Ilustrasi. Foto: MI/Rommy Pujianto.
Ilustrasi. Foto: MI/Rommy Pujianto.

3 Peneliti BRIN Raih Penghargaan Unesco for Women in Science

Antara • 11 November 2021 10:28
Jakarta: Tiga peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil meraih penghargaan L’Oreal-Unesco for Women in Science 2021. Mereka ialah Peni Ahmadi dari Pusat Riset Bioteknologi untuk kategori life science, Fransiska Sri Herwahyu Krismatuti dari Pusat Riset Kimia, dan Febty Febriani dari Pusat Riset Fisika untuk kategori Non Life Sciences.
 
"Penghargaan ini diharapkan pula akan menjadi titik awal bagi sivitas yang bersangkutan untuk berprestasi lebih tinggi di masa yang akan datang dan menjadi penyemangat bagi para perempuan peneliti lainnya di pusat riset bioteknologi,” kata Kepala Pusat Riset Bioteknologi BRIN Ratih Asmana Ningrum dalam keterangan di Jakarta, Kamis, 11 November 2021.
 
Program For Women in Science (FWIS) diluncurkan di seluruh dunia sebagai bentuk dukungan bagi para ilmuwan perempuan yang bergerak di bidang ilmu pengetahuan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kategori bidang ilmu L’Oreal-Unesco FWIS 2021 meliputi Life Sciences dan Non-Life Sciences (Ilmu Material, Ilmu Bumi, Teknik, Ilmu Komputer, Matematika, Kimia, Fisika).
 
Baca: Selamat! Dosen Fakultas Biologi UGM Terima Penghargaan KLHK
 
Syarat penerima FWIS adalah perempuan, berusia maksimal 40 tahun per 30 November 2021, berpendidikan S3 atau sedang menjalani pendidikan S3. Proposal riset yang diajukan harus berdampak strategis bagi negara, berkelanjutan, dan menghasilkan kerja sama.
 
Ratih berharap prestasi yang diraih peneliti BRIN dapat menjadi motivasi bagi para ilmuwan perempuan untuk berkarya dan menghasilkan produk riset yang bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa bahkan dunia.
 
Peneliti Fransiska Sri Herwahyu Krismastuti mengajukan topik riset berjudul 'Zinc oxide Nanostructures from Galvanization Waste as Chronic Wound Prognostics'. Ia menuturkan, limbah galvanisasi mengandung zinc yang dapat diolah menjadi nano Zinc oxide (ZnO) dan pewarna alami dari kubis ungu yang dapat dimanfaatkan untuk prognosis luka kronis pada pasien diabetes.
 
Sementara itu, peneliti BRIN Febty Febriani mengajukan risetnya yang berjudul 'Assessment of Indonesian’s Crustal Heterogeneity Characteristic Based on Geomagnetic Data for Disaster Risk Reduction of Earthquake and Tsunami in Indonesia'.
 
Baca: BRIN Beberkan Penyebab Riset dan Inovasi Belum Jadi Pilar Pembangunan
 
Bagi Febty, riset tersebut penting untuk dikembangkan, karena Indonesia dikelilingi lempeng aktif tektonik, yang membuat kondisi kerak bumi Indonesia menjadi heterogen.
 
"Kondisi ini juga menyebabkan Indonesia menjadi negara dengan kondisi seismik dan vulkanik yang aktif. Hal ini ditandai dengan banyaknya gempa dan gunung api yang terjadi di Indonesia setiap tahun," ujar Febty.
 
Ia menjalankan risetnya berkolaborasi dengan berbagai pihak termasuk dengan Pusat Unggulan IPTEK Geomagnetik Universitas Mataram, Lombok. Khususnya, dalam menganalisa data geomagnetik untuk mengecek validitasnya sebagai prekursor gempa bumi.
 
Data geomagnetik itu dapat digunakan untuk mengetahui karakteristik kerak bumi Indonesia sehingga bisa memetakan bahaya, risiko dan kerentanan suatu daerah karena gempa.
 
(AGA)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif