Siswa membaca buku di perpustakaan. DOK Medcom.id/Citra Larasati
Siswa membaca buku di perpustakaan. DOK Medcom.id/Citra Larasati

Indeks Literasi Indonesia Masih Rendah, Lestari Moerdijat: Kolaborasi Daerah Jadi Kunci

Renatha Swasty • 19 Juni 2026 15:44
Ringkasnya gini..
  • Perlu peran daerah dalam kolaborasi multi pihak untuk membangun kecakapan literasi dan pengembangan budaya baca di Tanah Air.
  • Dukungan masif dalam membangun ekosistem baca yang baik sejak dini sangat dibutuhkan.
  • Rendahnya tingkat ketersediaan dan keterjangkauan akses terhadap bahan bacaan bermutu harus segera diatasi dengan langkah nyata.
Jakarta: Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendorong peningkatan peran daerah dalam kolaborasi multi pihak untuk membangun kecakapan literasi dan pengembangan budaya baca di Tanah Air. Hal itu merupakan kunci mengejar ketertinggalan literasi.
 
"Program peningkatan literasi masyarakat tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Upaya pemerintah pusat harus didukung oleh pemerintah daerah dan masyarakat. Sinergi antara parapihak terkait harus diperkuat dengan aksi nyata," kata Rerie, sapaan karib Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulis, Jumat, 19 Juni 2026. 
 
Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin, dalam acara bedah buku Literasi di Daerah Realitas dan Strategi Kebijakan Perpustakaan Daerah, menegaskan pemerintah daerah (Pemda) memegang peran strategis sebagai ujung tombak dalam upaya peningkatan literasi masyarakat. Aminudin menyebut pada dasarnya pembangunan kecakapan literasi dan pengembangan budaya baca berlangsung di daerah. 

Data Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat Indonesia 2026

Perpusnas mencatat, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) nasional pada Maret 2026 masih berada pada angka 40,6, masuk dalam kategori rendah (skala 30-49,9). Sementara itu, Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) nasional tercatat di angka 54,80, masuk dalam kategori sedang (40,1-60).

Rerie mengatakan sejumlah catatan itu harus dijawab dengan penguatan kolaborasi multipihak secara masif dan berkelanjutan. Dia menyebut persoalan utama literasi di Indonesia bukan semata ketiadaan minat baca
 
Dukungan masif dalam membangun ekosistem baca yang baik sejak dini sangat dibutuhkan. Rendahnya tingkat ketersediaan dan keterjangkauan akses terhadap bahan bacaan bermutu harus segera diatasi dengan langkah nyata. 
 
Anggota Komisi X DPR RI itu mendorong layanan perpustakaan dapat menjangkau hingga ke desa-desa. Dia berharap perpustakaan dapat menjadi pusat kegiatan masyarakat, bukan sekadar tempat menyimpan buku. 
 
Selain itu, dinas pendidikan harus mampu mengintegrasikan pengajaran pengembangan literasi dalam kurikulum maupun kegiatan ekstrakurikuler di institusi pendidikan. "Saat ini, momentum untuk bergerak. Bangsa ini butuh generasi yang cerdas dan berkarakter, dan itu dimulai dari kemampuan literasi," tegas anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA