Influencer muda Indonesia, Gita Savitri saat berkunjung ke Kantor Redaksi Medcom.id, Medcom.id/Intan Yunelia.
Influencer muda Indonesia, Gita Savitri saat berkunjung ke Kantor Redaksi Medcom.id, Medcom.id/Intan Yunelia.

Kiat Menembus Kuliah di Jerman Ala Gita Savitri

Pendidikan Profil Pendidikan
Intan Yunelia • 24 September 2018 18:45
Jakarta: Kuliah di luar negeri impian banyak orang khususnya di negara-negara Eropa, seperti Jerman. Influencer muda asal Indonesia, Gita Savitri berbagi cerita, bagaimana kiat-kiat dan tips menembus kampus di Jerman, sebab untuk kuliah di sana, tak cukup hanya kesiapan biaya dan pernyataan diterima di kampus tujuan saja.
 
Wanita lulusan Kimia Murni, Freie Universitat, Berlin, Jerman itu menceritakan bagaimana perbedaaan masuk kuliah di Jerman dengan negara-negara lainnya. Kampus-kampus Jerman tidak begitu saja menerima mahasiswa asing, meskipun yang bersangkutan mampu membayar biaya kuliah.
 
Ada tahapan khusus bernama studienkolleg yang harus dilalui mahasiswa asing seperti dirinya. Tidak semua mahasiswa asing lolos di tahap ini. Penulis buku Rentang Kisah ini adalah salah satu mahasiswa yang beruntung itu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Program studienkolleg merupakan program penyetaraan yang wajib diikuti calon mahasiswa asing di Jerman. Program ini berlangsung selama 2 semester, atau 1 tahun.
 
Sistem sekolah di Jerman menggunakan sistem 13 tahun belajar, berbeda dengan di Indonesia yang hanya menerapkan 12 tahun belajar sejak Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Dengan kata lain, lulusan SMA di Indonesia dianggap tidak setara dengan lulusan SMA di Jerman.
 
Baca: Gita Savitri, Pilih ke Jerman yang Memanjakan Mahasiswa
 
Studienkolleg ini sendiri biasanya bagian dari proses seleksi di Universitas. Di mana program penyetaraan ini harus dilalui untuk memastikan setiap pelajar asing yang berencana studi di Jerman memiliki level edukasi yang cukup untuk studi di Jerman.
 
Selain itu, pemerintah Jerman juga ingin memastikan para pelajar asing ini memiliki kemampuan berbahasa Jerman untuk berkomunikasi selama studinya nanti.
 
"Menurut aku pribadi studienkolleg itu lebih sulit ketimbang untuk dapat kuliahnya. Jadi untuk dapat studienkolleg itu kompetitornya lumayan banyak dan harus lulus tesnya juga," kata Gita kepada Medcom.id, Senin 24 September 2018.
 
Lulus dari studienkolleg dengan nilai yang bagus, akan membuat siswa tersebut mudah mendapatkan perguruan tinggi yang diinginkan di Jerman.
 
"Aku enggak pernah dengar orang yang enggak dapat kuliah setelah lulus studienkolleg. Semua pasti dapat kuliah, tapi entah di perguruan tinggi yang mana," terang Youtuber yang kritis mengomentari isu-isu terkini ini.
 
Di Jerman juga sangat selektif terhadap batasan umur mahasiwa. Untuk calon mahasiswa batasan usia minimal 18 tahun saat mengikuti program studienkolleg. Gita sempat mengalami kendala aturan batasan usia ini. Jika di bawah umur 18 tahun semua administrasi yang berhubungan dengan kepindahan akan diwakili oleh orang tua.
 
"Kalau kurang dari 18 tahun ribet, mesti pakai orang tua dan nyokapku malas ribet, jadi akhirnya umur 18 tahun aku baru ke Jerman supaya bisa ngurusin semuanya sendiri," ucap Gita yang lulus SMA di umur 17 tahun ini.
 
Belajar di negeri orang, terutama Jerman, menguasai bahasa Jerman adalah syarat mutlak. Meski Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, namun kampus-kampus di Jerman lebih banyak menggunakan bahasa nasional mereka dalam penyampaian belajar mengajar.
 
Gita sebenarnya telah sedikit-sedikit mempelajari Bahasa Jerman saat masih duduk di bangku SMA. Namun, minimnya praktek membuat ia hanya paham sebatas tata bahasanya saja, sedangkan untuk pengucapan masih sulit.
 
"Pas sampai Jerman, saya enggak bisa ngomong bahasa Jerman sama sekali, makanya harus ulang dari awal lagi," ujar Istri Paul Andre Partohap ini.
 
Salah satu tips cepat belajar bahasa asing adalah berbaur di lingkungan yang menggunakan bahasa tersebut. Ia perlahan beradaptasi dengan lingkungan sekitar yang menggunakan Bahasa Jerman sebagai penutur aslinya.
 
Berbeda saat ia berada di Indonesia, lingkungan tidak memaksanya untuk menggunakan bahasa Jerman setiap waktu. Siswa dalam kelas bahasa Jerman di Indonesia pun kebanyakan orang Indonesia asli, jadi tidak ada contoh native speaker asli jerman.
 
"Susah untuk belajar bahasa asing saat lagi di Indonesia. Seperti kuping enggak disuruh dengar bahas jerman. Aku juga nonton Youtube untuk memperlancar bahasa Jerman. Karena saat belajar bahasa Jerman, hanya sekali seminggu dan itu pun hanya 2 jam," pungkasnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:25
  • SUBUH04:35
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif