“Sejak kecil saya dimotivasi oleh orang tua untuk go global. Diajak nonton di TV atau internet tentang dunia luar. Dibacain atau suruh baca tentang dunia luar. Saya takjub. Hal ini seakan ter-patri bahwa saya harus meraih cita-cita untuk go global”, ujar Rayyan dalam keterangan tertulis dikutip Senin, 6 April 2026.
Rayyan menerima 15 Letter of Acceptance (LoA), surat resmi dari universitas yang menyatakan pelamar diterima sebagai mahasiswa. Ke-15 perguruan tinggi itu tersebar di enam negara, seperti Amerika, Kanada, Inggris, Belanda, Selandia Baru, dan Australia.
Kampus dan jurusannya sangat bergensi, sebagian masuk TOP 10 dan 50 Dunia. Beberapa di antaranya adalah
- University Of California, San Diego (UCSD) untuk jurusan Geoscience
- University of California, Davis – Environmental Engineering
- University of British Columbia – Bachelor of Applied Engineering
- University of British Columbia – Bachelor of Sustainability
- University of Toronto – Physical and Environmental Science
- University of Waterloo – Honours Environmental Engineering, Co- op
- McGill University - Bachelor of Engineering in Bioresource Engineering Wageningen University & Research – BSc Environmental Science
- University of Manchester – Environmental Science
- University of Auckland – Bachelor of Science in Environmental Science
"Rayyan harus lebih baik dari abah dan Umik, lolos di kampus Top dunia,’ kaya Rayyan mengulang pesan ayah ibunya.
Dorongan kuat ini menjadikan Rayyan belajar bahasa Inggris otodidak. "Saya tidak pernah kursus, hanya dari belajar di sekolah, baca buku, nonton, dengerin musik dan berani bicara berbahasa Inggris," beber dia.
Mimpi Rayaan go global akhirnya terwujud saat duduk di kelas XI MAN IC Pekalongan. Dia mengikuti pertukaran pelajar (Program AFS) selama 10 bulan ke Finlandia.
Di sana, Rayyan hidup bersama keluarga angkat, belajar di sekolah bertaraf internasional, dan berteman dengan siswa yang berasal dari berbagai negara. “Di Finland saya merasakan dan belajar banyak hal. Termasuk bagaimana sistem pendidikan dan tips untuk bisa lolos di Perguruan Tinggi Luar Negeri (PTLN)," beber dia.
Dia mengatakan guru di Finland memberikan apresiasi dan rekomendasi. Berbagai kegiatan non akademik juga membuatnya mendapat berbagai pengetahuan.
"Seperti pengelolaan sampah, air, dan lainnya,” ujar dia.
Sekembalinya ke Indonesia, Rayyan terus mencari berbagai informasi untuk bisa kuliah di luar negeri. Dia hadir di sejumlah event pameran pendidikan, diskusi dengan keluarga dan rekan orang tuanya yang memiliki pengalaman studi luar negeri, serta mempersiapkan diri melihat jadwal pendaftaran masing-masing kampus yang dituju.
“Bersama Umik dan Abah, saya terus berdiskusi. Saya konsisten dengan jurusan yang saya suka, teknik dan ilmu lingkungan di sejumlah kampus terbaik dunia. Sejak akhir tahun saya sudah ikut tes IELTS dan SAT sebagai salah satu bekal dan modal penting. Di samping terus berlatih menuis ‘motivation letter’ yang membumi,” ujar dia.
Rayyan menilai kampus-kampus top di luar negeri sebagian besar tidak hanya menilai prestasi akademik dan kemampuan bahasa inggris. Tak kalah penting apa yang telah dilakukan, kontribusi apa yang diberikan, bagimana menuangkan ide besar, dan bagaimana bisa bekerja sama dengan tim.
Di luar sekolah, Rayyan aktif di alumni AFS menjadi ketua angkatan. Dia juga aktif di beberapa organisasi kepemudaan tentang lingkungan, seperti Green Generation dan Greenfaith.
Sementara di internal sekolah, dia menjadi co-founder organisasi tentang lingkungan. “Saya bersama teman-teman mendirikan organisasi Atma Bawana tentang pengelolaan sampah di sekolah berasrama. Alhamdulillah banyak teman dan adik-adik kelas yang terlibat dengan penuh semangat," ujar dia.
Dia mengatakan dukungan dari Ustadz Khairul Anam sebagai kepala MAN ICP dan guru sangat berarti. Bahkan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemkot Pekalongan memberikan apresiasi.
"Semua ini ‘dilaporkan’ dalam proses seleksi masuk PTLN,” beber Rayyan.
Rayyan mengaku sejak kecil rajin menulis sehingga beberapa artikelnya, baik saat di Finland maupun setelah kembali ke Indonesia cukup menghiasi media. Dia juga membuat blog sendiri, https://saveearth.id/.
Rayyan juga pernah tampil di forum ilmiah internasional yang membahas tema lingkungan di Jakarta. “Hal-hal seperti Ini juga dimonitor oleh pihak kampus di luar negeri saat mereka melakukan seleksi penerimaan calon mahasiswa baru,” ujar anak pertama dari lima bersaudara.
Dia juga berusaha melalui jalur langit, khususnya doa orang tuanya. “Umik dan Abah selalu mengingatkan untuk selalu berdoa, lebih-lebih saat puasa. Juga minta doakan ke nenek dan kakek, om, tante, dan keluarga. Kalau ada keluarga, kerabat, atau kenalan yang umrah, selalu minta sambung doa agar bisa lolos PTLN. Karena memang kita tidak bisa abai terhadap kekuatan di luar diri kita,” tutur dia.
Rayyan membagikan tips agar bisa lolos dan mendapatkan LoA dari PTLN. Pertama, punya mimpi dan semangat mewujudkan mimpi itu dengan belajar, berkegiatan, dan berdoa.
Kedua, persiapkan kemampuan bahasa Inggris di atas rata-rata, termasuk kemampuan skolastik melalui test SAT (Scholastic Assessment Test) sebagai standart tes internasional. Ketiga, mempunyai passion pada keilmuan tertentu secara konsisten dan diwujudkan dalam pengetahuan, organisasi, dan aksi nyata.
Tentu akan lebih baik lagi kalau memiliki riwayat akademik, misalnya memenangkan olimpiade tingkat nasional mata pelajaran tertentu. Keempat, memiliki kemampuan menulis menuangkan pengalaman dan ide.
Kelima, ikuti dan patuh pada orang tua serta berpasrah diri kepada Tuhan. Ditanya soal kampus yang akan dipilih dari 15 LoA yang sudah diterima, Rayyan berharap yang terbaik.
Saat in, dia tengahi mengajukan beasiswa LPDP Garuda dan berharap lolos. Sehingga, mimpinya menempuh pendidikan di kampus terbaik dunia agar ilmu dan pengetahuannya bisa diaplikasikan untuk bangsa dan negara Indonesia bisa terwujud.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News