ITS Minta BNPT Berikan Data Radikalisme
Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Joni Hermana. Foto: Humas ITS
Surabaya:Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) meminta Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) memberikan data lengkap terkait tuduhan lembaga itu tentang kampus ITS yang dinyatakan terpapar radikalisme.

Rektor ITS, Joni Hermana menyampaikan ucapan terima kasih kepada BNPT yang sudah memberi peringatan atau indikasi bahwa ITS adalah salah satu perguruan tinggi yang masuk dalam tujuh perguruan tinggi yang tersusupi radikalisme.


"Kami melihat di sini tenang-tenang saja. Itu dari kacamata kami sebagai akademisi. Kami menunggu dari BNPT untuk memberikan data dan membantu ITS menulusuri titiknya di mana," kata Joni di kampus ITS Surabaya, Selasa, 5 Juni 2018.

Melawan radikalisme, kata Joni, tidak mudah karena tidak terlihat. "Kami mohon dibantu untuk bisa mengidentifikasi agar tidak salah langkah," kata Joni.

Joni menyatakan, ITS sudah menelusuri karyawan yang mempunyai paham seperti itu, namun masih dibatasi kepada mereka yang terlibat organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

"Tapi ini juga sebagai proses pembelajaran bagi kita seperti apa yang dimaksud dengan radikalisme agar bisa melakukan antisipasi dengan benar," katanya.

Ditanya adanya penyusupan paham radikal ke Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Joni menegaskan pihaknya sudah melakukan pembinaan secara berjenjang. Sejak mahasiswa baru masuk ke ITS, sudah melakukan proses pendidikan berupa pelatihan yakni spiritual dan kebangsaan, yang diharapkan dengan demikian wawasan mereka lebih baik dan memahami mereka bagian dari NKRI.

"Ada proses pendidikan dan pengaderan yang berlangsung sekitar dua minggu, dilakukan secara terintegral sehingga membuat bisa memberi pemahaman yang baik ke mahasiswa," ujarnya.

Selanjutnya, dalam setahun berjalan mahasiswa diwajibkan masuk UKM. UKM di bawah pembinaan Direktur Kemahasiswaan ITS.

Dari situ ITS berupaya sebaik mungkin mencegah adanya penyusupan. "Tapi sekali lagi, melawan radikalisme itu melawan sesuatu yang tidak kentara, sehingga perlu tambahan informasi dari BNPT, polisi dan lainnya agar dalam proses pembinaan terhadap mahasiswa bisa dilakukan dengan baik dan tidak sampai tersusupi hal-hal yang tidak diinginkan," ucapnya.


 



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id