acara Cultural Talk: Ramadhan Around the World Series yang digelar UNS. Foto: Dok. UNS
acara Cultural Talk: Ramadhan Around the World Series yang digelar UNS. Foto: Dok. UNS

Cerita Dosen UNS Ramadan di Amerika: Susah Cari Penjual Kolak Pinggir Jalan

Pendidikan Amerika Serikat ramadan Dosen UNS Ramadan 2022
Citra Larasati • 16 April 2022 14:50
Jakarta:  Ramadan merupakan momentum yang sangat ditunggu-tunggu bagi umat Islam. Begitu pula dengan warga muslim di Indonesia, yang selalu menyambut Ramadan dengan semarak.
 
Namun, bagaimana dengan suasana Ramadan bagi warga Indonesia yang sedang berada di luar negeri? Dosen Sastra Inggris Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Muhammad Taufiq Al Makmun pun membagikan pengalamannya saat menjalani Ramadan di Amerika Serikat.
 
Saat ini Taufiq sedang menyelesaikan pendidikan PhD di Bowling Green State University (BGSU), Ohio, Amerika Serikat. Karena itulah, ia menjalani Ramadan kali ini di negeri Paman Sam.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Taufiq menceritakan pengalamannya berpuasa di Amerika Serikat dalam acara Cultural Talk: Ramadhan Around the World Series yang diselenggarakan oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kerjasama dan Layanan Internasional (KLI) UNS.
 
Taufiq mengatakan bahwa jumlah muslim di Amerika meningkat dari waktu ke waktu. Peningkatan jumlah masyarakat muslim di Amerika ini berdampak pada meningkatnya jumlah masjid di sana.
 
Berdasarkan data yang dipaparkan, pada 2020 tercatat sebanyak 2.769 masjid di seluruh Amerika.  Hal ini sangat menguntungkan masyarakat muslim terutama para perantau yang tinggal di Amerika.
 
Dosen kelahiran Klaten ini mengatakan dirinya termasuk salah seorang yang merasa diuntungkan. Taufiq bercerita bahwa pusat Islam di daerahnya banyak terdapat di Perrysburg. Di sana terdapat masjid yang disemarakkan dengan berbagai kegiatan islami.
 
Taufiq mengaku beruntung menempuh pendidikannya di BGSU, Ohio karena mereka cukup memfasilitasi para mahasiswa muslim. Meski menjadi minoritas, mahasiswa muslim di BGSU mendapat beberapa fasilitas khusus di antaranya musala dan diizinkan salat berjamaah lima waktu di kampus.
 
“Kami mahasiswa muslim tidak terkendala dalam melaksanakan ibadah keagamaan di kampus maupun dalam kehidupan sosial,” ujarnya.
 
Saat Ramadan seperti ini pun, kampus sangat membuka diri. Salah satu buktinya yakni kampus mengucapkan selamat menjalankan Ramadan kepada mahasiswa muslim di media sosial kampus.
 
Komunitas muslim di BGSU juga melaksanakan berbagai ibadah bersama seperti salat tarawih berjamaah dan kajian sehabis salat subuh. Selain itu, mereka juga sering berbuka bersama dengan membawa bekal masing-masing.
 
“Ya meskipun demikian saya tetap enggak bisa menemukan kolak di pinggir jalan kalau di sini,” ungkap Taufiq disusul dengan tawa.
 
Dosen yang merampungkan pendidikan masternya di Universiteit Utrecht, Belanda ini menjelaskan dirinya berpuasa selama 15 jam di sana. Meskipun lebih lama daripada berpuasa di Tanah Air, Taufiq mengatakan bahwa cuaca di sana sangat mendukung untuk berpuasa.
 
“Saya sangat bersyukur karena bulan ini masuk musim semi jadi tidak sesulit saat musim panas. Temperatur di sini di bawah 10 derajat Celsius. Satu minggu sebelum Ramadan juga turun salju di sini, jadi udaranya pas,” kata Taufiq.

Menyerukan Islam Damai di Amerika

Meskipun jumlah masyarakat muslim di Amerika meningkat, banyak warga yang masih belum paham tentang Islam. Selain itu, masyarakat Amerika juga masih trauma dengan serangan 11 September 2001 yang dilangsungkan teroris.
 
Untuk mengatasi hal tersebut, komunitas muslim di Amerika berusaha untuk menyerukan Islam damai. Berbagai hal dilakukan seperti membuka stand Islam di kampus BGSU. Komunitas muslim di BGSU membuat selebaran yang menjelaskan tentang Islam. Selebaran tersebut kemudian dibagikan kepada pengunjung stand.
 
Selain itu, Ramadan ini juga dijadikan sebagai sarana menyerukan Islam damai. Salah satu caranya yakni masyarakat muslim menyelenggarakan salat tarawih di Times Square, New York. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, ratusan umat Islam di Amerika berkumpul di jantung New York tersebut untuk menggelar tarawih sebagai penanda mulainya Ramadan.
 
Baca juga:  Cara Unik Guru Besar UNS Ingatkan Salat, Keliling Gedung Sapa Langsung Warga Kampus
 
Taufiq memandang hal ini sebagai salah satu upaya mengenalkan Islam yang ramah.  “Umat Islam mencoba untuk mengampanyekan Islam yang damai. Karena itulah kemarin ada salat tarawih di Times Square. Berita ini pun menyebar luas di dunia karena ini pertama kalinya dalam sejarah,” tutur Taufiq.
 
(CEU)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif