Kampus UI. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
Kampus UI. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id

Kenalan dengan SATU UI, Layanan Akademik hingga Beasiswa Terintegrasi

Ilham Pratama Putra • 18 Agustus 2026 05:27
Ringkasnya gini..
  • UI mengganti SIAK-NG dengan SATU UI setelah sistem lama dinilai tak lagi mampu memenuhi kebutuhan akademik.
  • SATU UI disiapkan sebagai ekosistem digital yang mengintegrasikan layanan akademik, riset hingga beasiswa.
  • Sistem baru UI diarahkan menjadi satu platform untuk mendukung perjalanan mahasiswa selama menempuh pendidikan.
Jakarta: Universitas Indonesia (UI) mengganti Sistem Informasi Akademik Next Generation (SIAK-NG) dengan sistem baru. UI baru saja meresmikan SATU UI (Sistem Akademik Terpadu Universitas Indonesia) untuk menggantikan sistem akademik SIAK-NG. 
 
Pergantian ini bukan sekadar perubahan nama sistem. Namun, sebagai bagian dari transformasi digital yang nantinya menghubungkan berbagai layanan mahasiswa, mulai dari akademik, riset hingga beasiswa.
 
Rektor UI Heri Hermansyah mengatakan, SIAK-NG yang telah digunakan sejak 2007 sudah memasuki usia hampir 20 tahun. Dalam perkembangannya, sistem tersebut dinilai sudah tidak lagi mampu mengakomodasi kebutuhan akademik yang semakin luas.

"Jadi hampir 20 tahun sistem informasi akademik Universitas Indonesia itu tidak di-upgrade. Artinya itu sudah obsolete," kata Heri dalam keterangannya, Senin 17 Agustus 2026.
 
Baca juga: Guru Besar Harus Selesai dengan Dirinya Sendiri, Waktunya Kontribusi ke Negara  

Kondisi tersebut, menurut Heri, salah satunya terlihat ketika mahasiswa melakukan pengisian Isian Rencana Studi (IRS). Bahkan, muncul istilah "SIAK-War" karena mahasiswa harus berebut mendapatkan akses saat sistem dibuka.
 
"Jadi buru-buru untuk ambil akses, kemudian server down dan seterusnya," ujarnya.
 
Karena itu, UI mengembangkan sistem baru selama sekitar satu tahun enam bulan. SIAK-NG kemudian dinyatakan pensiun dan digantikan SATU UI yang mulai digunakan tahun ini.
 
Namun, Heri menegaskan SATU UI tidak hanya dibuat sebagai pengganti SIAK-NG. Heri menjelaskan SATU UI dirancang sebagai platform yang lebih besar. 
 
"Ini step by step, pertama kita launching dulu Sistem Akademik Terpadu yang sudah mulai dipakai, SLCM-nya untuk menggantikan SIAK-NG dan ini mulai berjalan tahun ini," jelasnya.
 
SATU UI nantinya diarahkan untuk mendukung Student Life Cycle Management (SLCM). Dengan konsep tersebut, berbagai kebutuhan mahasiswa selama menjalani proses pendidikan di UI dapat dikembangkan dalam ekosistem digital yang lebih terintegrasi.
 
Dalam jangka panjang, Heri membayangkan berbagai layanan tersebut dapat diakses mahasiswa melalui satu platform pada perangkat mereka. "Ini akan menjadi satu platform besar yang kemudian menjadi flagship-nya Universitas Indonesia," katanya.
 
Yang menarik, cakupan SATU UI tidak berhenti pada urusan akademik. Heri menyebut sistem informasi yang berkaitan dengan riset sebenarnya sudah tersedia secara terpisah dan nantinya dapat dikoneksikan dengan platform tersebut.
 
"Jadi di dalam sistem akademik tadi, yang riset sudah ada. Jadi nanti tinggal dikoneksikan saja," ujarnya.
 
Hal serupa berlaku untuk layanan beasiswa. Menurut Heri, informasi dan layanan terkait beasiswa juga akan menjadi bagian yang dapat terhubung dalam ekosistem tersebut.
 
"Bukan hanya riset, juga beasiswa. Ya, beasiswa masuk juga," tuturnya.
 
Dengan demikian, SATU UI diarahkan bukan hanya sebagai sistem untuk mengurus administrasi perkuliahan. Melainkan sebagai pintu masuk menuju berbagai layanan digital yang berkaitan dengan perjalanan mahasiswa di UI.
 
Pengembangan SATU UI juga menjadi bagian dari agenda digitalisasi yang lebih luas di UI. Heri mengatakan kampus juga telah melakukan digitalisasi pada sistem keuangan.
 
Sejak Februari 2026, berbagai proses keuangan, termasuk pembayaran, telah dilakukan secara digital. UI juga mengembangkan dashboard yang memungkinkan pimpinan memantau sejumlah parameter kinerja universitas melalui perangkat digital.
 
Menurut Heri, transformasi tersebut diperlukan agar UI dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi sekaligus meningkatkan efisiensi.
 
"Digitalisasi ini merupakan suatu keharusan ya, suatu keniscayaan yang harus dilakukan di masa kini," pungkasnya.
 
Baca juga: Berapa Gaji Dosen UI Sebenarnya? Rektor Ungkap Bisa Capai Rp45 Juta  

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan