Jakarta: PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (Garudafood) kembali menyambangi kampus-kampus di Indonesia lewat inisiatif pendidikan bertajuk Sahabat Inspirasiku. Kali ini, berkolaborasi dengan Garudafood menggelar kuliah umum yang disambut antusias oleh lebih dari 350 mahasiswa lintas fakultas di Universitas Brawijaya (UB).
Mengusung tema "Creativity and Leadership", acara ini menghadirkan dua figur penting di dunia industri, yakni Direktur Garudafood Fransiskus Johny Soegiarto dan VP of HR dan GS salah satu stasiun televisi swasta. Acara dibuka secara resmi oleh Sekretaris Universitas UB, Dr. Tri Wahyu Nugroho, S.P., M.Si.
Sebagai alumnus Teknik Mesin UB, Fransiskus Johny membagikan kisah from zero to hero perjalanan Garudafood. Siapa sangka, korporasi yang bermula dari skala bisnis keluarga di Pati, Jawa Tengah, ini kini sukses merajai pasar fast-moving consumer goods (FMCG) di Indonesia. Kuncinya? Adaptasi dan transformasi digital tingkat tinggi.
Dari usaha keluarga di Pati, Garudafood tumbuh menjadi salah satu pemimpin fast-moving consumer goods (FMCG) di Indonesia karena kami terus beradaptasi. Beberapa tahun terakhir, kami membangun sistem terintegrasi dan memanfaatkan data, otomasi, serta kecerdasan buatan (AI) agar keputusan dapat diambil lebih cepat dan operasional lebih tangguh.
"Pendekatan ini juga memungkinkan kami untuk lebih agile dalam merespons perubahan di tengah ketidakpastian bisnis yang semakin dinamis. Bagi kami, teknologi adalah alat untuk menghadirkan produktivitas, ketangkasan, dan keberlanjutan bisnis,” ujar Fransiskus Johny dalam siaran persnya, dikutip Jumat, 2 Oktober 2026.
Satu dekade terakhir, Garudafood memang tancap gas melakukan digitalisasi manufaktur hingga efisiensi rantai pasok. Operasional mereka kini didukung Enterprise Resource Planning (ERP), smart manufacturing, hingga sistem keamanan berbasis AI.
Tak sekadar menunjukkan pencapaian perusahaan, Johny juga memberikan wejangan berharga bagi para mahasiswa Gen Z agar siap bertarung di dunia industri nyata.
“Generasi muda sekarang lahir di era digital, dan itu menjadi keunggulan besar. Tantangannya adalah menjadikan kemampuan itu sebagai solusi nyata, bukan sekadar pengetahuan. Mulailah dari masalah di sekitar, lalu belajar menyelesaikannya dengan data dan kolaborasi,” lanjutnya.
Di sisi lain, perusahaan juga unjuk gigi soal komitmen lingkungan. Sepanjang 2025, Garudafood sukses menggenjot konsumsi energi baru terbarukan (EBT) hingga 117 persen, menurunkan intensitas emisi gas rumah kaca sebesar 9,21 persen, hingga mendaur ulang 99 persen limbah organik untuk pakan ternak.
Rantai pasok mereka juga sukses memberdayakan lebih dari 460 petani kacang dan 4.400 peternak sapi perah. Langkah konkret Garudafood ini mendapat apresiasi penuh dari pihak kampus.
“Kami mengapresiasi Garudafood yang telah berbagi pengalaman langsung dengan mahasiswa kami. Semoga wawasan kreativitas dan kepemimpinan hari ini menjadi bekal mereka untuk memimpin dengan cara berpikir yang menyeluruh dan adaptif di masa depan,” tutur Tri Wahyu Nugroho.
Menariknya, acara ini juga menjadi momentum pengumuman kolaborasi strategis antara Garudafood dan UB. Keduanya tengah merintis pemanfaatan biofertilizer (pupuk hayati) inovasi Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) UB guna mendongkrak kualitas panen kacang tanah. Hingga September 2026, uji coba ini telah masuk musim tanam kedua di lahan seluas 625 meter persegi.
Sinergi antara industri dan sivitas akademika UB ini diharapkan bisa menjadi role model kolaborasi yang membawa kesejahteraan nyata bagi para petani mitra. Melalui pilar pendidikan Garudafood Sehati, program Sahabat Inspirasiku terbukti terus konsisten mencetak lulusan yang adaptif, inovatif, dan siap menghadapi disrupsi era digital.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan