Dari belasan opsi bergengsi tersebut, Azizah akhirnya melabuhkan pilihan pada University of Toronto, Kanada. Langkahnya kian mantap berkat dukungan Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) dari Kementerian Agama (Kemenag). Di sana, ia akan mendalami ilmu Hubungan Internasional demi mewujudkan mimpi besarnya, yakni menjadi seorang diplomat.
Deretan 14 kampus yang berhasil ia tembus tersebar di berbagai belahan dunia. Mulai dari Monash University, University of Western Australia, RMIT, University of Auckland, hingga New York Touro College and University System.
Bahkan, beberapa kampus tak segan menyodorkan tawaran beasiswa bernilai fantastis, seperti International Student Grant senilai USD22.000 dari North Park University, beasiswa CA$8.000 dari University of Alberta, hingga Global Scholarship senilai NZ$15.000 dari University of Otago.
Bukan Sukses Semalam
Tentu saja, prestasi ngebut ini bukan hasil sistem kebut semalam. Azizah mengaku persiapan menuju kampus luar negeri telah ia rintis sejak lama.Mulai dari mengasah skor IELTS, melengkapi dokumen, hingga merancang esai aplikasi.“Yang pasti harus planning dengan matang. Dari akhir kelas 11, saya membuat rencana yang detail tentang berbagai kampus dan beasiswa yang saya ingin mendaftar, mulai dari negara, jurusan, kualitas universitas, persyaratan, lingkungan, prospek kerja, dan lain-lain,” ujarnya dikutip dari laman Kemenag, Rabu, 23 September 2026.
Portofolio akademiknya juga sangat meyakinkan. Rata-rata nilai rapornya bertengger di atas 91, disempurnakan dengan skor IELTS di atas 7. Menurut Azizah, konsistensi menjaga nilai ini jadi modal berharga untuk meyakinkan pihak admission kampus luar negeri.
Sempat Terhalang Restu
Menariknya, rencana study abroad ini tak langsung mulus. Restu orang tua sempat menjadi tantangan tersendiri, terutama terkait kecemasan soal biaya dan bayangan hidup di negeri orang.“Sejujurnya baru di kelas 11 akhir. Awalnya, orang tua saya belum merestui untuk berkuliah di luar negeri karena pertimbangan biaya dan kehidupan disana yang sangat tidak familier. Namun setelah banyak diskusi dan dorongan dari guru-guru Cambridge saya di MAN 4 Jakarta, saya akhirnya diizinkan untuk berkuliah ke luar negeri dengan syarat harus didanai beasiswa yang mendanai keseluruhan biaya (fully funded scholarship),” ungkapnya.
Di titik inilah ekosistem sekolah mengambil peran krusial. Para pendidik di MAN 4 Jakarta tak hanya membimbing Azizah secara akademik, tetapi juga memotivasinya mengeksplorasi bakat organisasi dan kompetisi.
"Guru-guru saya di MAN 4 Jakarta sangat mendukung untuk menekuni bidang yang saya suka seperti organisasi, kepanitiaan, dan lomba. Namun tentunya, mereka terus mengingatkan saya kepada tujuan utama untuk meraih kampus impian dan menyokong saya secara akademis,” kata Azizah.
Azizah Jihan Madina (kanan). Foto: Kemenag
CV Mentereng Sang Duta Moderasi
Track rekor Azizah di luar kelas pun tak kalah mentereng. Ia didapuk sebagai Duta Inisiator Muda Moderasi Beragama 2024 oleh Direktorat KSKK Madrasah Kemenag. Lewat peran ini, ia mewakili sekolahnya dalam Workshop Moderasi Beragama bagi Pelajar Lintas Negara MABIMS yang melibatkan siswa dari Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.Tak berhenti di situ, ia juga langganan juara lomba debat bahasa Indonesia tingkat nasional (2023 dan 2024) dan menyabet Juara 3 Lomba Menyanyi Bahasa Mandarin (2025). Kemampuan linguistiknya divalidasi dengan skor sempurna 200/200 pada ujian HSK 1.
Azizah juga aktif mengasah kemampuan diplomasinya lewat berbagai ajang Model United Nations (MUN) dan menjabat posisi strategis di kepengurusan OSIS serta Cambridge Club.
Melepas UI Demi University of TorontoFakta menarik lainnya, Azizah sebenarnya sudah mengamankan kursi di Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia (UI) lewat jalur SNBT pada Mei 2026. Namun, panggilan dari Kanada dan Beasiswa BIB membuatnya mantap mengundurkan diri dari kampus kuning.
Keputusannya memilih University of Toronto sangat strategis.“Pertimbangan utama saya memilih University of Toronto adalah karena cita-cita saya sebagai diplomat selinear dengan jurusan International Relations (Hubungan Internasional) yang mengharuskan saya membangun perspektif, paparan, dan koneksi internasional,” katanya.
Ia meyakini iklim akademik Kanada akan mengasah ketajamannya dalam merumuskan kebijakan global, khususnya yang bersinggungan dengan nasib pekerja migran Tanah Air. University of Toronto di Kanada menjadi pilihan saya di antara 14 LoA lainnya karena berbagai kesempatan yang tersedia di negara, kota, dan kampus.
University of Toronto merupakan universitas riset nomor 1 di Kanada, lingkungan akademisnya akan sangat mendukung studi saya untuk menelaah berbagai permasalahan dan isu lokal maupun global. "Ini juga akan menunjang rencana kontribusi saya berkenaan dengan perlindungan pekerja migran Indonesia,” tambahnya.
Sebagai visioner muda, Azizah juga sudah mengantongi backup plan.“Untuk saat ini saya yakin dengan plan A untuk menjadi diplomat, namun jika memang saya masih berproses merealisasikan hal tersebut, saya akan menjadi analis dan pembuat kebijakan publik mengenai kesejahteraan pekerja migran Indonesia,” ujarnya.
Membawa Misi Moderasi dan Manajemen WaktuSebagai lulusan madrasah, Azizah siap membawa identitas Islam moderat ke pergaulan internasionalnya di Kanada. “Alhamdulillah di tahun 2024 saya diamanahkan menjadi Duta Inisiator Muda Moderasi Beragama, program KSKK Madrasah," ujar Azizah.
Prinsip utama yang akan ia bawa sebagai ikon dari karakter moderat adalah yang pertama, inklusifitas, menghargai setiap keragaman dan perbedaan yang ada, terutama dalam lingkup internasional. "Nilai kedua adalah adaptif, di dunia yang dinamis ini, penting bagi pemuda pemudi Muslim untuk bersikap supel dan nonetnosentris, yaitu tidak melihat dunia dari kacamata pribadi, melainkan memposisikan diri dari perspektif orang lain,” katanya.
Ia juga mengungkapkan rahasia untuk segala capaian ini. Salah satunya Azizah sangat ketat dalam urusan manajemen waktu.
“Satu hal yang mungkin membedakan saya dengan orang lain adalah sistem untuk mengorganisir kegiatan sehari-hari. Saya menerapkan skala prioritas dan menggunakan tracker untuk memastikan semua kewajiban dan tujuan saya berjalan beriringan,” jelas Azizah.
Perjalanan Azizah menjadi bukti nyata bahwa kesuksesan menembus kampus global butuh orkestrasi yang matang, dari nilai akademik, kelancaran bahasa, ketajaman riset beasiswa, hingga kelincahan berorganisasi. Semua itu ia dedikasikan untuk satu muara: kembali dan berkontribusi melindungi para pekerja migran Indonesia di masa depan.