Program inovatif ini resmi diluncurkan oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar di Jakarta pada pekan lalu. Terobosan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Islam ini dirancang khusus untuk menjembatani gap antara teori di kampus dengan ekspektasi dunia kerja yang kian kompetitif.
Bukan sekadar formalitas cari pengalaman, Menag Nasaruddin menegaskan bahwa PRIMA adalah sebuah gerakan kolektif untuk mencetak lulusan yang adaptif, kaya skill, namun tetap kuat secara moral dan spiritual.
“PRIMA adalah bagian dari transformasi pendidikan keagamaan yang menjawab tantangan zaman. Lulusan PTKI harus mampu bergerak dari teks ke konteks, dari ruang kelas ke kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa,” ujar Menag Nasaruddin Umar dikutip dari laman Kemenag, Jumat, 26 Juni 2026.
PRIMA juga relate banget dengan visi besar negara, yakni selaras dengan ASTA CITA dan ASTA PROTAS Kemenag. Fokusnya sangat komprehensif, mulai dari penguatan SDM, digitalisasi, hingga pemberdayaan ekonomi. Menag mengajak semua pihak untuk ikut menyukseskan program ini agar dampaknya benar-benar terasa oleh mahasiswa.
“Ini bukan hanya program magang, tapi gerakan nilai. Kita ingin melahirkan generasi unggul: profesional, religius, inovatif, dan mandiri,” tambahnya.
Dari Pencari Kerja Jadi Pencipta Nilai
Dirjen Pendidikan Islam, Amien Suyitno, paham betul keresahan Gen Z akan tingginya angka pengangguran sarjana yang pernah dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). Oleh karena itu, persiapan matang sebelum lulus adalah harga mati.“Ijazah saja tidak cukup. Mahasiswa harus dibekali keterampilan, pengalaman kerja, dan mental tangguh,” ujarnya.
Agar skill mahasiswa benar-benar level up, PRIMA dirancang sangat sistematis dan terukur melalui tiga tahapan keren:
- Pre-Internship dan Bootcamp: Sebelum terjun ke industri, mahasiswa digembleng dulu soal etos kerja, literasi digital, pemanfaatan AI di dunia kerja, sampai psikotes untuk memetakan potensi diri.
- Internship di Mitra Industri: Mahasiswa akan magang langsung selama 2 hingga 10 bulan di perusahaan atau instansi ternama, baik secara reguler maupun berbasis project.
- Mentorship dan Monitoring: Nggak dilepas begitu saja, peserta akan didampingi langsung oleh praktisi industri dan dosen. Evaluasinya juga berjalan secara real-time dan transparan lewat platform digital.
Ribuan Peluang Tersedia di Depan Mata
Antusiasme terhadap PRIMA sangat tinggi. Hingga pertengahan Juni 2025, tercatat lebih dari 70 mitra industri papan atas sudah bergabung. Hasilnya? Tersedia lebih dari 1.615 posisi magang yang tersebar di 26 provinsi dan 328 kabupaten/kota!Saat ini, sudah ada lebih dari 160 PTKI dan ratusan mahasiswa yang mengamankan kursi dengan mendaftar via platform digital PRIMA.
"Kita targetkan hingga 2029 program PRIMA akan menjangkau 15.000 mahasiswa peserta, 300 mitra industri, dan melibatkan 600 PTKI," kata Amien Suyitno.
Ke depannya, Kemenag optimis jebolan Magang PRIMA bakal punya keunggulan tersendiri. Mereka dirancang agar punya fleksibilitas tinggi untuk menciptakan penghasilan tambahan (side income) dan tidak bergantung pada satu pintu karier saja.
“Kita ingin mahasiswa PTKI menjadi agen perubahan: pencipta nilai, bukan sekadar pencari kerja. Dunia kerja masa depan butuh fleksibilitas, integritas, dan inovasi,” tandasnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda