Tokoh ICMI lain adalah lima mantan mahasiswa Univeristas Brawijaya pemrakarsa seminar pendirian ICMI di Malang Tahun 1990, yakni Jusuf Kalla dalam Bidang Politik, Prof. Dr. Nasaruddin Umar dalam Bilang Moderasi Beragama, dan Dr. Saraswati Khasanah, Pendiri Alisa Khadijah. Dalam sambutan singkat setelah penganugerahan Din Syamsuddin, yang bulan lalu memprakarsai Forum Perdamaian Dunia Ke-9, menyatakan bahwa award ini adalah milik semua dan hasil karya bersama.
Menurutnya, capaian dan prestasi seseorang bukan karena dirinya sendiri tapi hasil kerja sama dan kebersamaan dengan manusia-manusia lain. Selanjutnya, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah dan Mantan Ketua Umum MUI Pusat ini mengatakan bahwa keberadaan ICMI sangat diperlukan bangsa Indonesia, karena bangsa dewasa ini menghadapi tantangan besar, berat dan kompleks serta complicated.
Kaum cendekiawan harus tampil sebagai penyelesai masalah (problem solver), bukan bagian dari masalah (part of the problem). Menurut pandangan Islam dan al-Qur'an, cendekiawan adalah ulama yang menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan, Ulul Albab yg mengdepankan daya rasional, dan Ulun Nuha yang mengedepankan daya spiritual dalam melakukan perubahan dalam kehidupan masyarakat dalam rangka menunaikan misi kemanusiaan membangun khilafah peradaban.
Dalam kaitan itu, Guru Besar Politik Islam Global FISIP UIN Jakarta ini mengharapkan ICMI tampil sebagai agen perubahan Indonesia, menggerakkan Reformasi Moral di tengah penyakit illiterasi moral (moral illiteracy) atau Tuna Aksara Moral yg melilit bangsa dewasa ini. Penyakit Tuna Aksara Moral ini banyak diindap orang-orang terpelajar, maka Kaum Terpelajar bermoral harus tampil mengatasinya. "Selamat 35 Tahun ICMI. May life begins at thirty five," pungkas Din.
| Baca juga: Tak Cuma Ngajar, Kampus Berdampak Bikin Petani Tenang dan Hasil Panen Berlipat |
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News