Kampus UI. Dok. UI
Kampus UI. Dok. UI

4 Prodi UI Ranking Top 100 Dunia, Rekomendasi Jalur Mandiri?

Ilham Pratama Putra • 05 Mei 2026 18:20
Ringkasnya gini..
  • 4 prodi UI masuk top 100 pemeringkatan QS WUR 2026 by Subject
  • 3 dari 4 prodi terbaik UI merupakan bidang sosial humaniora
  • Peningkatan kualitas prodi UI terus dilakukan untuk relevansi dunia kerja dan industri
Jakarta: 4 Program Studi Universitas Indonesia (UI) masuk dalam 100 prodi terbaik dunia. 4 Prodi UI itu masuk dalam daftar pemeringkatan QS World University Rankings (WUR) by Subject 2026. 
 
Dikutip dari unggahan instagram @univ_indonesia, 4 prodi itu diantaranya Hukum, Antropologi, Perpustakaan dan Informasi Manajemen, dan Kedokteran Gigi. Capaian ini membuat UI mempertahankan posisinya sebagai perguruan tinggi di Indonesia yang bereputasi global. 
 
"Prestasi ini tentunya tidak lepas dari kerja keras dan dukungan seluruh sivitas akademika UI. Semoga capaian ini menjadi fondasi yang semakin mengukuhkan Universitas Indonesia sebagai perguruan tinggi yang unggul, impactful, dan berkelas dunia," tulis akun instagram @univ_indonesia dikutip Selasa 5 Mei 2026. 

Terpisah, Rektor UI, Heri Hermansyah menjelaskan 3 dari 4 prodi yang masuk dalam daftar tersebut adalah prodi Sosial Humaniora. Hal ini sekaligus menegaskan prodi Humaniora UI masih terus berkembang ditengah pengiatan prodi Saintek. 
 
Baca juga: Bukan Ditutup, Mendiktisaintek Minta Prodi di-Update Agar Relevan dengan Zaman

Ia pun menegaskan, jika prodi Soshum akan terusd iperlukan. Meskipun mungkin persaingan dunia kerja lulusan Soshum semakin ketat. 
 
"Tapi tetap mereka yang berkompetensi ini sangat diperlukan di berbagai bidang kerja," ungkapnya. 
 
Kecakapan prodi dalam relevansinya terhadap kebutuhan industri terus disorot. Bahkan Kemendiktisaintek pun sempat menggulirkan wacana penutupan prodi yang tidak relevan dengan kebutuhan Industri. 
 
Namun belakangan, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menegaskan program studi (prodi) di perguruan tinggi akan dikembangkan sesuai kebutuhan dan relevansi. Ia membantah isu penutupan prodi tidak relevan di masyarakat. 
 
"Kemendikbudristek itu membuat supaya prodi ini meng-update secara berkala. Supaya ada relevansi antara apa yang diajarkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi," kata Brian di Jakarta, Rabu 29 April 2026. 
 
Ia menegaskan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang juga akan menghasilkan industri baru. Dengan begitu, kampus bukan mengikuti kemampuan pasar, melainkan dapat menciptakan pasar. 
 
"Ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang itu kan juga menghasilkan industri-industri baru," tegasnya. 
 
Lebih lanjut, dia menjelaskan jika industri maupun perkembangan iptek merupakan referensi setiap prodi. Agar prodi di kampus melakukan perbaikan.
 
Baca juga: Wacana Tutup Prodi, Pengamat Semprot Kemendiktisaintek: Jangan Jadikan Kampus Pabrik Buruh

Brian mencontohkan dalam bidang teknik elektro. Ia menjelaskan saat ini industri memerlukan integrasi teknologi berbasis internet atau internet of things (IoT). 
 
Karena itu kampus mesti beradaptasi dan menjadi perhatian bagi pendidikan tinggi.  Ia melanjutkan, industri-industri baru seperti kecerdasan buatan (AI) juga harus menjadi referensi bagi perguruan tinggi, agar program studi yang ditawarkan menjadi semakin relevan.
 
"Sehingga, (perkembangan) industri maupun perkembangan teknologi itu kemudian menjadi referensi bagi setiap program studi yang ada di Indonesia, untuk melakukan terus-menerus perbaikan Ini yang disebut sebagai continuous improvement," kata Mendiktisaintek.
 
Ia mengungkapkan di negara maju perbaruan ilmu menjadi hal yang lumrah. Bahkan update prodi dilakukan setiap empat, bahkan dua tahun sekali.
 
"Misalnya ada AI, bagaimana nih AI ini? Ada IoT kemudian ke depan ada kuantum komputasi. Kita harus ubah dong supaya nanti lulusannya ketika lulus, dia bekerja, sesuai dengan perkembangan teknologi yang 4 tahun lagi dipakai. Alih-alih kita menutup, kita justru mengembangkan," tutup Brian.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA