Webinar Tak Kenal Maka Tak Cuan. Foto: Zoom
Webinar Tak Kenal Maka Tak Cuan. Foto: Zoom

Jangan Nyerah Dulu! Ini 3 Alasan Kenapa Pintu Kesempatanmu Belum Terbuka

Bramcov Stivens Situmeang • 11 April 2026 20:25
Ringkasnya gini..
  • Banyak orang merasa sudah bekerja keras, aktif menghadiri acara networking, bahkan menukar ratusan kartu nama.
  • Namun, peluang yang diinginkan tak kunjung datang.
  • Ternyata, hal ini bukan sekadar soal kurang usaha. Ada tiga alasan mendasar yang sering diabaikan.
Jakarta: Banyak orang merasa sudah bekerja keras, aktif menghadiri acara networking, bahkan menukar ratusan kartu nama. Namun, peluang yang diinginkan tak kunjung datang.
 
Ternyata, hal ini bukan sekadar soal kurang usaha. Ada tiga alasan mendasar yang sering diabaikan.
 
Direktur Bisnis Mitologi Inspira, Dedy Dahlan, menjelaskan bahwa apa pun yang diinginkan seseorang, mulai dari mencari pelanggan, supplier, hingga jenjang karier yang lebih baik, umumnya datang melalui perantara orang lain.

Peluang tersebut tidak muncul begitu saja. Karena itu, belum tercapainya tujuan tidak selalu berarti kurang kerja keras atau kualitas produk yang kurang baik.
 
"Artinya kalau belum dapat, artinya ini bukan masalah kerja keras, bukan berarti Anda kurang keras kerjanya, bukan berarti teman-teman kurang, kerjanya kurang berat lah gitu, bukan kayak gitu. Bukan berarti kurang rajin. Atau bukan berarti kalau Anda pengusaha, bukan berarti produk Anda kurang bagus. Anda cuma belum ketemu orang yang tepat," ujar Dedy, dalam Webinar Tak Kenal Maka Tak Cuan, dikutip Jumat, 10 April 2026.
 
Alasan pertama, seseorang belum mengenal orang yang tepat. Ia menilai kebiasaan datang ke acara networking dan menukar kartu nama secara masif tidak otomatis membuka peluang. Tanpa hubungan yang bermakna, nama seseorang mudah terlupakan.
 
"Kartu nama kita dapat segepok, kita kasih segepok, kemudian kartu nama kita taruh laci, terus beberapa saat lupa, kemudian kita buka laci lagi dan kita pikir, siapa ini orang? Nah, sekarang perlu kita akui, secara jujur, kartu nama kita sama mereka juga gitu, teman-teman," jelasnya.
 
Alasan kedua, banyak orang belum mengetahui jaringan yang sebenarnya dimiliki oleh orang-orang di sekitarnya. Dedy mengisahkan pengalamannya yang sempat berputar mencari akses ke sebuah perusahaan besar. Pada akhirnya, ia justru terhubung melalui teman lama yang memiliki kedekatan dengan pihak HR.
 
"Selama ini kita sudah kenal, tapi saya tidak tahu dia punya network itu. Setelah ketemu dia bisa menyambungkan," kata dia
 
Adapun alasan ketiga, orang yang sudah dikenal dan diketahui jaringannya belum tentu bersedia membantu membuka akses. Menurut Dedy, hal ini berkaitan dengan kepercayaan dan kesiapan seseorang untuk merekomendasikan.
 
"Kadang-kadang orang yang sudah kita kenal, yang kita tahu tentang networknya, belum mau menyambungkan. Sesederhana itu," ujarnya.
 
Untuk menjawab tantangan tersebut, Dedy memperkenalkan framework Authentic Connection dalam buku terbarunya, Tak Kenal Maka Tak Cuan. Framework ini terdiri dari tiga pilar utama, yaitu authenticity atau kemampuan menjadi diri sendiri secara jujur dan terbuka, resonance atau kemampuan dalam berinteraksi, membangun komunikasi, diterima, dan meninggalkan rasa karisma, serta co-profit yaitu menciptakan hubungan yang saling menguntungkan dengan terlebih dahulu memberi nilai.
 
Dedy menjelaskan, esensi networking bukan pada jumlah kenalan, melainkan pada kedalaman hubungan yang dibangun. Koneksi yang bermakna merupakan aset jangka panjang dalam perjalanan karier maupun bisnis.
 
"Nah, ini tiga faktor ini yang kesannya networkingnya nggak worth. Padahal networking is working. Cuma kita harus tahu bagaimana menangani tiga hal ini. Seperti itu," pungkasnya.
 
Baca juga:  Ternyata Otak Kita Hanya Bisa Kenal 150 Orang Saja, Ini Penjelasan Ilmiahnya


 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan