Atas perjalanan panjang tersebut, peneliti dan akademisi Universitas Indonesia (UI) itu menerima Sarwono Award 2026. Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas dedikasi Jatna dalam penelitian, pendidikan, serta upaya konservasi keanekaragaman hayati Indonesia.
Perjalanan Jatna di dunia konservasi bermula ketika dirinya masih menjadi mahasiswa. Ia ikut dalam penelitian di Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, untuk mempelajari orangutan dan lutung merah bersama ahli primata dunia, almarhum Birute Galdikas-Brindamour.
"Saya ikut penelitian pada waktu mahasiswa di Kalimantan Tengah, di Tanjung Puting. Kami mengadakan penelitian mengenai orangutan dan juga lutung merah," ujar Jatna dalam YouTube BRIN dikutip Selasa, 25 Agustus 2026.
| Baca juga: Rumah Modular BRIN Kokoh Tahan Gempa NTT, Intip Spesifikasinya |
Penelitian tersebut menjadi pengalaman awal yang membentuk perjalanan panjangnya. Ia menghabiskan sekitar sembilan bulan di dalam hutan tanpa pulang untuk melakukan penelitian.
Dari pengalaman lapangan itu, kiprah Jatna berkembang dari peneliti menjadi penggerak konservasi. Ia pernah memimpin Conservation International di Indonesia selama 15 tahun dan terlibat dalam berbagai jejaring konservasi nasional maupun internasional.
Di lingkungan akademik, kontribusinya juga diwujudkan melalui pembangunan ruang kolaborasi riset dan pendidikan. Di antaranya Research Center for Climate Change UI, Institute for Sustainable Earth and Resources, serta SDGHUB FMIPA UI.
Bagi Jatna, konservasi tidak cukup mengandalkan penelitian mengenai spesies dan ekosistem. Ia melihat upaya menjaga keanekaragaman hayati harus dibangun melalui tiga pilar yang saling berkaitan.
"Kami ingin bahwa konservasi itu ada tiga pilar. Pilar pertama tentu adalah mengetahui dasar-dasar ilmiah untuk konservasi. Pilar kedua adalah ekonomi dari konservasi dan biodiversity itu apa. Yang ketiga, bagaimana pemanfaatan oleh masyarakat," tutur dia.
Pemikiran tersebut kemudian dibawa Jatna ke berbagai jejaring konservasi dunia. Termasuk di International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan UN Sustainable Development Solutions Network.
Sepanjang perjalanan akademiknya, Jatna telah menghasilkan lebih dari 240 artikel ilmiah dan 30 buku. Kiprahnya dalam penelitian keanekaragaman hayati bahkan turut diabadikan melalui penamaan sejumlah spesies, yakni Tarsius supriatnai, Draco supriatnai, dan Cyrtodactylus jatnai.
| Baca juga:
|
Berbagai penghargaan nasional dan internasional sebelumnya telah diterima Jatna. Namun, Sarwono Award 2026 memiliki makna tersendiri bagi Jatna karena penghargaan tersebut berkaitan dengan sosok Prof. Dr. Sarwono Prawirohardjo, tokoh yang memiliki peran penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia.
"Pak Sarwono dulu kan memang inisiator dari pengembangan ilmiah di Indonesia. Jadi saya sebagai generasi penerus tentu sangat menghargai penghargaan ini," kata dia.
Jatna menilai penghargaan tersebut bukan menjadi titik akhir. Ia justru berharap perjalanan penelitian dan konservasi dapat diteruskan oleh mahasiswa serta generasi berikutnya.
"Selain saya terus akan melakukan penelitian, juga mungkin mahasiswa saya atau generasi ke depan bahwa kita ini hutan dan seisinya itu merupakan sumber daya alam yang bukan main," harap dia.
Perjalanan Jatna menunjukkan penelitian tidak berhenti pada penemuan di laboratorium maupun hutan. Ilmu pengetahuan dapat berkembang menjadi gerakan yang mendorong masyarakat memahami, memanfaatkan, sekaligus menjaga kekayaan alam Indonesia untuk generasi mendatang.
| Baca juga: Prabowo Luncurkan MoLiNas, BRIN Siap Perkuat Ekosistem Kendaraan Listrik |
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda