Ketiga lulusan internasional tersebut, yakni dua doktor asal Vietnam, Nguyen Hoang Qui dan Nguyen Thi Anh Thu, serta satu lulusan magister asal Tanzania, Mathew Mgogo.
Nguyen Hoang Qui dan Nguyen Thi Anh Thu berhasil menyelesaikan studi doktoral dalam waktu relatif singkat, sekitar tiga tahun, dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00 serta predikat pujian. Keduanya merupakan penerima beasiswa penuh melalui program Faculty of Animal Science International Fellowship Program 2023.
Keduanya juga menunjukkan produktivitas tinggi melalui publikasi di jurnal internasional bereputasi. Disertasi Nguyen Hoang Qui mengkaji daya saing peternak babi skala kecil di Delta Mekong, Vietnam, sementara Nguyen Thi Anh Thu meneliti pengaruh manajemen biosekuriti terhadap keberlanjutan ekonomi peternakan babi rakyat di wilayah yang sama.
Nguyen Hoang Qui mengungkapkan perjalanan studinya di Fapet UGM tidak lepas dari berbagai tantangan, baik di ruang kuliah, lapangan, maupun laboratorium. Namun, ketekunan dan tekad kuat menjadi kunci keberhasilan.
“Tidak mudah menjalani studi. Namun, berkat ketekunan dan tekad yang kuat akhirnya selesai sudah perjuangan kami,” ujar Nguyen Hoang Qui dalam keterangan tertulis, Jumat, 24 April 2026.
Sementara itu, Mathew Mgogo menyelesaikan program magister dalam waktu 1,5 tahun dengan IPK 3,97. Penelitiannya berfokus pada keragaman genetik dan hubungan filogenetik tujuh bangsa kambing perah di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah, sebuah topik yang relevan dalam pengembangan pemuliaan ternak berbasis sumber daya lokal.
Mathew menuturkan pengalaman studinya di Indonesia, khususnya di Fapet UGM, memberikan nilai lebih tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga sosial dan budaya. Ia merasakan keseimbangan antara pembelajaran teoretis dan praktis, serta integrasi nilai-nilai budaya dalam kegiatan akademik yang memperkaya perspektifnya sebagai peneliti.
“Pengalaman hidup dalam keberagaman masyarakat Indonesia memperluas wawasan saya dalam berinteraksi dan bekerja dalam lingkungan multikultural,” ungkap dia.
Dia juga mengapresiasi kualitas pendidikan, lingkungan belajar yang kondusif, serta dukungan fasilitas seperti laboratorium dan teaching farm yang menunjang kegiatan riset secara optimal.
Mathew berencana kembali ke Tanzania untuk melanjutkan pengabdiannya di Kementerian Peternakan dan Perikanan, khususnya pada bidang riset, pelatihan, dan penyuluhan. Ilmu yang diperolehnya di bidang genetika dan pemuliaan ternak akan dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas ternak serta mendukung kebijakan berbasis ilmiah di negaranya.
Ia juga menilai dukungan akademik di Fapet UGM sudah sangat baik, dengan dosen yang profesional dan suportif, tenaga kependidikan yang responsif, serta lingkungan pertemanan yang membantu mahasiswa asing beradaptasi. Mathew akan mendorong lebih banyak mahasiswa internasional menempuh studi di Fapet UGM.
Dekan Fapet UGM, Budi Guntoro, menyampaikan kehadiran mahasiswa internasional ini menjadi indikator semakin kuatnya reputasi global fakultas dalam pendidikan dan riset peternakan. Kolaborasi lintas negara yang terbangun melalui proses pendidikan diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan sektor peternakan di berbagai belahan dunia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News