Ilustrasi. Foto: MI
Ilustrasi. Foto: MI

Kekerasan di Rumah Dampak Kegagalalan Orang Tua Ekspresikan Cinta

Pendidikan kekerasan anak perlindungan anak
Muhammad Syahrul Ramadhan • 22 Juli 2020 14:21
Jakarta: Pendiri Keluarga Kita, Najelaa Shihab menyebut kekerasan pada anak di rumah, merupakan bentuk kegagalan orang tua dalam mengekspresikan cintanya. Hal tersebut terjadi lantaran orang tua belum mampu mengelola emosi dengan baik.
 
“Banyak perilaku kekerasan muncul bukan karena anaknya nakal, tetapi karena kegagalan orang tua mengekspresikan cintanya,” kata Najelaa dalam webinar Rangkul Keluarga Cegah Kekerasan, Rabu, 22 Juli 2020.
 
Itu, lanjutnya, merupakan perilaku emosional yang kemudian menjadi lingkaran kekerasan. Bahkan, tingkatan kekerasannya bisa semakin meningkat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Biasanya sangat mudah tereskalasi, awalnya dari cubit sedikit sama dihukum berhari-hari, ini karakter emosi yang membuat siapapun mudah terjebak di dalamnya,” ujarnya.
 
Najelaa menyampaikan, orang tua terjebak dalam emosi ini karena belum mampu mengelola emosi dengan baik. “Tidak tumbuh seiring kedewasaan atau sebagai orang tua,” ucapnya.
 
Baca juga:Muhammadiyah Mundur dari Organisasi Penggerak, Ini Alasannya
 
Lebih lanjut ia menyebut, kekerasan anak di rumah ini bentuknya beragam. Mulai dari penelantaran, perundungan, hingga kekerasan verbal. Namun terkadang, kekerasan-kekerasan itu pun masih sering dianggap bukan sebuah masalah.
 
“Ini masih sangat ditolerir, atau mungkin tidak dianggap masalah di ekosistem kita,” jelasnya.
 
Padahal, kata Najelaa, kasus-kasus yang dianggap wajar ini justru awal dari kekerasan-kekerasan yang ekstrim. Ia pun menuturkan untuk mengidentifikasi anak mengalami kekerasan di tahap awal itu cukup sulit.
 
“Bahkan oleh orang dekat dengan lingkungannya sendiri,” ucapnya.
 
Untuk itu perlu orang tua lain, tetangga teman untuk bisa mengidentifikasi seorang anak mengalami kekerasan. Menurut Najelaa, itu merupakan hal yang krusial untuk mengatasi kekerasan.
 
“Karena kenyataan di lapangan itu masih banyak orang memilih diam, menganggap kekerasan dalam rumah tangga ini pada anak, kalaupun bukan wajar, tidak setuju tapi merasa urusan keluarga itu sendiri, dan memilih tidak turut ikut campur,” terangnya.

 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif