Salma Putri Insani (kanan), penerima Beasiswa Amartha sekaligus ASEAN Chairman pada Model ASEAN Meeting di Albukhary International University. (Foto: Dok. Ist)
Salma Putri Insani (kanan), penerima Beasiswa Amartha sekaligus ASEAN Chairman pada Model ASEAN Meeting di Albukhary International University. (Foto: Dok. Ist)

Cerita Siswi Asal Padang Terima Beasiswa dan Belajar Sains di Kampus Luar Negeri

Medcom • 15 Februari 2026 09:00
Padang: Eny membesarkan anak-anak dengan satu keyakinan kuat, yaitu pendidikan sebagai jalan untuk mengubah masa depan. Ia berupaya membuka ruang bagi anak-anaknya untuk tumbuh, bermimpi, dan meraih cita-cita.
 
“Ibu ingin anak-anak punya kesempatan yang lebih luas yaitu lewat pendidikan supaya mereka bisa mewujudkan impian mereka,” ujar Eny, mitra usaha binaan Amartha.
 
Dari Lubuk Kilangan, Padang, Sumatra Barat, mimpi besar Salma, anak pertamanya, tumbuh. Kini, Salma yang merupakan penerima Beasiswa Amartha Cendekia Batch 1 tengah menempuh pendidikan di Universitas Albukhary, Malaysia.

Mimpi Jadi Ilmuwan

Salma memiliki cita-cita sebagai peneliti di bidang neuroscience. Ia ingin membangun masa depan riset yang tidak hanya kuat secara akademik tetapi juga memberi dampak nyata, khususnya untuk anak-anak. 

Ketertarikan ini tumbuh dari pengalamannya semasa sekolah, ketika ia melihat bagaimana lingkungan seringkali membantuk cara anak memandang dirinya sendiri.
 
“Aku melihat masih banyak orang menilai kemampuan hanya dari peringkat atau siapa yang jadi nomor satu. Padahal, cara kerja otam manusia jauh lebih luas dari itu. Otak kita sangat  adaptif dan itu yang membuatku semakin tertarik mempelajarinya,” ujar Salma.
 
Ia berharap riset yang ia lakukan dapat membantu anak-anak bertumbuh lebih sehat dan percaya diri sekaligus mendorong orang tua untuk mendampingi anak tanpa menghakimi.
 
“Aku juga bersyukur karena keluargaku, terutama orangtuaku sangat supportif dalam proses ini,” tambahnya.
 
Bagi Salma, neuroscience adalah bidang yang memberi ruang untuk memahami manusia secara  lebih utuh. 
 
“Aku pengen belajar hard skill yang benar-benar inti. Di neuroscience aku  mau belajar bagaimana memahami otak manusia bekerja dan bagaimana otak memproses  serta menghubungkan berbagai hal,” katanya.
 
Ia pun memilih menekuni computer science karena melihat keterkaitan yang kuat dengan neuroscience sekaligus menawarkan pendekatan yang lebih teknis sesuai dengan arah yang ingin ia dalami. 

Lebih dari Sekadar Beasiswa

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, Salma membangun jalannya dengan penuh inisiatif. Ia aktif mencari peluang beasiswa sebagai bagian dari langkah mandiri untuk menyiapkan masa depan akademik dan karirnya. Di saat yang sama, ia terus mengembangkan diri lewat  kompetisi, kegiatan organisasi, menjalankan proyek sosial atas inisiatifnya sendiri, hingga bergabung dengan LSM di bidang pendidikan.
 
Salma mengenal Beasiswa Amartha Cendekia dari keluarganya. Saat itu ia tidak berekspektasi tinggi untuk terpilih, namun saat dinyatakan lolos, Salma menyebutnya sebagai salah satu titik penting dalam hidupnya. 
 
“Aku sempat khawatir karena perjalanan akademikku kurang matang. Tapi ternyata Amartha dan kasih kesempatan,” tuturnya.
 
Beasiswa Amartha Cendekia hadir mendukung siswa-siswi kelas 11 di tingkat SMA/SMK di seluruh Indonesia melalui bantuan dana pendidikan senilai Rp3 juta dan program mentoring persiapan menuju Universitas selama satu tahun oleh Kakak Asuh dari kalangan profesional. 
 
Beasiswa ini juga memberikan dana pendidikan tambahan senilai Rp5 juta untuk anak-anak yang berhasil diterima di Universitas.
 
Lebih dari sekadar dukungan pendidikan, Salma merasakan kehadiran Kakak Asuh menjadi ruang  belajar yang membuka perspektifnya tentang masa depan dan karir.
 
“Kehadiran kakak asuh di Beasiswa Amartha bagi aku sangat berharga. Selama ini aku hanya  dapat perspektif dari ibu. Dengan adanya kakak asuh, wawasan aku terhadap kesempatan meraih pendidikan tinggi, memahami dunia kerja, dan cara menyusun prioritas  hidup jadi semakin terbuka,” jelasnya.

Jalan Panjang Menjadi Scientist

Salma menjadi salah satu penerima beasiswa Amartha yang berhasil melanjutkan studi hingga  perguruan tinggi. Ia diterima oleh berbagai macam universitas di dalam dan luar negeri.
 
Di tengah proses tersebut, Salma sempat merasa putus asa ketika beberapa beasiswa yang ia incar tidak membuka pendaftaran. Namun ia tidak berhenti mencoba. Ia mendaftar ke puluhan universitas di sejumlah negara seperti Kanada, Malaysia, dan Australia. Ia pun diterima di belasan di antaranya bahkan lolos ke universitas ternama seperti University of Melbourne dan University of Toronto.
 
Meski demikian, ia memilih Albukhary International University karena menawarkan program yang ditawarkan dinilai lebih sesuai dengan minatnya dan lokasi yang lebih dekat dengan  Indonesia. Bagi Salma, kunci dari perjalanan panjang ini adalah memiliki tujuan yang jelas. 
 
“As long as I have a purpose, I can do everything. Semuanya bisa masuk ke aku,” katanya.
 
Ia juga menyebutkan dukungan keluarganya sebagai bagian penting dari proses ini. 
 
“Sejak awal orangtua transparan soal kondisi ekonomi keluarga. Aku nggak mau membebani orang tua. Dari awal aku pengen kuliah full scholarship dan belajar mandiri,” ujarnya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ASM)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan