Stella mengatakan salah satu manfaat utama kehadiran kampus asing ialah membuka akses Indonesia terhadap pendanaan riset internasional. Dana tersebut kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan riset kolaboratif yang melibatkan peneliti Indonesia.
"Kalau kita lihat misalnya Perguruan Tinggi Monash itu sudah membawa dana riset yang cukup besar yang dikerjakan bersama, dan ini kuncinya, bersama dengan peneliti Indonesia," kata Stella dalam acara KSTI 2026 di Jakarta, Sabtu 27 Juni 2026.
| Baca juga: Bukan Sekadar Teori Kuno, Wamen Stella Ungkap 3 Bukti Filsafat Masih Relevan di Era AI |
Ia mencontohkan program Revitalising Informal Settlements and their Environments (RISE) yang dijalankan Monash University bersama Universitas Hasanuddin. Program tersebut mengembangkan solusi sanitasi bagi kawasan permukiman padat.
Dua kampus itu kata Stella merancang sistem septic tank yang dapat diterapkan di lahan terbatas. Sistem tersebut memanfaatkan tanaman sebagai media pengolahan limbah, sehingga lebih ramah lingkungan.
Menurut Stella, kolaborasi semacam itu menunjukkan bahwa kehadiran perguruan tinggi asing tidak hanya menghadirkan institusi pendidikan dengan nama mentereng. Tetapi juga membawa jejaring riset global yang dapat membantu menyelesaikan persoalan nyata di Indonesia.
Lebih jauh, Stella menilai kerja sama internasional juga terbukti meningkatkan kualitas publikasi ilmiah Indonesia. Hal itu terlihat dari indikator Field-Weighted Citation Index (FWCI) yang mengukur seberapa sering suatu publikasi ilmiah disitasi atau dijadikan rujukan oleh peneliti lain di dunia.
Ia menyebut nilai FWCI Indonesia saat ini masih berada di kisaran 0,84 atau di bawah rata-rata dunia yang bernilai 1. Namun, publikasi yang dihasilkan melalui kolaborasi dengan peneliti internasional mampu mencatatkan skor sekitar 3,2, yang artinya menunjukkan dampak ilmiah yang jauh lebih tinggi.
"Begitu Indonesia bekerja sama dengan periset internasional, kualitas risetnya bisa naik. Ini membawa untung yang banyak untuk Indonesia," ujarnya.
Karena itu, Stella menilai evaluasi terhadap keberadaan perguruan tinggi luar negeri seharusnya didasarkan pada hasil yang telah dicapai. Mulai dari masuknya pendanaan riset, lahirnya inovasi, hingga meningkatnya kualitas publikasi ilmiah Indonesia.
"Silakan publik menilai bagus tidaknya, kita lihat dari hasil, bukan hanya dari konsepnya saja," tutupnya.
| Baca juga: Siap Cetak Generasi Emas, SMA Unggul Garuda Belitung Timur Tawarkan Beasiswa Penuh 3 Tahun |
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda