Lulusan SD Jarang Menganggur Jadi Ancaman Demografi
Seorang anak menawarkan tisu dagangannya kepada para pengendara di perempatan jalan, MI/Arya Manggala.
Jakarta: Penyerapan angka tenaga kerja lulusan sekolah dasar (SD) yang tinggi bukanlah fakta yang membanggakan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy menilai hal ini justru sebuah ancaman bagi bonus demografi. 

“Makna data ini SD memang tinggi daya serapnya (tenaga kerja) tapi ini tenaga kerja yang tidak produktif dan ini adalah sebuah ancaman pada kita memasuki bonus demografi,” kata Muhadjir di acara diskusi Forum Merdeka Barat (FMB) dengan tema ‘Pengurangan Pengangguran’ di Kantor Kementerian PPN, Jakarta Pusat, Kamis 8 November 2018.


Bonus demografi 2045 harus dipersiapkan dengan menciptakan tenaga kerja berkualitas dan ber-skill. Terlebih mereka tidak saja berkualitas, tetapi juga mampu menciptakan peluang lapangan pekerjaan. 

“Kita tidak akan menyiapkan orang yang bekerja, tapi yang bisa membuka lapangan pekerjaan, yang memang memberikan sharekepada pendapatan nasional. Karena kalau tidak bisa memberikan pendapatan yang bagus kita tidak akan mau berkompetisi dan kita akan terjebak dalamin the middle income trap itu,” ujar Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu.

Baca: Mendikbud: Pengangguran Bukan Produk Revitalisasi SMK

Saat ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)  fokus memperkecil penyerapan tenaga kerja lulusan SD. Salah satunya dengan merevitalisasi pendidikan vokasi. Sehingga anak-anak bisa memiliki satu keahlian khusus selepas mereka lulus. 

“Jadi saya sangat tidak bangga itu, daya serapnya tinggi karena bisa kerja apa saja, dari tukang sapu sampai tukang rokok. Jadi itu bukan pekerjaan yang membanggakan walaupun tingkat pengganggurannya rendah,” papar Muhadjir.

Pun demikian, pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) sumbangsih angka penganggurannya kecil dibanding SMK. Namun, secara kualitas terhitung lulusan SMA hanya sebagai pekerja kasar. 

“Tetap ingat SMA ini sebagian besar juga suka kerja apa saja. Mulai dari cleaning service di kantor-kantor yang sebenernya tidak cocok untuk tenaga kerja SMA. Kondisi ini justru membahayakan bukan di SMK yang dianggap tingkat pengangguran tertinggi itu,” tutur Muhadjir.

Baca: Lulusan SMK Paling Banyak Menganggur

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka menurut daerah sebesar 5,34% pada Agustus 2018, turun dibandingkan 2017 yakni sebesar 5,50% pada bulan yang sama.  Tingkat pengangguran tertinggi berdasarkan pendidikan, masih berasal dari lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka tertinggi menurut pendidikan, berasal dari jenjang pendidikan sekolah menengah kejuruan (SMK) sebesar 11,24 persen.  Tingkat pengangguran terendah sebesar 2,43 persen terdapat pada penduduk berpendidikan sekolah dasar (SD) ke bawah.



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id