Dosen Sastra Undip, Mulyo Hadi Purnomo. Foto: Dok. Undip
Dosen Sastra Undip, Mulyo Hadi Purnomo. Foto: Dok. Undip

Mulyo Hadi, Dosen Sastra Undip dan Multiperannya di Tengah Masyarakat

Citra Larasati • 18 Maret 2021 15:21
Jakarta:  Mulyo Hadi Purnomo bukanlah nama yang asing bagi para pegiat penyiaran di Jawa Tengah dan Indonesia.  Dosen di jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro ini aktif sebagai pegiat seni di Semarang.
 
Mulyo juga pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Semarang serta terlibat dalam beberapa produksi film layar lebar. Sebagai akademisi Undip, pegiat seni, sekaligus menjabat Wakil Ketua KPI Pusat, Mulyo mengungkapkan bahwa amanah-amanah yang diembannya adalah untuk kemanfaatan bagi banyak orang atau hidup untuk sesama.
 
“Saya ingin agar hidup saya memiliki manfaat bagi orang lain, dalam bidang apapun, kalaupun menjadi seniman adalah seniman yang benar-benar bisa menghibur. Jika menjadi akademisi atau intelektual adalah yang bisa menyampaikan ilmunya dengan baik kepada mahasiswa dan bila menjadi komisioner KPI tentunya bisa menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya," kata Mulyo dikutip dari laman Undip, Kamis, 18 Maret 2021.

Melalui pendidikan sastra, kata Mulyo, turut memegang peran penting dalam mendorong dan mengembangkan wawasan berpikir kritis.  Tidak hanya itu, pendidikan Sastra juga membuka pemahaman masyarakat mengenai realita sosial, politik dan budaya.
 
Baca juga:  Jokowi: Sekolah Tatap Muka Dimulai Juli
 
Menurut Mulyo dari karya sastra, kita bisa belajar pengalaman hidup orang lain, mengasah sensitifitas batin atau nurani. Membaca karya sastra, kata Mulyo, tidak semata-mata membaca halaman awal hingga akhir saja, 
 
Melainkan juga mendapatkan pesan atau amanat apa yang terkandung dalam sebuah karya.  Selain itu akan meningkatkan daya kritis kita terhadap persoalan, lalu menganalisanya.
 
“Dalam karya sastra misalnya novel, banyak pembelajaran hidup yang bisa dijadikan pengalaman dan biasanya ending cerita selalu yang baik, klise memang, namun dari sanalah banyak pelajaran yang bisa dipetik bahwa segala sesuatu melalui proses-proses” lanjutnya.
 
Berbicara mengenai kehidupan sastra di Undip, menurutnya Fakultas Ilmu Budaya tidak mendidik mahasiswa untuk menjadi sastrawan, tetapi menjadi kritikus-kritikus sastra.  Bahkan jika ada yang bisa menulis puisi, menulis cerpen dapat menerbitkan novel.
 
Sedangkan harapannya untuk kemajuan Undip menuju World Class University, Undip harus terus mengembangkan, membangun dan menindaklanjuti kerja sama atau MoU dengan pihak-pihak lain karena hal tersebut sebagai keuntungan bagi Undip.
 
“Kerja sama dilakukan agar nama Undip menjadi semakin berkibar di dunia  internasional.  Selain itu dosen-dosen dan mahasiswa bisa menunjukkan eksistensinya di negara lain atau kampus lain, sehingga semakin terakui serta bisa saling bertukar pikiran dan pengetahuan” tandasnya. 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA