Melalui TKA, Kemendikdasmen ingin membangun budaya baru dalam memetakan arah pendidikan. Di mana sekolah tidak boleh takut takut pada data dan evaluasi, termasuk yang tampak dalam hasil TKA.
"Kita sedang membangun budaya baru, budaya yang tidak takut pada data dan tidak alergi pada evaluasi,” kata Toni di Tangerang, Kamis 30 April 2026.
| Baca juga:
|
Toni menegaskan bahwa TKA menjadi instrumen penting untuk membaca potret nyata kualitas pendidikan di Indonesia. Data yang dihasilkan diharapkan mampu mendorong perubahan konkret dalam proses pembelajaran di berbagai jenjang.
“Kita sedang membaca potret nyata kualitas pendidikan Indonesia, dan ini harus menjadi dasar perubahan,” jelasnya.
Hasil TKA tidak hanya menyajikan angka, tetapi juga memberikan gambaran komprehensif terkait capaian siswa di tingkat nasional hingga satuan pendidikan. Informasi ini dinilai penting untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan pembelajaran.
“Hasil TKA bisa menggambarkan posisi capaian secara komprehensif dari nasional sampai satuan pendidikan,” kata Toni.
Lebih lanjut, data TKA juga memetakan kemampuan siswa secara spesifik, terutama pada mata pelajaran utama seperti Bahasa Indonesia dan matematika. Pemetaan ini memungkinkan perbaikan pembelajaran dilakukan secara lebih terarah.
“Ini membantu melihat area yang sudah kuat dan yang masih perlu ditingkatkan,” ujarnya.
Salah satu pendekatan yang didorong dari hasil TKA adalah penerapan pembelajaran terdiferensiasi. Metode ini memungkinkan guru menyesuaikan strategi belajar dengan kemampuan masing-masing siswa.
| Baca juga: Cara Ikut TKA Susulan Jenjang SD dan SMP, Simak Kriteria dan Jadwalnya |
“Guru bisa mengetahui kemampuan siswa di mana, lalu menyusun pembelajaran yang sesuai,” ungkap Toni.
Ia berharap guru dapat memanfaatkan hasil TKA menjadi alat untuk mengevaluasi metode pembelajaran yang selama ini diterapkan. Data tersebut dapat digunakan untuk merancang strategi baru yang lebih adaptif terhadap kebutuhan siswa.
Sekolah pun diharapkan jeli terhadap data TKA agar dapat dimanfaatkan untuk merancang program peningkatan kualitas belajar. Sekolah dapat menggunakan hasil tersebut sebagai pijakan dalam menyusun kebijakan internal.
“Satuan pendidikan bisa memetakan capaian siswa dan merancang program perbaikan,” jelasnya.
Tidak hanya itu, pemerintah daerah juga dapat memanfaatkan data TKA untuk melihat peta kualitas antar sekolah. Informasi ini penting dalam menentukan kebijakan pendidikan yang lebih tepat sasaran, termasuk dalam alokasi anggaran.
“Dinas pendidikan bisa melihat peta kualitas dan menyusun kebijakan berbasis data,” pungkasnya Toni.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News