misi UMN selaras dengan tujuan program OSC. Menurutnya, tujuan dari program OSC untuk excellent career dan excellent education sudah terbukti nyata.

“Keluarga bertambah baik kehidupannya karena pendidikan, anaknya menjadi lulus SMA dan lebih lagi lulus Perguruan Tinggi (PT). Jadi yakinlah kita bahwa melalui program pemberian penyaluran beasiswa dengan memanfaatkan teknologi canggih ini jangkauannya akan makin meluas dan seperti yang kami praktekkan itu kriterianya pun harus diperluas,” ungkap dia.

Baca: Beasiswa OSC Ditantang Akomodir Siswa Berprestasi Nonakademik

Kriteria itu, lanjut dia, harus dikembangkan tidak hanya menerima beasiswa dari segi akademik saja. Ia ingin, beasiswa OSC dapat mempertimbangkan beasiswa untuk siswa yang berprestasi di bidang kesenian, olahraga dan teknologi.

“Selama ini memberi beasiswa itu hanya didasarkan pada anaknya pintar dan miskin, lalu IPK (Indeks Prestasi Kumulatif)-nya 3,5 ke atas. Nah, saya ingin beasiswa itu juga untuk anak berprestasi di bidang olahraga, kesenian. Itu juga perlu kita pertimbangkan untuk dapat beasiswa,” ujar dia.

Ninok juga berharap beasiswa yang diberikan nantinya bisa berkembang ke arah penguatan program studi STEM (Science, Technology, Engineering, dan Mathematic).   Menurutnya, selama ini bidang-bidang STEM minim peminat,  yaitu hanya sekitar 10 persen dari total lulusan SMA setiap tahunya.

Ia meyakini, dengan meningkatnya SDM bidang teknik yang berkualitas, mampu mendongkrak ekonomi Indonesia menjadi lebih baik.

“Indonesia itu mau dibanting apapun seperti program Economic Challenge, ekonominya tidak akan berubah kalau hanya mengandalkan sumber daya alam. Jadi, kami lebih pelopori industri kreatif daripada sekadar menggali hutan dan sebagainya,” pungkas dia.



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id