Ilustrasi.  Foto:  MI/Galih Pradipta
Ilustrasi. Foto: MI/Galih Pradipta

Bentuk Baru Soal Pengganti UN, Kenalan Yuk

Pendidikan Ujian Nasional Kebijakan pendidikan
Muhammad Syahrul Ramadhan • 11 Desember 2019 18:09
Jakarta: Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim, resmi meniadakan Ujian Nasional (UN) mulai 2021. Penilaian perkembangan pendidikan siswa selanjutnya diganti dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter.
 
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Totok Suprayitno menyebut, soal yang akan diujikan dalam asesmen pengganti UN tersebut berisi kombinasi dari berbagai variasi model soal.Mulai dari esai hingga pilihan benar atau salah.
 
"Variasi banyak. Kombinasi antara esai, pilihan benar salah, mengurutkan, re-arrange, juga jawaban pendek. Tidak hanya satu jawaban," jelas Totok kepada wartawan di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Rabu, 11 Desember 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Totok menjelaskan, di sistem penilaian yang baru tidak akan mengujikan mata pelajaran seperti UN. Substansi pengujian ada pada literasi, pemahaman bahasa, penggunaan nalar, serta pemahaman wacana.
 
"Tidak ada mata pelajaran, tidak ada hafalan, lebih pada analisis penalaran," terangnya.
 
Kemendikbud belum menetapkan nomenklatur atau penamaan resmi pada asesmen kompetensi minimum dan survei karakter pengganti UN tersebut. Namun, ia memastikan, pengganti UN itu akan memiliki nama yang mudah diingat.
 
"Intinya asesmen kompetensi minimum dan survei karakter. Nanti kita buat nomenklaturnya, agar lebih gampang diingat," ujarnya .
 
Hari ini Mendikbud Nadiem Makarim merilis empat kebijakan pendidikan "Merdeka Belajar". Salah satunya adalah kepastian penghapusan UN yang diganti dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter.
 
"Materi UN padat, cenderung fokus materi menghafal, bukan kompetensi. Jadi, beban stres siswa, guru, dan orang tua berubah menjadi indikator keberhasilan," ujarnya.
 
Asesmen kompetensi nantinya akan mengukur dua kemampuan kognitif, yakni literasi dan numerasi. Nadiem menegaskan literasi dan numerasi ini bentuknya bukan mata pelajaran.
 
"Literasi bukan kemampuan membaca. Literasi itu menganalisis suatu bacaan, mengerti memahami konsep di balik tulisan," ungkap Nadiem.
 
Sementara Survei Karakter dilakukan untuk mengetahui kondisi ekosistem di sekolah. Salah satunya survei bagaimana mengimplementasikan gotong royong, toleransi, dan sebagainya. Nantinya, asesmen pengganti UN ini bakal digelar di pertengahan jenjang.
 
Tujuannya agar hasilnya dapat digunakan untuk perbaikan oleh sekolah dan guru. "Tadinya di akhir, nanti diubah menjadi di tengah jenjang. Ada dua alasan, pertama dilakukan di tengah agar memberikan waktu pada sekolah dan guru untuk perbaikan sebelum lulus," terangnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif