Dua minggu sebelum pelaksanaan UTBK, Athalla mengalami kecelakaan yang mengharuskannya menjalani perawatan intensif hingga operasi. Waktu persiapan yang singkat, ditambah kondisi fisik yang belum pulih, sempat mengguncang mentalnya.
“Saya sempat putus asa, bahkan bilang ke orang tua tidak mau ikut UTBK. Apalagi ini pertama kali saya ikut, rasanya berat sekali,” ungkap Athalla dikutip Selasa, 28 April 2026.
Sejak kecil, Athalla telah memiliki ketertarikan pada dunia konstruksi. Ia gemar membuat dan merancang sesuatu dari berbagai material, yang kemudian menumbuhkan keinginannya untuk melanjutkan studi di bidang teknik sipil.
“Dari dulu saya suka ngebangun dan bikin sesuatu. Dari situ saya ingin serius mengejar bidang ini,” ujarnya.
Kecelakaan yang dialaminya menjadi ujian terberat menjelang UTBK. Dalam kondisi pascaoperasi, Athalla tidak hanya menghadapi rasa sakit, tetapi juga tekanan mental yang cukup besar. Di titik inilah dukungan orang tua menjadi kekuatan utama yang membangkitkan semangatnya.
“Orang tua terus kasih semangat. Dari situ saya sadar, kesempatan tetap ada walaupun kondisi kita seperti ini,” katanya.
Dengan tekad yang kuat, Athalla tetap berusaha belajar di tengah keterbatasan, bahkan saat menjalani masa pemulihan. Baginya, mengikuti UTBK bukan semata soal hasil, tetapi tentang keberanian untuk terus berusaha meraih mimpi.
“Saya ingin menjadi mahasiswa, membanggakan orang tua, dan suatu saat bisa berguna bagi masyarakat,” tuturnya.
Pada hari pelaksanaan UTBK, IPB University memberikan perhatian khusus terhadap kondisinya. Athalla mendapatkan prioritas akses serta pendampingan penuh dari panitia dan petugas hingga ke ruang ujian.
“Saya sangat terbantu. Dari awal datang sampai ke ruang ujian, panitia dan petugas benar-benar peduli,” katanya.
Ia pun membagikan pesan bagi peserta lain yang tengah berjuang menghadapi UTBK. “UTBK memang berat, apalagi kalau pertama kali. Tapi jangan takut mencoba. Jangan menyerah walaupun kondisi kita sulit,” pesannya.
Sementara itu, sang ayah, Margono turut menyampaikan harapannya agar putranya dan para pejuang pendidikan lainnya tetap kuat menghadapi tantangan. “Jangan patah semangat. Semua pasti mendukung. Maju terus, kejar cita-cita,” ujarnya.
Kisah Athalla menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk melangkah. Dari kursi roda, ia tetap menatap masa depan dengan penuh keyakinan bahwa usaha, doa, dan dukungan keluarga mampu mengantarkannya menuju mimpi yang diimpikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News