Anggota Komunitas Homeschooling Oase berkegiatan di kawasan Kebon Nanas, Jakarta Timur, Medcom.id/Immanuel Antonius.
Anggota Komunitas Homeschooling Oase berkegiatan di kawasan Kebon Nanas, Jakarta Timur, Medcom.id/Immanuel Antonius.

Program PPK Dinilai Belum Membumi

Pendidikan beasiswa osc Kekerasan di Sekolah
Theofilus Ifan Sucipto • 14 Februari 2019 20:03
Jakarta: Maraknya kekerasan di sekolah menjadi sebuah ironi di tengah upaya pemerintah meningkatkan kualitas pendidikan melalui Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Terbaru, kasus perundungan siswa terhadap gurunya yang terjadi di salah satu sekolah di Gresik, Jawa Timur dan menjadi viral di dunia maya.
 
Psikolog Anak Seto Mulyadi alias Kak Seto menilai, program PPK belum membumi dan berjalan dengan maksimal di sekolah. "Intinya begitu (PPK belum maksimal)," kata Seto saat ditanya soal kekerasan di sekolah dan efektivitas penerapan PPK, kepadaMedcom.iddalam Seminar Nasional 'Tantangan dan Solusi Pendidikan di Era Milenial' yang digelar di Universitas Al-Azhar (UAI), Jakarta Selatan, Kamis 14 Februari 2019.
 
Seto menilai maraknya kekerasan di sekolah juga disebabkan masih banyak guru yang belum dilatih menghadapi karakter murid yang beragam. Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) itu menyebut, pemberian disiplin pada anak harus dengan motivasi internal, bukan eksternal seperti memukul anak.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Jangan dibuat mencekam harus menjawab semua soal dengan benar. Harus ikutin semua instruksi guru, kalau tidak akan dipukul," ujar Seto.
 
Sebaliknya, Seto menyarankan agar guru menghadirkan nuansa persahabatan dan menunjang kreativitas anak yang dinilai lebih efektif dalam meningkatkan kualitas karakter anak. Dia mencontohkan keberhasilannya mencetak murid-murid yang sukses melalui program sekolah rumahnya (homeschooling) dalam 10 tahun terakhir.
 
Sistemnya adalah murid hanya masuk sekolah rumah tiga kali seminggu. Satu kali pertemuan berdurasi tiga jam.
 
Baca:Wacana Kontrak Belajar Mendesak Diterapkan
 
Namun selama proses belajar, guru memosisikan diri sebagai teman dan bukan seperti komandan. Menurut Seto, hasilnya sangat memuaskan.
 
"Hasilnya bagus. Mereka masuk perguruan tinggi seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), bahkan Harvard University," beber Seto.
 
Dia membandingkan kualitas murid sekolah rumah dengan sekolah swasta yang ia bangun dengan standar tinggi fasilitas lengkap dan guru dari luar negeri. Seto menilai jebolan sekolah rumah belajar ini tidak kalah, bahkan lebih unggul dari murid yang belajar di sekolah dengan fasilitas lebih baik.
 
Dalam kesempatan yang sama, Profesor Hui-Hua Chen dari Universitas Dong Hwa, Taiwan, sepakat atas pernyataan Seto. Namun Chen juga mengingatkan peran orangtua sangat penting dalam membentuk karakter anak.
 
Perilaku orangtua sangat penting untuk anak, karena dari kecil, anak belajar dengan meniru apa yang mereka lihat. Dalam kasus ini, orangtua adalah orang terdekat dengan anak dari kecil.
 
"Orangtua butuh meluangkan banyak waktu untuk anak. Misalnya main kartu bersama atau membaca bersama," ujar Chen.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:25
  • SUBUH04:35
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif