Rektor UAI Asep Saefuddin (kiri), Direktur Jenderal Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Kamaruddin, Ketua Bidang Dikti, Diklat,  Al Azhar/Litbang YPI
Rektor UAI Asep Saefuddin (kiri), Direktur Jenderal Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Kamaruddin, Ketua Bidang Dikti, Diklat, Al Azhar/Litbang YPI

Prodi Pendidikan Agama Islam UAI Dihidupkan Kembali

Pendidikan beasiswa osc Pendidikan Tinggi
Kautsar Widya Prabowo • 20 Maret 2019 16:22
Jakarta: Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) kembali membuka prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) secara umum untuk program sarjana. Di mana sebelumya, prodi tersebut sempat ditutup pada 2015.
 
Rektor UAI Asep Saefuddin menjelaskan, bahwa tidak lengkap rasanya Universitas yang berdiri menggunakan nama benuansa Islam ini justru tidak memiliki studi khusus untuk Islam. Asep mengibaratkan seperti sayur tanpa garam.
 
"Kita harus memiliki roh dari Universitas ini, yang salah satu rohnya dicirikan dengan prodi agama Islam," ujar Asep di Kampus Universitas Al Azhar Indonesia, Jakarta, Rabu, 20 Maret 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain itu, pendidikan agama Islam sangat dibutuhkan untuk mengawal bergulirnya revolusi industri 4.0. Agar manusia tidak kalah dengan perkembangan teknologi sains, yang cepat atau lambat dapat mengubah peradaban manusia.
 
"Tanpa disadari, dengan keagaaman justru tidak perlu mengkhawatirkan (dampak revolusi industri 4.0) maka kelahiran PAI kembali dibuka sebagai sesuatu yang urgent," tuturnya.
 
Baca:Pendidikan Agama Islam UAI Banjir Peminat
 
Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama, Kamaruddin berharap PAI di UAI dapat berkontribusi mengembangkan pendidikan agama Islam secara nasional. Terlebih lagi prodi tersebut banyak diminati oleh masyarakat.
 
Terbukti, terdapat sekitar satu juta mahasiswa yang mendalami pendidikan agama Islam di seluruh Indonesia. Sehingga prodi tersebut dipastikan tidak akan kalah dengan program lain di era globalisasi.
 
"Dalam kompetisi global, pemahaman agama yang adaptif dan demokratif perlu dikembangkan, agar Islam bisa menjadi salah satu elemen atau variabel untuk meningkatan kualitas berbangsa dan bernegara," tuturnya.
 
Sementara itu, Dekan Fakultas Psikologi dan Pendidikan UAI Zirmansyah, yang bertanggung jawab membawahi PAI mengatakan, awal 2001 UAI telah mengajukan izin untuk mendirikan PAI ke Ditjen Pendidikan Agama Islam Kemenag. Namun pada saat itu justru pendidikan anak usia dini (PAUD) yang lebih dibutuhkan.
 
"PAI tidak digunakan, belakangan dievaluasi PAUD dikembalikan lagi ke PAI, tapi pada 2014 PAI sepi peminatnya dan diusulkan ditutup," tuturnya.
 
Surat penutupan sudah dilayangkan pada Dirjen Pendidikan Islam Kemenag pada 2014, namun rupanya surat tersebut tidak ditindak lanjuti. Sehingga 2018 PAI di UAI masih terdaftar secara resmi di Kemenag.
 
"Kita datangi ke Kemenag, ini ada suratnya, tapi kami tidak proses, karena masa Al Azhar tidak punya PAI, kami harap karena ini Al Azhar harus ada PAI. Sudah ada keputusan Menteri tidak ada prodi-prodi baru, buka lagi saja kita akan men-support, maka oleh rektor dilakukan," ujarnya saat menirukan perbincangan dengan Kementerian Agama.
 
Dalam pembukaan prodi baru tersebut, tampak dihadiri oleh pejabat tinggi UAI. Seperti Wakil Rektor II Bidang Sumber Daya dan Kerja sama, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Nita Noriko.
 
Hadir juga Kepala Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Yayasan Pesantren Islam Al Azhar Nuri Muhammadi, Ketua Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah Yayasan Pesantren Islam Al Azhar Budiyono. Serta Ketua Bidang Dikti, Diklat, dan Litbang YPI Al Azhar Ahmad Husin Lubis.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif