Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Martaji menyebutkan ada tiga hal yang membuat guru masih gagap teknologi atau 'Gaptek'. Pertama adalah absennya peran pemerintah dalam menjalankan tugasnya meningkatkan kompetensi guru, termasuk dalam bidang TIK.
Berikutnya adalah, peran Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang menurutnya telah gagal mencetak jebolan calon guru yang berkualitas. "Gagalnya LPTK dalam mencetak lulusan-lulusan yang kompeten dalam bidangnya dan penguasaan TIK dalam pembelajaran," kata Ubaid kepada Medcom.id, Jakarta, Jumat, 7 Februari 2020.
Kemudian yang ketiga adalah Pemerintah Daerah yang tidak serius menangani dunia pendidikan. Ditambah lagi kompetensi guru yang juga tidak menjadi perhatian.
"Pemda masih menganggap bahwa persoalan pendidikan dan juga kompetensi guru bukanlah hal prioritas. Dampaknya, kualitas pendidikan kita sangat rendah, begitu pula dengan kemampuan literasi kita," ungkapnya.
Sebelumnya, Kemendikbud melakukan pemetaan kompetensi guru terhadap pemanfaatan teknologi kepada 28 ribu guru. Pemetaan ini dilakukan dengan menggunakan sistem yang diterapkan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).
Ada empat level pemetaan yang digunakan untuk mengukur kompetensi guru tersebut. Level satu ICT literasi, atau literasi Teknologi, Informasi, Komunikasi.
Kedua, level ketika guru sudah mampu mengoperasikan dan mengaplikasikannya dengan mudah. Level ketiga adalah level ketika guru sudah bisa membuat konten sendiri. Level keempat, guru sudah mampu menjadi trainer.
Tercatat dari pemetaan pada 28 ribu guru tersebut, hanya 46 persen di antaranya yang lulus level satu. Itu artinya yang menguasai teknologi level dasar masih di bawah 50 persen, dan itu diakui oleh Plt. Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Gogot Suharwoto
"Hasil pemetaan kami dari 28 ribu (guru) ternyata yang menguasai level 1 baru 46%. jadi memang kendala utama pada kompetensi menguasai, masih di bawah 50 persen," kata Gogot.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News