Yuki menjadi atlet termuda dalam kontingen Jepang sekaligus mencatat sejarah sebagai peraih emas di usia yang masih sangat muda. Melansir laman The Japan Times, Yuki bertanding melalui layar komputer dalam permainan puzzle Puyo Puyo. Gim ini mengharuskan pemain menyusun puzzle berbentuk balok yang jatuh ke dasar.
Di final Asian Games 2026, Yuki tampil dominan dengan mengalahkan wakil Korea Selatan Kang Dongshin dengan skor 10-2. Sebelumnya, ia menyingkirkan pemain Thailand Tanarak Wongkitkun yang berusia 28 tahun dengan skor 10-1 di semifinal.
Profil Yuki Kurihara
Yuki Kurihara diketahui masih duduk di kelas 5 di Bunkyo-ku Showa Elementary School, Tokyo, Jepang. Komite Olimpiade Jepang (JOC) mencatat ia lahir pada 18 Juni 2015 dan memperkuat Tokyo Verdy Esports.Yuki Mulai Kenal Puyo Puyo Sejak Usia 6 Tahun. Saat itu, ia mendapatkan gim Puyo-Puyo Tetris 2 sebagai hadiah Natal. Dari permainan tersebut, Yuki mulai tertarik dengan mekanisme chain atau rangkaian dalam Puyo-Puyo. Ketertarikan itu kemudian berkembang menjadi latihan dan kompetisi.
JOC menyebut Yuki mulai serius menekuni permainan tersebut sejak kelas 1 SD. Bukan hanya bermain, Yuki juga mempelajari permainan tersebut dari pemain-pemain profesional.
Ia menonton siaran pertandingan pemain papan atas untuk memahami strategi dan mengembangkan gaya bermainnya sendiri. Jadi Pemain Profesional Sebelum Berusia 11 Tahun
Yuki mulai memperkuat Tokyo Verdy Esports dan pada April 2026 memperoleh lisensi profesional.
Yuki Kurihara. Foto: Johan Brooks
Sebelum mencatatkan prestasi di Asean Games 2026, Yuki sebelumnya sudah mencatat sejumlah prestasi. Pada Januari 2026, Yuki meraih penghargaan Under-18 Player of the Year dan Mind Game Player of the Year dalam Japan eSports Awards.
Sebulan kemudian, ia memenangkan final SEGA Puyo-Puyo Grand Prix setelah mengalahkan pemain profesional dewasa. Prestasi tersebutlah mengantarkannya ke panggung Asian Games.
Yuki lolos ke tim Jepang ketika masih berusia 10 tahun dan kemudian menjadi peserta termuda dalam sejarah kontingen Jepang di Asian Games. Meski sudah berstatus atlet, Yuki tetap sekolah dan Ikut bimbingan belajar.
Antara Sekolah dan Puyo-puyo
Yuki mengakui bahwa menjalani sekolah, bimbingan belajar, dan esports secara bersamaan tidak selalu mudah. Namun, ia menyebut kombinasi tersebut tetap menyenangkan.Hal tersebut membuat kisah Yuki tidak hanya soal kemenangan di Asian Games. Di usia ketika sebagian besar anak masih mengenal gim sebagai hiburan, ia sudah menjadikan salah satu gim tersebut sebagai bidang kompetisi yang membawanya ke panggung olahraga internasional.
Menariknya, menjadi atlet esports ternyata bukan satu-satunya impian Kurihara.
Di luar Puyo-Puyo, bocah asal Jepang tersebut memiliki ketertarikan terhadap kereta dan bercita-cita menjadi masinis atau pengemudi kereta api.
Ia juga memiliki sejumlah hobi lain. Termasuk bermain sepak bola dan gim seperti Splatoon serta Core Keeper.