Prinsip itulah yang menjadi benang merah perjalanan Prof. Dr. Gono Semiadi selama lebih dari empat dekade. Peneliti yang memulai kariernya di LIPI sejak 1985 tersebut menerima Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture 2026 atas perjalanan panjangnya dalam riset satwa liar dan keanekaragaman hayati Indonesia.
Bagi Gono, konservasi pada akhirnya bukan hanya persoalan menjaga alam. Upaya tersebut juga harus memperhitungkan manusia yang hidup di sekitarnya serta peran pemerintah dalam memastikan keseimbangan itu dapat berlangsung dalam jangka panjang.
"Untuk konservasi itu bagaimana kita bisa menyeimbangkan antara manusia dan alam untuk bisa berdampingan dalam jangka waktu yang lama," ujar Gono dalam YouTube BRIN dikutip Selasa, 25 Agustus 2026.
Menurut dia, persoalan konservasi juga tidak bisa diselesaikan hanya melalui penelitian. Ketika berhadapan dengan masyarakat, diperlukan peran pemerintah melalui regulasi agar kepentingan manusia dan keberlanjutan alam dapat berjalan beriringan.
"Dari situlah kemudian nanti meningkat lagi bahwa menyelesaikan tantangan tentunya harus berhadapan dengan masyarakat. Berhadapan dengan masyarakat tentu akhirnya harus diayomi oleh pemerintah lewat regulasi," tutur dia.
Perjalanan Gono memahami satwa liar dimulai sejak menjadi mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Ketertarikannya terhadap satwa kemudian membawanya melanjutkan pendidikan ke Texas A&M University-Kingsville, Amerika Serikat, dan Massey University, Selandia Baru.
Di kedua negara tersebut, ia mendalami pengelolaan satwa liar hingga domestikasi rusa sambar. Setelah memulai karier sebagai peneliti LIPI pada 1985, ruang kerjanya tidak hanya berada di laboratorium.
Hutan, kawasan karst, habitat satwa terancam, hingga berbagai bentang alam Indonesia menjadi ruang bagi Gono untuk mempelajari kehidupan satwa secara langsung. Risetnya mencakup pengelolaan satwa liar, reproduksi, domestikasi, konservasi spesies, hingga pemantauan keanekaragaman hayati.
Salah satu pengalaman penting dalam perjalanan risetnya adalah ketika mengikuti Ekspedisi Lengguru di Papua. Ekspedisi tersebut mempertemukan peneliti dari berbagai disiplin ilmu dan negara untuk mengeksplorasi kawasan Papua dalam waktu hampir satu setengah bulan.
| Baca juga: Prabowo Kumpulkan 150 Peneliti BRIN di Istana, Intip Deretan Inovasi Canggih yang Dipamerkan! |
"Ketika kita melakukan ekspedisi bersama yang demikian besar, multidisiplin, dan multinegara, justru dengan kebersamaan dari berbagai disiplin ilmu itu betul-betul akan membentuk karakter kita sebagai peneliti dengan kondisi di alam," beber dia.
Ekspedisi yang ia jalani menyusuri wilayah Kepala Burung Papua hingga bagian leher Pulau Papua yang dikenal sebagai kawasan Lengguru. Bagi Gono, pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dalam memahami kompleksitas keanekaragaman hayati.
Dari berbagai penelitian lapangan itu, perjalanan Gono kemudian bergerak ke ruang yang lebih luas. Sains tidak berhenti pada publikasi, tetapi digunakan untuk menentukan status keterancaman spesies, menyusun strategi konservasi, mengelola populasi satwa, hingga menjadi bahan pengambilan keputusan.
Peran tersebut semakin terlihat ketika Gono terlibat dalam penguatan kewenangan ilmiah keanekaragaman hayati di BRIN. Ia turut berkontribusi dalam penyusunan National Report Indonesia untuk Convention on Biological Diversity, Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan 2025-2045, serta berbagai strategi dan rencana aksi konservasi spesies.
Di titik inilah, perjalanan panjangnya memperlihatkan bagaimana penelitian dapat menjembatani laboratorium. Hasil penelitian terasa di masyarakat, hingga meja pengambil kebijakan.
"Di sinilah riset menemukan dampaknya. Data menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi rekomendasi, dan rekomendasi menjadi dasar bagi kebijakan," kata Gono.
Ia menilai peran lembaga riset menjadi penting untuk memastikan keputusan mengenai biodiversitas Indonesia dibangun di atas bukti ilmiah. Karena itu, penguatan riset dan dukungan terhadap peneliti juga menjadi bagian penting dari upaya konservasi.
Menurut Gono, setiap kelompok peneliti perlu mendapatkan fasilitas yang memadai. Agar penelitian yang dimulai dari sebuah proposal dapat berkembang menjadi solusi untuk persoalan di tingkat nasional.
Penghargaan Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture 2026 menjadi penanda atas perjalanan tersebut. Bukan sekadar penghargaan atas panjangnya masa penelitian, tetapi juga atas upaya membawa pengetahuan tentang satwa liar dan keanekaragaman hayati menjadi dasar bagi langkah konservasi Indonesia.
Bagi Gono, masa depan konservasi pada akhirnya ditentukan oleh kemampuan manusia mengubah data menjadi pengetahuan. Pengetahuan menjadi rekomendasi, dan rekomendasi menjadi kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
| Baca juga: Ingatkan Soal Integritas, Lestari Moerdijat Minta Akademisi Tak 'Kejar Tayang' Publikasi Ilmiah |
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda