Menurut Dedi, kegiatan semacam Trip Observasi memberikan kesempatan kepada murid untuk memperoleh pengetahuan aplikatif yang tidak selalu didapatkan melalui pembelajaran di sekolah. “Anak-anak bisa kembali ke alam kemudian memahami alam secara luas, tahu sumber air di mana, tahu gunung di mana, tahu menanam padi bagaimana, tahu cara memasak secara tradisional bagaimana. Ini adalah pengetahuan yang mungkin tidak didapatkan selama ini di sekolah yang bersifat aplikatif,” ujar Dedi dalam siaran persnya, dikutip Jumat, 2 Oktober 2026.
Dedi berharap pengalaman yang diperoleh selama mengikuti Trip Observasi dapat memberikan kesan positif bagi para murid. Ia menyampaikan harapan agar murid kembali pulang dengan membawa kebahagiaan.
“Pokoknya datang membawa kegelisahan, pulang membawa kebahagiaan,” katanya.
Trip Observasi 2026 merupakan kegiatan wajib bagi murid kelas X SMA Labschool Jakarta yang diikuti sebanyak 286 murid. Dengan mengusung tema “Membentuk Murid yang Mandiri, Berkarakter, dan Berbudaya Ilmiah melalui 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”. Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari penguatan pembelajaran mendalam melalui pengalaman belajar yang secara langsung di tengah kehidupan masyarakat.
Kepala SMA Labschool Jakarta, Badru Zaman, menjelaskan, Trip Observasi dirancang untuk menghadirkan berbagai pengalaman kehidupan nyata di desa. Para murid tidak hanya melakukan pengamatan, tetapi juga berbaur dengan aktivitas warga, melakukan pengamatan dan penelitian sederhana, berinteraksi serta berdiskusi dengan masyarakat, hingga melaksanakan kegiatan bakti sosial.
“Seperti motto Labschool, yaitu Iman, Ilmu dan Amal, kegiatan ini bertujuan untuk membentuk kepribadian murid SMA Labschool Jakarta yang mandiri dan berwawasan global,” tutur Baru Zaman.
Siswa SMA Labschool Jakarta saat Trip Observasi 2026. Foto: SMA Labschool Jakarta
Selama berada di Kampung Banceuy, para murid mempelajari kehidupan masyarakat setempat melalui interaksi langsung dengan lingkungan dan warga. Pengalaman tersebut menjadi ruang bagi murid untuk memahami nilai-nilai sosial yang selama ini juga dipelajari dalam pembelajaran di sekolah.
Perwakilan murid, Muhammad Alfarabi Rusadhi, mengatakan pengalaman berada di Banceuy membuat dirinya dan murid lainnya dapat melihat secara langsung kehidupan masyarakat yang lebih sederhana serta nilai kebersamaan yang tumbuh di dalamnya.
“Kami belajar banyak tentang kebersamaan, gotong royong, dan bagaimana masyarakat saling membantu dalam kehidupan sehari-hari. Hal-hal seperti ini mungkin bisa dipelajari di kelas, tetapi di Banceuy kami bisa melihat dan merasakannya secara langsung,” ujar Alfarabi.
Ia juga mengatakan, interaksi langsung dengan masyarakat memberikan pengalaman berbeda bagi murid-murid lainnya. Kehidupan yang lebih dekat dengan alam membuat proses belajar berlangsung tidak hanya melalui teori, tetapi juga melalui pengalaman sehari-hari.
“Di Banceuy, kami bisa merasakan langsung kehidupan yang lebih sederhana, dekat dengan alam, dan lebih banyak berinteraksi dengan masyarakat,” katanya.
Kepala Desa Sanca, Masna, turut menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan Trip Observasi SMA Labschool Jakarta di Kampung Banceuy. Ia mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan pelaksanaan kegiatan yang melibatkan murid dalam kehidupan masyarakat desa.
Apel penutupan yang dihadiri Gubernur Jawa Barat tersebut menjadi penanda berakhirnya rangkaian Trip Observasi 2026. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya SMA Labschool Jakarta menghadirkan pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan di ruang kelas dengan pengalaman nyata di masyarakat.