Hal itu dirasakan dua mahasiswa Indonesia yang tengah kuliah Master (S2) di National University of Singapore (NUS) Business School, Andri Saputra dan Theo Ishak Sianipar. Keduanya melewati tiga kali percobaan sebelum diterima di kampus top dunia itu lewat beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
"Saya sendiri ini percobaan ketiga, baru Puji Syukur berhasil lolos, jadi dua kali sebelumnya tidak lolos," cerita Andri saat berbincang dengan media di The Ridge, Singapura, Kamis, 8 Oktober 2026.
Andri dan Theo menyebut kegagalan itu tak membuat mereka menyerah. Malah, semakin melihat Kembali hal-hal yang memang belum sejalan antara pengalaman, studi yang akan diambil hingga kontribusi bagi Indonesia setelah lulus.
Tips tembus beasiswa LPDP
Andri menyebut paling penting bagi pelamar beasiswa LPDP adalah sejalan antara kontribusi dengan studi yang diambil."Karena kadang-kadang bisa jadi ada yang kebalik, mau studi di mana dulu baru bisa ngapain, nah itu mungkin juga salah satu yang bisa direfleksikan," tutur mahasiswa MSc Human Capital Management and Analytics itu.
Makanya, kata dia, penting untuk mematangkan diri sendiri lebih dulu. Ketika sudah berkontribusi, maka sudah tahu tantangan sebenarnya di industri sehingga bisa lebih memfokuskan isu yang lebih relevan.
"Kita juga lebih clear tujuannya mau belajarnya di mana dan apa fokusnya, itu akan sangat membantu," tutur dia.
Mahasiswa NUS Business School penerima Beasiswa LPDP, Andri Saputra. DOK APRW
Sementara itu, Theo mengatakan penting bagi pelamar beasiswa LPDP memfokuskan terkait isu di Indonesia. Theo yang saat itu bekerja di Telkomsel tertarik dengan isu merger and acquisition yang tegah dilakukan Danantara.
Jadilah dia memilih jurusan yang cocok, yakni Keuangan. Dia membeberkan pilihan jurusan di suatu kampus juga menjadi penilaian bagi pencari beasiswa.
"Jadi kita perlu memberikan penjelasan yang cukup dalam mengapa jurusan ini relevan terhadap karier kita ke depannya. Kenapa harus jurusan ini dan kenapa tidak universitas yang lain misalnya? Apakah ada profesor tertentu yang ingin kita tuju di kampus ini yang risetnya mungkin sangat relevan atau pengalamannya lebih relevan ke kita?"ungkap Theo.
Mahasiswa NUS Business School penerima Beasiswa LPDP, Theo Ishak Sianipar. DOK APRW
Kuat Akademik, Berorientasi Praktik
Andri yang berpengalaman sebagai People Development Consultant sangat tertarik membantu banyak karyawan, leader, dan bisnis. Dia ingin berdampak lebih luas dan strategik di level lebih sistematik dan memutuskan melanjutkan S2 jurusan Human Capital Management and Analytics.Sejak awal, Andri memilih NUS Business School karena tertarik dengan penekanan Analytics yang baru ada di kampus itu. Selain, NUS Business School termasuk kampus top dunia dan Asia.
"Singapura juga seringkali menjadi regional operations dari banyak perusahaan internasional, tapi juga karena Singapura masih ada konteks Asia, jadi masih relevan ke Indonesia untuk diterapkan, dibandingkan kalau ada negara-negara yang lebih lain misalnya," tutur dia.
Serupa dengan Andri, Theo yang saat ini segera lulus dari jurusan Finance memilih NUS Business School lantaran dekat dengan Indonesia. Apalagi, banyak para profesional yang bekerja di Singapura yang dapat memberikannyaa wawasan terkait merger perusahaan di Asia dan relevansinya dengan Indonesia.
Selepas lulus, Theo bakal Kembali ke Indonesia dan bekerja di perusahaan Chicago Global. Ini merupakan perusahaan investasi yang didirikan salah satu mantan dosen NUS.
"Bukan hanya belajar juga, tapi juga kesempatan untuk berkembang lebih lanjut," tutur dia.
Baik Andri dan Theo merasa beruntung bisa belajar di NUS Business School. Kampus tak cuma memberikan teori tapi praktik langsung yang penting bagi mahasiswa saat Kembali ke dunia kerja.
"Dan juga selain itu dengan ilmu yang didapatkan, very academically strong tapi juga practice oriented. Karena banyak, kadang-kadang ada company visit, ada juga high profile CHRO yang datang untuk sharing ke kita. Jadi benar-benar ilmunya sangat menyeluruh," tutur Andri.