Dosen Program Studi (Prodi) Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Sentot Budi Rahardjo. DOK UNS
Dosen Program Studi (Prodi) Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Sentot Budi Rahardjo. DOK UNS

Cara Unik Guru Besar UNS Ingatkan Salat, Keliling Gedung Sapa Langsung Warga Kampus

Renatha Swasty • 11 April 2022 12:19
Jakarta: Dosen Program Studi (Prodi) Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Sentot Budi Rahardjo, punya cara unik mengingatkan salat pada sivitas akademika. Sentot keliling gedung untuk mengingatkan salat.
 
“Jadi, itu kan sebelum pandemi, prinsip saya ingin memakmurkan masjid. Jadi, setiap mulai azan, saya keliling dari gedung ke gedung untuk mengingatkan mahasiswa maupun karyawan. Biasanya kan waktu salat saat masuk waktu istirahat, ya kita ingatkan saja. Saya bilang ‘Ayo sudah saatnya salat, pekerjaan dihentikan dulu, kita salat bersama’. Kan keliling jalan kaki sambil olahraga juga,” kata Sentot dikutip dari laman uns.ac.id, Senin, 11 Apri, 2022.
 
Kebiasaan itu sudah dijalankan sejak 2015. Lulusan S3 Kimia di Flinders University, Adelaide, South Australia, itu menyebut membangun kebiasaan mengajak salat butuh waktu dan latihan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sentot mesti memberanikan diri mengajak sivitas akademika, bahkan orang yang tidak dikenal untuk salat. Guru Besar FMIPA itu mengaku respons yang didapat cukup baik.
 
“Respons baik. Jadi, (mereka) merasa diingatkan, merasa berterima kasih diingatkan karena kadang-kadang karena pekerjaan jadi lupa diri saatnya masuk waktu salat. Kadang ada juga ruangan yang tidak bisa mendengarkan azan, itu juga harus diingatkan,” kata Sentot.
 
Namun, Sentot juga pernah mendapat respons kurang baik. Dia bercerita suatu kali pernah mendapatkan respons kurang mengenakkan.
 
“Saat itu ada tim pemeriksa keuangan atau apa gitu di TU sana. Itu kan saya ingatkan, ini sudah saatnya salat, malah marah. Lalu, saya minta maaf,” kenang dia.
 
Pria berusia 66 tahun tersebut juga berbagi kisah lucu. Dia bercerita sempat ada mahasiswa bersembunyi di bawah meja agar terhindar dari ajakan Sentot.
 
Ada juga mahasiswa yang merasa terpaksa saat diajak salat. Namun, lama-kelamaan menjadi terbiasa.
 
Sentot senang dengan kebiasaan yang dijalankan. Baginya, hal tersebut kewajiban sebagai Muslim.
 
“Saya senang sekali karena memang kewajiban kita. Hal itu juga merupakan perintah Allah. Kita saling mengingatkan. Terkadang ketika mengingatkan salat, saya membutuhkan waktu 45 menit sampai satu jam,” kata Sentot.
 
Biasanya, Sentot mengajak sivitas akademika FMIPA salat berjemaah di masjid ketika masuk waktu zuhur dan asar. Sentot menuturkan ketika seorang muslim dapat melaksanakan salat wajib tepat waktu, maka hal tersebut dapat melatih kedisiplinan dalam hidup.
 
Namun, Sentot juga prihatin, lantaran banyak anak muda tidak tahu arti dari bacaan salat. Padahal, hal tersebut penting agar generasi muda dapat melaksanakan ibadah salat dengan khusyuk.
 
Sebelum pandemi covid-19, ketika Sentot mengajar dan masuk waktu salat, biasanya ia akan mengajak rombongan mahasiswa pada kelas yang diampunya melaksanakan salat bersama di masjid. Ketika pandemi, minim sekali kegiatan luring.
 
Namun, Sentot tetap mengingatkan kewajiban salat melalui grup WhatsApp yang anggotanya berisi mahasiswa, bahkan rektor. Sentot memiliki moto hidup yang menjadi pegangannya.
 
Yakni, jika seseorang ingin berbahagia, maka cukuplah dengan menjadi sosok yang mematuhi perintah Tuhan dan menjauhi segala hal yang dilarang oleh Tuhan. Sentot juga berbagi tips agar seseorang dapat konsisten melakukan hal-hal baik, salah satunya dengan memulai kebaikan yang kecil terlebih dulu hingga menjadi kebiasaan.
 
Berkat sosoknya yang teduh, ia dikenang oleh alumni FMIPA. Sejumlah alumni datang menemuinya untuk membicarakan masalah hidup dan mendiskusikan solusinya.
 
Sentot berharap mahasiswa yang sudah lulus menjadi orang yang taat pada Tuhan dan bermanfaat bagi kepentingan banyak orang.
 
“Saya ingin di masa depan, orang-orang lulusan dari sini banyak menjadi orang yang bertakwa yaitu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Jadi, kalau dia bertakwa, kalau menjabat tidak akan korupsi, melaksanakan kewajiban dengan baik, mementingkan kepentingan banyak orang, bukan kepentingan diri sendiri. Saya ingin agar mereka bermanfaat bagi orang lain,” kata Sentot.
 
Sentot menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) sejak 1986. Pada 1996, atas permintaan rektor yang menjabat saat itu, Sentot kembali ke UNS untuk mendirikan FMIPA bersama dengan sivitas akademika lainnya.
 
Baca: UNS Kembali Gelar Tarawih Keliling, Ini Pesan Rektor
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif