Aspar Jaelolo, Atlet Panjat Tebing Indonesia, Medcom.id/Intan Yunelia.
Aspar Jaelolo, Atlet Panjat Tebing Indonesia, Medcom.id/Intan Yunelia.

Demi Bela Merah Putih "Babon" Rela Tunda Skripsi

Pendidikan Profil Pendidikan
Intan Yunelia • 06 September 2018 14:16
Jakarta: Sangat mudah mengenali sosok atlet pemanjat tebing ini. Ya Aspar 'Babon' Jaelolo, pemilik gaya rambut nyentrik, bermotif cicak, membuat penampilannya mencolok dibanding atlet lainnya.
 
Prestasinya di dunia panjat tebing tidak diragukan lagi. Beragam prestasi dari mulai level nasional hingga internasional pernah diraihnya. Terbaru, di Asian Games 2018 kemarin, Aspar berhasil mempersembahkan medali perak, dan perunggu untuk Indonesia.
 
Pria kelahiran Sulawesi Tengah itu sadar, tak selamanya bisa mengandalkan pada profesi atlet. Seiring bertambahnya usia, cengkraman-cengkraman jari jemarinya dalam memanjat dinding akan berangsur turun kekuatannya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebagai bekal masa tua, ia sadar pendidikan adalah modal utamanya. Dari itu, meski disibukkan dengan jadwal kompetisi, dan latihan dunia pendidikan tak ditinggalkannya.
 
"Bagi saya pribadi, pendidikan itu sangat penting. Karena tidak selamanya saya pake otot terus," kata Aspar kepada Medcom.id, Kamis, 9 September 2018.
 
Demi membela merah putih, ia rela mengorbankan sejenak waktu kuliahnya. Meski sebenarnya ia dihadapkan pada pilihan sulit, antara menyelamatkan tugas akhir kuliah, atau mengikuti seleksi nasional untuk Asian Games.
 
"Kemarin saya S1 di Sulteng (Sulewasi Tengah). Cuma karena seleksi tim nasional bertepatan dengan skripsi, jadi (skripsi) saya tinggal dulu," ujar Aspar.
 
Baca: Sumbang Dua Emas, Pendidikan Tetap Prioritas
 
Berbagai prestasi di olahraga panjat tebing, pemerintah memberikan apresiasi dengan mengangkatnya sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Ia kini duduk sebagai jabatan
Fungsional Pelatih.
 
Aspar masih bercita-cita menyelesaikan studi S1-nya, yang tak jauh dari dunia olahraga. "Tidak apa-apa dari awal lagi. Saya sekarangkan jabatan fungsional pelatih, di sini jadi pelatih harus sesuai dengan jurusan. Jadi saya ambil pelatihan atau olahraga," terang Aspar.
 
Aspar menuturkan walaupun sudah mempunyai pekerjaan sebagai atlet, dan PNS ia tak berpuas diri untuk mengenyam pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
 
"Saya juga harus belajar bagaimana cara membina atlet, menyusun program latihan atlet, meski untuk pengalaman teknik sudah punya, tapi untuk keilmuan atlet rata-rata kurang. Jadi penting sekali buat kita," pungkasnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif