Gen Z tidak lagi melihat jenjang karier di dunia korporasi sebagai satu-satunya jalan untuk meraih kesuksesan, melainkan beban yang sering kali dianggap tidak sebanding dengan apa yang dikorbankan.
Fenomena ini dikenal dengan istilah Conscious Unbossing. Sebuah gerakan di mana Gen Z secara sadar menolak promosi jabatan dan memilih untuk tetap menjadi karyawan biasa. Gen Z mulai mempertanyakan esensi dari kekuasaan dan tanggung jawab yang besar.
Titel yang mentereng tidak lagi memiliki daya tarik jika harus disertai dengan tekanan dan ekspektasi yang tak berkesudahan.
Hal ini kemudian menarik perhatian Guru Besar Universitas Indonesia, Rhenald Kasali. Melalui unggahan di akun Instagramnya @rhenald.kasali, dia menyoroti keganjilan fenomena ini melalui pengamatan yang mendalam.
Menurutnya, banyak Gen Z saat ini yang secara sadar memilih untuk tetap menjadi karyawan biasa daripada naik ke kursi manajerial. “Kalian perhatikan gak, banyak temen-temen kalian yang sekarang gak mau naik jabatan? Lucu ya, dinaikin jabatan gak mau. Malah minta berhenti, pengen di jabatan yang sama. Walaupun naik jabatan itu artinya naik gaji dan punya power lebih besar. Nah, gak mau,” ujar Rhenald.
Rhenald menambahkan, fenomena ini awalnya banyak muncul di Jepang. Namun, kini telah merambat ke tenaga kerja global secara luas.
Alasannya adalah trauma masa lalu melihat orang tua mereka yang kehabisan waktu untuk keluarga demi pekerjaan, serta kesadaran akan kesehatan mental. Berdasarkan studi dari lembaga rekrutmen Robert Walters yang dikutip oleh Rhenald, angka penolakan terhadap posisi manajerial cukup mengejutkan.
Data menunjukkan bahwa 52 hingga 57 persen orang menghindari posisi tersebut. Kemudian, 67 persen orang menganggap posisi manajer tingkat menengah adalah posisi dengan tingkat stress yang tinggi. Menariknya, hanya 13 persen orang yang masih menyukai struktur tradisional.
Ia menjelaskan, ada beberapa alasan di balik perubahan ini. Posisi manajer sering dilihat sebagai penanggung jawab risiko tanpa adanya kekuasaan yang nyata. Selain itu, bagi Gen Z waktu adalah aset paling utama, kesehatan mental adalah modal kerja, dan kebebasan lokasi adalah kualitas hidup.
Di era remote work, susunan kekuasaan tidak lagi terlihat. Jika seseorang dapat memberikan dampak tanpa harus memimpin, maka mereka akan memilih jalan tersebut.
Fenomena Conscious Unbossing ini menjadi tantangan yang besar bagi departemen Human Resources (HR). Jika perusahaan korporasi tidak mampu beradaptasi, mereka akan terancam kehilangan calon masa depan.
| Baca juga: Tekanan Kerja Meningkat di 2026, Ini 7 Skill Kepemimpinan yang Wajib Dimiliki Manajer! |
“Ini merupakan pemberontakan Gen Z. Tentu kita harus mengantisipasinya dan menciptakan suasana kerja yang berbeda. Tanpa itu, korporasi akan punah karena tidak ada yang melanjutkannya,” pungkasnya. (Talitha Islamey)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News