Hal tersebut menjadi salah satu pesan yang diangkat dalam Science Film Festival 2026. Festival yang digelar Goethe-Institut tersebut mengajak pelajar mengenal peluang sekaligus tantangan AI melalui film dan eksperimen sains.
Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Bidang Peningkatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) dan Kompetensi Guru, Maila Dinia Husni Rahiem, mengatakan AI memberikan banyak hal yang bisa dieksplorasi pelajar. Salah satunya melalui media film.
"Bagaimana komputer mengenali sebuah gambar? Bagaimana AI menghasilkan sebuah jawaban? Dan bagaimana kita bisa mengetahui apakah jawaban tersebut benar?" ujar Maila di Jakarta, Selasa 6 Oktober 2026.
Menurut dia, pertanyaan-pertanyaan tersebut berkaitan erat dengan pembelajaran coding dan kecerdasan buatan yang mulai diperkenalkan di sekolah. Pun, pelajar diharapkan dapat lebih mengenal AI dan memanfaatkannya lewat Science Film Festival.
Adapun Science Film Festival 2026 berlangsung secara hybrid pada 6 Oktober hingga 14 November 2026 dan menjangkau pelajar jenjang SD hingga SMA di 70 kabupaten/kota di Indonesia. Film yang ditampilkan dalam festival, kata Maila, dapat membantu siswa melihat bagaimana AI digunakan dalam kehidupan sehari-hari sekaligus menghubungkannya dengan materi yang mereka pelajari di kelas.
"Film juga dapat memberikan ide untuk sebuah eksperimen atau sesuatu yang bisa dibuat. Di situlah STEM, yaitu sains, teknologi, teknik, dan matematika, berperan," jelasnya.
Baca Juga :
Universitas Al-Azhar Kairo Bakal Buka 4 Fakultas Baru, Artificial Intelligence hingga Kedokteran
Maila mengatakan pendekatan pembelajaran berbasis STEM juga diharapkan mampu mendorong siswa menghubungkan pelajaran dengan persoalan nyata. Siswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga diajak menyelidiki pertanyaan, melakukan eksperimen, merancang sesuatu, dan memperbaiki solusi berdasarkan hasil percobaan.
Ia mencontohkan, siswa yang menonton film tentang air dapat memperoleh inspirasi untuk membuat penyaring air sederhana. Pendekatan tersebut sejalan dengan program STEM nasional yang diluncurkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada September 2026 dengan semangat "Berani Mencoba, Kreatif Mencipta".
"Siswa dapat memilih bahan, membandingkan hasilnya, lalu mengubah desainnya. Setiap percobaan memberikan sesuatu untuk dipelajari," katanya.
Pembukaan Science Film Festival 2026. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
Maila mengatakan pembelajaran STEM yang dikembangkan pemerintah berpegang pada lima prinsip. Yakni mudah, murah, menyenangkan, penuh kesadaran, dan bermakna.
"Ini sangat relevan dengan apa yang kita lakukan hari ini melalui festival film. Bawa pertanyaan kalian ke festival ini, kemudian bawa kembali ke sekolah dan diskusikan dengan teman-teman," ujarnya.
Ia juga mendorong pelajar untuk mencoba membuat sesuatu bersama dan membagikan hasil temuannya. Bahkan, pengalaman tersebut dapat dikembangkan menjadi karya film pendek buatan siswa sendiri.
"Saya berharap film-film yang kalian tonton dapat menginspirasi sebuah pertanyaan yang tidak sabar untuk kalian eksplorasi dan memberikan kepercayaan diri untuk mencobanya," tutur Maila.
Science Film Festival Hadir di 70 Kota
Science Film Festival 2026 merupakan penyelenggaraan ke-17 di Indonesia. Tahun ini, festival mengangkat tema Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan dan menghadirkan 20 film dari tujuh negara, yakni Jerman, Kolombia, Belanda, Argentina, Meksiko, Yunani, dan Korea Selatan.Setelah pemutaran film, peserta juga mengikuti eksperimen sains secara langsung. Kegiatan digelar di sekolah, universitas, pusat sains, dan komunitas, serta secara daring melalui Zoom.
Sejumlah daerah yang menjadi lokasi kegiatan antara lain Aceh Besar, Bandung, Yogyakarta, Jakarta, Ende, Tobelo, Kupang, Maumere, dan Waingapu. Para siswa kemudian mengikuti sejumlah eksperimen sains, di antaranya Water Bubble Dancing Bubbles, Dark Transformation: Black Reaction, dan Color Vanishing: The Disappearing Color.
Direktur Goethe-Institut Wilayah Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru, Constanze Michel, mengatakan festival tahun ini ingin mempertemukan generasi muda dengan film yang mengeksplorasi peran AI. Utamanya untuk sains, pendidikan, dan visi keberlanjutan.
"Melalui pemutaran film dari berbagai negara, kami ingin mendorong generasi muda Indonesia untuk mengeksplorasi sains secara menyenangkan," ujarnya.
Selain pemanfaatannya dalam pendidikan dan kehidupan sehari-hari, Science Film Festival 2026 juga mengangkat penggunaan AI untuk isu lingkungan dan keberlanjutan. AI dapat digunakan untuk mendukung konservasi, misalnya melacak keanekaragaman hayati melalui teknologi pengenalan gambar, mengoptimalkan sistem energi terbarukan, hingga memodelkan skenario perubahan iklim.
Namun, festival juga mengajak pelajar melihat tantangan di balik perkembangan AI. Penggunaan teknologi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai penggunaan data, transparansi, kesetaraan, hingga dampak lingkungan akibat kebutuhan energi dari komputasi skala besar.
Duta Besar Republik Federal Jerman untuk Indonesia Ralf Beste mengatakan pengembangan dan penggunaan AI perlu dilakukan secara bertanggung jawab. Caranya dengan memperhatikan manusia, transparansi, perlindungan data, dan integritas ilmiah.
"Science Film Festival merupakan kesempatan yang sangat baik untuk membangkitkan rasa ingin tahu generasi muda terhadap sains dan teknologi serta menginspirasi mereka untuk turut membentuk masa depan," ujarnya.
Science Film Festival pertama kali digelar di Thailand pada 2005 dan hadir di Indonesia sejak 2010. Pada penyelenggaraan tahun lalu, festival tersebut diikuti 74.857 peserta dari lebih dari 200 sekolah di Indonesia.