Portofolio karya, bukti keterampilan, hingga kredensial digital mulai menjadi pertimbangan dalam proses rekrutmen. Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menunjukkan 81,1 persen perekrut menggunakan badge digital atau pencapaian program pelatihan dan bukti portofolio dalam proses seleksi.
Selain itu, sebanyak 65 persen perekrut lebih mempertimbangkan kandidat yang melampirkan portofolio karya dan bukti keterampilan. Sementara itu, 41 persen perekrut menilai e-Portfolio lebih berguna dibandingkan dengan transkrip nilai akademik konvensional.
Tren tersebut menunjukkan dunia kerja mulai bergerak menuju pola rekrutmen berbasis keterampilan atau skills-first hiring. Artinya, kemampuan nyata kandidat menjadi salah satu hal yang semakin penting untuk dilihat, bukan hanya latar belakang pendidikan dan nilai akademik.
| Baca juga: Solusi Sertifikat Abal-abal, Platform DigiSkillBadge Memudahkan Industri Cek Kompetensi Siswa SMK |
Seleksi perusahaan dengan melihat kualitas resume juga meningkat hingga 8,5 poin. Namun dengan catatan kandidat memiliki kredensial digital.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah mendorong siswa SMK mulai membangun rekam kompetensi digital sejak masih bersekolah. Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Tatang Muttaqin mengatakan siswa SMK sebenarnya memiliki banyak pengalaman yang bisa menjadi bukti kemampuan.
"Mulai dari sertifikat bahasa, pelatihan industri, pengalaman Praktik Kerja Lapangan (PKL), hingga proyek Teaching Factory menjadi bagian dari rekam jejak yang selama ini dimiliki siswa," kata Tatang dalam Peluncuran Ekosistem DigiSkillBadge di Kampus UI, Depok, Jawa Barat, Senin, 24 Agustus 2026.
Persoalannya, berbagai bukti tersebut belum tentu terdokumentasi dalam satu wadah yang mudah ditunjukkan kepada dunia industri. “Tidak hanya mereka punya skill, baik lewat sertifikasi atau kompetisi, dan skill pemagangan dan skill-skill lainnya, yang tidak kalah penting bagaimana itu tercatat, terdokumentasikan,” ujar Tatang.
Melalui DigiSkillBadge, berbagai capaian tersebut diharapkan dapat dirangkai menjadi portofolio digital yang lebih terstruktur dan dapat diverifikasi. Tatang mengatakan portofolio juga dapat membantu siswa membangun personal branding sekaligus menunjukkan kompetensi yang dimiliki kepada pihak yang membutuhkan talenta.
Sementara itu, Direktur SMK Arie Wibowo mengatakan portofolio digital siswa tidak dibuat hanya ketika mereka mulai mencari pekerjaan. Rekam jejak tersebut justru mulai dibangun sejak kelas 10 hingga kelas 12.
“Portofolio ini tidak dibuat ketika mau cari pekerjaan, tetapi mulai dari kelas 10, 11, dan 12,” ujar Arie.
Portofolio dapat memuat berbagai aktivitas siswa, mulai dari kompetensi, kegiatan ekstrakurikuler, hingga prestasi. Dengan demikian, ketika memasuki dunia kerja, siswa tidak hanya membawa ijazah dan sertifikat.
"Mereka juga memiliki rekam digital yang menunjukkan proses dan capaian kompetensi selama menempuh pendidikan," kata Arie.
Arie menyebut konsep tersebut secara sederhana seperti CV digital yang dapat dibawa siswa ke berbagai kebutuhan. “Tidak hanya dengan ijazah, kemudian sertifikasi, tetapi juga portofolio yang dia bisa bawa ke mana saja,” papar dia.
| Baca juga: Sama-sama Merdeka Agustus, Ini 3 Negara Asia yang Pendidikannya Lebih Maju dari Indonesia |
Ekosistem DigiSkillBadge juga dirancang untuk menghubungkan satuan pendidikan, lembaga sertifikasi, dan industri. Arie mengatakan sekolah didorong memiliki Learning Management System (LMS) agar aktivitas siswa dapat tercatat.
Dari sistem tersebut, capaian siswa dapat menghasilkan badge yang kemudian masuk ke portofolio digital. Badge tersebut juga dapat ditempatkan dalam profil profesional digital siswa.
Menurut Arie, sistem tersebut sekaligus dapat menjadi mekanisme pengecekan bagi industri. Ketika perusahaan ingin mengetahui kompetensi seorang kandidat, rekam digital yang tersedia dapat ditelusuri kembali ke lembaga pendidikan atau lembaga sertifikasi yang menerbitkannya.
"Dengan begitu, DigiSkillBadge tidak hanya menjadi tempat menyimpan capaian siswa, tetapi juga diharapkan menjadi bagian dari ekosistem yang membuat kompetensi lulusan SMK lebih terlihat, dapat dipercaya, dan lebih mudah dikenali industri," tegas Arie.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda